Paguyuban Semar Senja : Melestarikan Budaya, Mempererat Persaudaraan

63
Semar Senja berpartisipasi dalam kegiatan Pesta Perak Paroki Jagakarsa.
[Dok. Semar Senja]
Paguyuban Semar Senja : Melestarikan Budaya, Mempererat Persaudaraan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Seni telah menjadi pintu masuk untuk mewartakan kabar gembira di tengah keberagaman. Paguyuban ini telah menjadi saksi damai bahwa persatuan adalah keniscayaan.

Alunan musik gamelan terdengar sayup-sayup di sepanjang selasar Panti Asuhan Desa Putra, Depok, Jawa Barat. Para pemain tampak sangat khusyuk memainkan instrumen masing-masing. Gamelan Jawa yang terdiri dari berbagai instrumen, antara lain kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, peking (gamelan), kenong, kethuk, slenthem, gender, gong, dan gambang dimainkan dengan begitu bersemangat. Sesekali terdengar ada kesalahan nada.

Walaupun demikian, mereka sangat telaten menabuh gamelan. Ketika tempo permainan mulai meningkat, kian bertambah antusiaslah mereka. Gelora mereka kian terasa ketika menyemarakkan Pesta Perak Paroki Ratu Rosari Jagakarsa, Syukuran penerimaan Sakramen Penguatan, dan Pemberkatan Taman Doa Maria Ratu Rosari pada Minggu, 5/5, di Aula Desta Graha Kapel Desa Putra.

Terlihat seorang bruder berjubah putih sedang asik menabuh gambang dan seorang perempuan paruh baya berhijab sedang bersinden. Keduanya terlihat larut dalam perannya. Matanya menunjukkan kesejukan yang direngkuh dari hasil harmonisasi nada gamelan tersebut. Tak menunggu lama, kedua pembawa acara berbusana adat Jawa Tengah langsung memperkenalkan seluruh pemain gamelan sebagai Paguyuban Semar Senja. Tepuk tangan segera membahana memenuhi aula.

Pantang Bubar
Pesta Perhimpunan Vincentius ke-160 tahun menjadi faktor pendorong awal mula dibentuknya paguyuban ini. Penasihat Paguyuban Semar Senja, Bruder Tarcisius Kasino BM menceritakan pada tahun 2015, Panti Asuhan Desa Putera mengadakan berbagai kegiatan untuk merayakan pesta akbar Perhimpunan Vincentius. Oleh karena banyak umat berasal dari Jawa di Paroki Jagakarsa, mereka meminta diadakan pagelaran wayang kulit untuk menambah kegembiraan acara.

Bruder Tarcisius menyanggupi, permintaan umat tersebut dengan menyediakan dana, walaupun tidak bisa memberikan pendampingan total. Tak disangka, banyak umat mendaftar menjadi sukarelawan untuk pagelaran ini. Kemudian, mereka secara sukarela dan mandiri mengorganisir pagelaran wayang kulit. “Ada sekitar 30 orang yang berpartisipasi lalu dengan berbagai kegiatan latihan semakin bertambahlah jumlah mereka,” ungkap bruder.

Ketua Paguyuban Semar Senja, Yohanes Santoso mengiyakan penuturan penasihatnya. Ia menambahkan, akibat eratnya ikatan dari kepanitaan pagelaran akhirnya kepanitian ini sepakat untuk membentuk suatu kelompok yang sifatnya untuk meningkatkan ikatan persaudaraan dalam artian menunjang kegiatan gereja dalam bentuk seni. Oleh karena anggota banyak berlatar belakangkan etnis Jawa, maka kelompok itu menamakan paguyuban khusus Penggemar Seni Jawa ini sebagai Seniman dan Penggemar Seni Jawa atau yang dikenal sebagai Semar Senja. “Kita tidak menutup diri bahwa anggota paguyuban ini hanya orang paroki saja. Umat non-Katolik pun kita akomodir ajak untuk bergabung,” imbuhnya.

Paguyuban ini diresmikan pada malam 1 Suro 1437 atau sabtu 13 Oktober 2015. Untuk itu, mereka sepakat setiap malam 1 Suro para anggota akan berkumpul agar mereka bisa berefleksi bersama. Santoso menjelaskan, dalam budaya Jawa mengenang 1 Suro yang adalah tahun baru Muharam dipercaya oleh orang jawa untuk “ngalap berkah” atau ‘hari yang baik’. “Jadi kita percaya di malam itu Kerahiman Allah itu banyak. Sebagian besar orang jawa ikut ngalap atau menghormati hal semacam itu untuk ikut berinteraksi dengan Allah itu sendiri dengan mengadakan misa.”

