Asrama Putra St Fransiskus Assisi dan Asrama Putri St Theresia Saribudolok : Belajar Menjadi Hamba

89
Asrama Putra St Fransiskus Assisi, Saribudolok.
[HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Anak-anak asrama St Fransiskus Assisi Saribudolok diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang memiliki semangat kesederhanaan dan persaudaraan.

“Surga para petani”, begitu sebutan untuk Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Plesir ke desa ini, orang akan menemukan lahan pertanian yang begitu luas. Ratusan hektar perkebunan jeruk, sayur, dan tanaman lainnya menjadi teman perjalanan memasuki desa ini melalui Kota Barastagi. Udara dingin, dengan masyarakat yang ramah membuat semua orang merasa diterima di desa ini.

Tak hanya lahan pertaniannya yang luas, di Saribudolok panggilan hidup selibat juga begitu subur. Paroki St Fransiskus Assisi Saribudolok tercatat sebagai paroki penghasil biarawan-biarawati terbanyak di Keuskupan Agung Medan (KAM). Paroki ini sering diidentikkan dengan “paroki para malaikat”, karena banyak pastor, suster, frater, dan bruder yang berasal dari paroki ini.

Kebutuhan Sekolah
Kepala Paroki Saribudolok Pastor Angelo PK Purba OFMCap mengatakan, salah satu kekuatan terbesar paroki ini adalah kehadiran asrama yang berlatar belakang iman Katolik. Di sini, asrama menerapkan pola hidup disiplin dan hidup rohani yang kuat. Tidak heran, banyak anak asrama yang terpanggil menjadi biarawan atau biarawati.

Asrama yang cukup terkenal di Saribudolok adalah Asrama Putra St Fransiskus Assisi dan Asrama Putri St Theresia. Pastor Angelo menceritakan, pendampingan di kedua asrama ini sudah ada sejak tahun 1954. Awalnya, kedua asrama ini hanya terdiri dari satu asrama. Saat itu, asrama dibangun untuk menampung siswa-siswi dari luar yang bersekolah di Kota Saribudolok. Saat itu, pengelolaan ditangani oleh Suster-suster Fransiskan Dina (SFD). Setelah beberapa tahun para Suster SFD menyerahkan pengelolaan asrama ini kepada Paroki Saribudolok.

Walau dengan fasilitas yang sangat sederhana saat itu, Pastor Angelo mengatakan, anak-anak didik dalam disiplin hidup yang kuat. Mereka dididik membangun dunia dan Gereja seturut karisma St Fransiskus Assisi, yaitu semangat persaudaraan dan kesederhanaan. “Mereka hidup dalam kesederhanaan seperti memasak sendiri dan cari kayu bakar sendiri,” cerita Pastor Angelo.

Kendati hidup serba terbatas, kualitas kepribadian tak diragukan. Hal ini membuat orang tua yang mau menyekolahkan anak mereka di Saribudolok, sangat berkeinginan supaya anak mereka masuk asrama. “Jadi secara tidak langsung kehadiran asrama ini sangat memberi dampak positif bagi keberadaan sekolah-sekolah Katolik di Saribudolok,” ujar Pastor Angelo.

Melihat keinginan-keinginan orang tua, pihak paroki lalu melebarkan asrama tersebut. Dulunya, asrama hanya menampung anak-anak SMP lalu berkembang menjadi asrama bagi anak-anak SMA. Saat itu berdiri juga SMA Duijnhoven Saribudolok.

Pastor Angelo melanjutkan, semakin bertambahnya anak, muncul pemikiran untuk pembangunan asrama dan fasilitas yang layak. Pengembangan ini termasuk juga memisah asrama menjadi dua, satu untuk anak-anak putri, dan satu lagi untuk putra. Pastor Paroki Saribudolok lalu menawarkan pembangunan dan pengelolaan Asrama Putra St Fransiskus Asisi kepada Ordo Kapusin Propinsi Medan. Sedangkan untuk Asrama Putri St Theresia, paroki menyerahkan pengelolaannya kepada Tarekat Suster-Suster Fransiskus Dina (SFD).

