Paroki St Maria de Fatima Toasebio : Solidaritas Tionghoa untuk Kesadaran Iman

62
Beberapa umat dari Paroki St Yakobus Kelapa Gading berziarah ke Gua Maria de Fatima Paroki Toasebio.
[HIDUP/Felicia Permata Hanggu]
Paroki St Maria de Fatima Toasebio : Solidaritas Tionghoa untuk Kesadaran Iman
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Demi membangun kesadaran iman lebih besar, umat Tionghoa berziarah kepada Maria Fatima, untuk menimba iman yang kemudian diwujudkan dalam kehidupan.

Sekelompok peziarah dari Paroki St Yakobus Kelapa Gading tengah mengagumi arsitektur khas Tionghoa yang mendominasi bangunan Paroki St maria de Fatima, Toasebio, Jakarta Barat. Jika tidak jeli memperhatikan papan nama, kebanyakan orang akan menyangka bangunan salah satu paroki tertua di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ini sebagai sebuah klenteng.

Bagaimana tidak, tampak depan bangunan dan eksterior gereja di dominasi oleh warna merah dan kuning keemasan. Tak luput, ada dua patung lion mengapit pintu masuk gereja. Ukiran serta konstruksi kayu sebagai bagian dari kekhasan arsitektur Tionghoa juga muncul pada pintu dan atap yang melengkung. Di bagian dalam gereja, terlihat tabernakel yang mirip dengan meja persembahan masyarakat Tionghoa. Semula, bangunan gereja diperuntukkan sebagai rumah tinggal, lalu beralih fungsi menjadi gereja.

Kepala Paroki St Maria de Fatima Toasebio, Pastor Fernando Abis SX memaparkan, mayoritas umat di parokinya adalah keturunan Tionghoa. Diakui 90 persen umat merupakan keturunan Tionghoa. Ia menjelaskan, Komunitas Mandarin bisa dikatakan menjadi penyebab berdirinya paroki. Maka dari itu, Komunitas Mandarin yang ada di Paroki Toasebio ini dirawat sebaik mungkin. Selain memfokuskan pada pengembangan pastoral bahasa Mandarin, Pastor Fernando juga menyoroti perkembangan kesadaran iman umat.

Pastor yang pernah melayani umat Mentawai ini bertutur, kebutuhan spiritual umat Tionghoa adalah mengerti untuk tidak menyamakan relasi dengan Tuhan bak relasi dagang. “Tidak boleh tawar menawar dengan Tuhan. Jangan sampai umat mencari Tuhan karena mengharapkan sesuatu, bukan karena mau memenuhi harapan Tuhan kepada kita,” ungkapnya.

Guna mengarahkan spiritualitas materialistis menuju pencarian keajaiban Tuhan dalam kehidupan, Pastor Fernando mendorong kerinduan umat untuk berjumpa dengan Tuhan melalui ekaristi. Ia juga mengingatkan umat untuk rutin menerima Sakramen Tobat. Selain itu, umat juga diajak untuk mencari dan melihat Tuhan dimana pun. “Hasilnya akan bisa dituai pada generasi berikutnya. Sekarang mulai menanam spiritualitas sejati murid Kristus,” imbuhnya.

Selain itu, untuk semakin mempererat kebersamaan umat menuju kesadaran iman yang lebih besar, Pastor Fernando mengadakan sebuah kegiatan yang disebutnya sebagai “program nekat”.

Dengan pelindung St Maria Fatima, maka umat Paroki Toasebio memiliki devosi yang sangat dekat dengannya. Tahun 2017, peringatan seabad penampakan di Fatima. Tahun itu diadakan “gerakan Maria” yang memuncak pada 13 Oktober tahun yang sama, saat penampakan terakhir Bunda Maria sekaligus ulang tahun paroki. “Jadi waktu itu ada semangat penuh melatih dan menjalankan amanat Fatima dengan beberapa kegiatan praktis di lingkungan maupun paroki,” ungkap Pastor Fernando.

Tidak berhenti di situ, umat juga mengadakan gerakan ziarah paroki ke situs penampakan Bunda Maria di La Sallate, Lourdes, dan Fatima. Program ini telah membuka pendaftaran dua tahun sebelum keberangkatan dengan sistem menabung. Tujuannya agar bukan hanya umat yang mampu secara ekonomi saja yang dapat berangkat . Sistem menabung dilakukan dengan 15 kali setoran. Hasil kelebihan tabungan akan digunakan sebagai subsidi silang.

Melalui ziarah ini, Pastor Fernando mengharapkan ada suatu pengalaman rohani yang diperoleh dengan menempatkan diri seperti sikap orang berjalan yakni sabar dan mengarah pada tujuan. Suatu peziarahan menjadi pengalaman praktis, bahwa orang bisa bertemu dengan kenyataan ilahi, sehingga bisa dibawa kepada kehidupan sehari-hari kelak. “Semoga umat bisa memiliki disposisi batin dari pagi sampai malam ber ziarah mencari Tuhan dalam program ini, sehingga meninggalkan suatu keyakinan diri bahwa saya bisa melatih disiplin rohani,” tandasnya.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.22 2019, 2 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here