Merawat Warisan
Semar Senja memiliki misi untuk mengembangkan musik Jawa menjadi musik yang tidak akan punah atau lekang oleh waktu. Santoso menambahkan, misi paguyuban juga ingin menggali, memperdalam, dan menumbuh kembangkan musik Jawa itu sendiri. Misi ini dicapai dengan mengadakan banyak kegiatan yang berorientasi pada seni Jawa. Pada bidang seni gerak dikembangkan tarian. “Tarian kita sudah ada beberapa grup yang sudah kembangkan yakni Seni Warog, Seni Reog, dan Seni Tari lainnya,” jelasnya.

Sedangkan untuk seni panggung, paguyuban telah mementaskan beberapa kali ketoprak seperti pada pentas Ketoprak Kebangsaan Republik Indonesia yang diadakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berkolaborasi dengan lima paroki di Keuskupan Agung Jakarta. Dalam rangka Tahun Persatuan dan memperingati Sumpah Pemuda di Teater Garuda. Semar Senja berperan sebagai mentor di dalam pementasan ini.

Sedangkan untuk seni Karawitan peminatnya sudah banyak. Saat ini yang sudah berjalan pesat adalah seni Karawitan kelas profesional (mahir). Anggota kelas ini sudah banyak mengiringi acara ketoprak. Sekarang juga sudah mulai digalakkan kelas pemula yang belum memiliki pengetahuan sama sekali mengenai musik gamelan.

Paguyuban juga ingin menyasar dan mengembangkan Karawitan khusus kaum muda. Pembelajaran akan dimulai bersama karawitan anak-anak Panti Asuhan Desa Putera. “Jadi kita akan mencoba menggali dari yang kecil, yang muda, yang setengah tua, dan yang tua. Itu yang akan kita kembangkan,” ungkapnya.

Untuk Gereja
Memuliakan Tuhan dengan talenta melalui seni Jawa juga menjadi sasaran misi Semar Senja. Hal ini terbukti dengan pelayanan yang diberikan baik bagi paroki maupun keuskupan. Setiap malam 1 Suro paguyuban mengadakan Misa Syukur. Mereka juga melibatkan diri dalam kegiatan liturgi seperti misa, mengisi kor, dan menjadi tatib, khususnya dalam misa inkulturasi budaya Jawa di Paroki. Lalu pada ulang tahun KAJ ke-212 bersama dengan Komisi HAAK mewakili Paroki Jagakarsa berpartisipasi dalam jalan santai dan ditutup dengan pentas seni di halam depan Gereja Katedral.

Paguyuban yang telah memiliki anggota sekitar 100 hingga 110 orang ini juga telah berkiprah di luar keuskupan. Pada bulan April lalu, Semar Senja diundang untuk mengisi kegiatan “Selendang dan Blankon Bersatu” yang dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Dalam acara itu, Semar Senja menampilkan kesenian Reog tradisional dari daerah Yogyakarta yang disebut Bendhe Mataram. Pada tanggal 7 April juga paguyuban dengan Bendhe Mataramnya mewakili provinsi Daerah khususu ibukota Jakarta dalam Gebyar Budaya di Kabupaten Bogor.

Menemukan Kedamaian
Tidak hanya belajar budaya, para anggota juga kerap menimba kedamaian di dalam paguyuban. Seorang tentara dari korps angkatan darat, Setiyanto mengaku menemukan perubahan sikap ketika bergabung dengan paguyuban ini. Umat lingkungan Paulus II yang terbiasa dengan kehidupan keras militer ini mengaku bisa mengurangi tingkat emosionalnya. “Saya jadi terbantu menghayati menjiwai hidup menggereja lebih lembut,” akunya. Sejak bergabung bersama Semar Senja, ia belajar untuk memainkan kenong. Butuh kesabaran untuk memainkan alat musik ini. Jadilah ia banyak menggunakan hati dan perasaan dibandingkan otot.

Wakil Ketua Semar Senja, Fabianus Moegino juga mengamini efek melembutkan dari musik jawa. Baginya, musik Jawa memang membawa kesejukan, ketenangan, dan rasa tentram baik yang mendengar atau memainkan. “Walaupun bermain hingga larut malam, musik jawa tidak akan pernah mengganggu karena memang membawa kesyahduhan tersendiri,” ungkapnya.

Selain itu, Semar Senja mampu menghimpun damai persatuan dan memupuk kebhinekaan. Sartini, pesinden berhijab mengaku senang bisa bergabung dengan Semar Senja walaupun dipelopori oleh umat Katolik. Bruder Tarcisius juga setuju dengan hal tersebut. “Melalui kesenian itulah kita bisa bermasyarakat lebih plural dan tanpa sekat untuk mewartakan kabar gembira,” pungkasnya.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.22 2019, 2 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here