Dua tarekat ini menyambut baik ide ini. Meski terbatas secara finansial, pencarian dana dilakukan dengan mengajukan proposal kepada donatur di Belanda. Lewat para donatur, berdirilah asrama putra dan putri hingga sekarang. Tahun 1999 Asrama Putra dibangun terpisah dari Asrma Putri, seberang-menyeberang, di Jalan Kabanjahe -Saribudolok. Pembangunan selesai dan diresmikan pada tanggal 17 Februari 2001.

Belajar Kehidupan
Di asrama ini, banyak karya bisa dikembangkan. Anak-anak tidak saja mendapat pelajaran formal di sekolah tetapi juga ragam pekerjaan mereka jalani. Pastor Angelo mengatakan, semangat memandang diri sebagai hamba yang senantiasa taat pada aturan, hamba yang menahan diri dari berbagai godaan menjadi prioritas utama di asrama ini. “Kami ingin mengajak mereka agar kalau bisa jangan membangun daerah tetapi keluar membangun dunia. Dan pendidikan karakter di bentuk lewat hal-hal sederhana di asrama ini,” ungkapnya.

Disebutkan banyak karya berkembang di tempat ini. Anak-anak bisa memelihara babi, bebek, dan kambing. Setiap hari mereka dibagikan jadwal untuk membersihkan dan memberi makan ternak-ternak tersebut. Hasil penjualan ternak-ternak itu untuk kebutuhan asrama.

Anton Saragih, seorang anggota asrama menuturkan, bertemu banyak orang dengan ragam kepribadian membuat masing-masing belajar mengerti dan memahami orang lain. Hal yang disukai kadang belum tentu disukai oleh orang lain. “Tidak bisa memaksakan kehendak kita agar diikuti orang lain. Kita masing-masing belajar rendah hati,” ujarnya.

Meski banyak pengalaman senang, Anton mengakui ada juga berbagai kejenuhan sebagai anak asrama. Paling tidak mengenakan adalah ketika bertengkar dengan teman. Tidak berbicara dengan teman se-asrama itu aneh dan membuat hidup kita tidak aman. “Maka kami diajarkan untuk belajar menjaga perasaan orang lain,” pungkas Anton.

Di balik semua itu, Anton mengakui ada banyak kesempatan untuk mengasah minat dan bakat. Di asrama ini, alat-alat musik cukup lengkap dan memudahkan anak-anak untuk bermain musik sesuai keinginan mereka. Mereka diminta memilih alat musik baik gitar, organ, sampai seruling. Kadang-kadang juga paroki mengundang mereka untuk tampil pada acara-acara paroki.

Karena itu, Anton mengakui, bila hari libur ada perasaan rindu untuk cepat-cepat ke asrama. Di kampung, untuk berolahraga misalnya main bola kaki, harus mencari dan saling mengajak teman. Sementara di asrama, saat jam olahraga semua harus berebutan masuk lapangan, agar punya kesempatan bermain. Begitulah pengalaman yang muncul dalam hidup berasrama.

Hal ini juga diungkapkan alumni asrama Marchel Purba. Ia menceritakan, bahwa hidup di asrama St Fransiskus Saribudoloki, anak-anak diajarkan untuk tahu pimpin doa. Ia ingat persis ketika pertama kali dari kampung ke Saribudolok, ia tidak bisa memimpin doa. Tiga bulan digembleng di asrama itu, ia harus berani memimpin doa. “Kalau tidak berani saya malu kepada teman-teman. Saya tidak mau ditertawakan. Kadangkadang doa yang sudah saya hafal itu saya bawakan selama tiga tahun berada di asrama itu,” cerita Marchel.

Marchel senang karena nilai-nilai kepemimpinan di dapat di asrama tersebut. Moto asrama ini adalah dic cur hic? Artinya ‘engkau berada di sini?’ ingatlah tujuan hidupmu. Para pastor yang menjadi pendamping juga sangat memahami kebutuhan-kebutuhan anak-anak asrama. “Ketika saya menjadi pegawai negeri dan pemerintah mengharapkan kedisiplinan, saya tidak kesulitan karena saya sudah mendapatkannya saat di asrama itu.”

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.23 2019, 9 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here