Ratu Surga

74
Ratu Surga
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Saya menulis tentang Maria karena Bulan Mei adalah Bulan Maria. Saya kaitkan dengan perayaan agung itu. Antifon Maria masa Paskah ialah Regina Caeli. Seseorang bertanya, “Kok Maria tidak disebut di sekitar Kebangkitan?” Padahal, “Dalam Kisah Sengsara Jumat Agung, Maria ada di kaki salib” (Yoh 19:26-27). Sesudah itu Maria tidak disebut. Ia baru muncul pada Pentakosta, saat murid berkumpul di ruang atas di Yerusalem (Kis 1:12-14). Seakan liturgi “melupakan” Maria. Tidak. Liturgi tidak melupakan dia. Gereja mengingatnya lewat antifon, Regina Caeli: Regina Caeli, laetare, Alleluya. Quia quem meruisti portare, Alleluya. Resurrexit, sicut dixit. Alleluya, Ora pro nobis Deum, Alleluya. Tetapi mengapa Maria bersukacita? Adakah dasarnya?

Kita tahu Triduum Paskah berakhir Minggu Paskah sore (dimulai Kamis Putih, yang dilewati dengan sukacita, bahagia). Jumat Agung dilewati dalam duka, sunyi, luka hingga Sabtu Paskah. Pada Minggu Paskah, hal itu dipuncaki dengan sukacita mendengar kabar Kebangkitan. Pada Minggu Paskah, sulit dibayangkan penutupan Triduum Paskah tanpa Maria, yang tidak disebut dalam injil perayaan Paskah.

Tetapi Injil Yohanes teliti mencatat kehadiran Bunda di kaki salib, bersama dua orang lain (Yoh.19:25; Kisah Sengsara). Di sana kita dengar kisah yang menyentuh. Sebelum wafat-Nya, Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada “murid yang dikasihi”. Sejak itu murid tadi menerima dia dalam rumahnya (bdk.,Yoh.19:26-27). Jadi, Maria dekat pada peristiwa Yerusalem.

Walau Injil-Injil tidak menyebut Bunda sebagai saksi Kebangkitan, tetapi secara religius-imajinatif kita dapat membayangkan bahwa ia ikut mendengar kabar penemuan makam kosong. Dia juga tahu (ia tinggal di rumah murid yang dikasihi) bagaimana murid itu berlari ke makam setelah mendengar kabar Maria. Kiranya Bunda hadir di makam itu. Tidak ada alasan untuk menyingkirkan hal ini, sebab ia ada dekat tempat itu.

Kita bisa mengisi “kekosongan” karena bisunya penginjil terkait dengan bunda pada kebangkitan dengan imajinasi-religius. Misalnya kita andaikan bahwa dia mendapat kabar kebangkitan itu. Saat mendengarnya, ia percaya. Mudah juga kita bayangkan bahwa Kristus yang bangkit menampakkan diri kepadanya untuk pertama kali sebelum kepada yang lain tetapi digembar-gemborkan. Bunda adalah model murid yang menerima Firman dan merenungkannya dalam hatinya (Luk 2:51).

Atas dasar itu, kita bisa bayangkan bahwa Bunda pasti peka terhadap “tanda” yang dikerjakan Anak-Nya dan memahami semua hal itu dalam terang Kitab Suci. Kita tidak usah mengganggu meditasi dan keheningan dia, sebab penginjil, khususnya Yohanes, menghormati meditasi dan keheningan itu justru dengan tidak berkata apa-apa tentang hal itu. Begitulah saya menjelaskan fakta “kebisuan” para penginjil tentang ketidak-hadiran Bunda di sekitar Paskah.

Kita jumpai Bunda di Yerusalem, di ruang atas bersama murid. Mereka berkumpul dan berdoa, menantikan Roh (Kis 1:12-14). Setelah ini, Kitab Suci membisu tentang Bunda. Kita tidak menyangkal bahwa ia terpilih menjadi bunda yang mengandung dan melahirkan Penyelamat. Ia hadir bersama murid saat Gereja lahir (Pentakosta). Walau ia memainkan peranan agung seperti itu, bunda Maria tetaplah sosok hamba Tuhan yang rendah hati dan hina-dina. Itu sebabnya pada Minggu Paskah sore kita mengikutsertakan Bunda dalam sukacita kaum beriman karena Kebangkitan. Gereja menyanyikan “Regina Caeli”. Umat bersukacita karena Kebangkitan. Maria, Ratu Surga, diundang dalam sukacita itu.

Fransiskus Borgias M.

HIDUP NO.21 2019, 26 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here