Politik Diaspora

40
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pada Hari Raya Pentakosta Pertama, lidah-lidah api seakan-akan menyuruh para rasul masuk ke dalam dunia. Para rasul dengan berani menyebar ke seluruh dunia. Mereka mewartakan Yesus yang mereka imani di Alexandria, Antiokia dan Roma, bukan dalam bentuk komunitas besar, tetapi dalam komunitas-komunitas kecil. Jelaslah, yang paling penting bagi pewartaan adalah diaspora, yakni sejak penyebaran bangsa Yahudi ke segala penjuru dunia.

Semua kota penting di sekitar Laut Tengah seperti Alexandria, Antiokia, Roma mempunyai koloni (tempat kediaman di perantauan) bangsa Yahudi-Kristiani yang pada hari Pentakosta jumlah mereka sudah mencapai sekitar 3000 orang. Umat Kristiani Perdana menghayati iman mereka di rumah masing-masing di Mesir, Asia Kecil, Italia, dan Perancis Selatan. Petrus dan Paulus ke Roma, Andreas ke Rusia Selatan, Matias ke Etiopia, Bartolomeus ke India, Thomas ke Parsi, Yakobus tetap tinggal di Yerusalem, Yohanes diperkirakan meninggal sebagai uskup di Efesus. Jelaslah Roma bukan satu-satunya yang utama menjadi tempat penyiaran pewartaan iman kristen.

Dari sejarah diketahui, justru di Roma, Konstantinus Agung berani mengakui, agama Romawi telah menjadi mandul dan membebaskan orang Kristen, untuk mewartakan iman mereka di antero kekaisaran Romawi. Tentu saja Konstantinus memiliki kebijakan politis demi persatuan negara, jadi bukan demi iman. Ia adalah anak Santa Helena, namun ia dibaptis saat menjelang akhir hidupnya. Selanjutnya boleh dicatat, penyiaran agama Kristen di Roma bukan melulu karena politik kekuasaan, tapi justru karena siraman darah martir, dan perhatian kepada kaum miskin, terlebih dilaksanakan dengan pelayanan para diakon. Dalam penderitaaan, orang Kristen tetap bersatu dan saling mengasihi. Memang terjadi perkembangan pesat jumlah mereka di Roma pada abad ketiga dan keempat, namun kita perlu waspada terhadap aspeks negatif. Iman kebanyakan umat masih dangkal, malah tercampur dengan takhyul. Maka mutu kehidupan tidak sepadan dengan pesatnya perkembangan jumlah umat kristiani.

Di tengah mayoritas umat, selalu saja ada komunitas kecil dengan iman yang kuat, mandiri dan berakar. Mereka tidak mencari kekuasaan untuk mengubah dunia. Mereka terpanggil menerangi dan menggarami dunia dengan karya kasih di bidang pendidikan, kesehatan, panti asuhan, dan amal kasih lain. Mereka percaya bahwa hanya Ekaristi, satu-satunya yang dapat mengubah dunia. Bagi mereka ini, pemimpin negara tidak perlu harus orang Kristen, asal saja orangnya berkeutamaan baik dan berkeadilan. Sejak awal timbul kesadaran, perkembangan umat Kristiani bukan dengan pedang kekuasaan, tetapi dengan daya pikat melakukan perbuatan kasih sebagai identitas mereka. Dalam berpolitik, umat Kristiani bukan mencari kekuasaan, tapi kebenaran dan kasih (Paus Benediktus XVI. Caritas in Varitate).

Belajar dari sejarah, begitu umat Kristiani mulai bermain mata dengan kekuasaan, pada saat itu juga bersemi tanda-tanda kehancurannya. Suatu praksis menggereja dan bermisi yang berdasarkan strategi mewartakan Yesus dengan perlindungan Pontius Pilatus dan bantuan Herodes dibawah pengarahan Anas dan Kayafas, agar ditinggalkan (YB. Mangunwijaya). Orang Kristiani (awam) wajar berpolitik praktis asal saja dijalankan secara benar. Tetapi mereka bergerak sebagai pribadi, atas nama sendiri, tidak atas nama Gereja, umat atau pun hierarki Gereja (Gaudium et Spes, 76). Perlu diasadari, kasih adalah dasar paling dalam dan utama ketimbang politik kekuasaan untuk menguasai dunia. Karena kaum awam yang berpolitik praktis dijiwai kasih, justru itulah daya pikat, yang menerangi dan menggarami masyarakat. Berkuasa dimaknai sebagai melayani, seperti moto para Paus “Servus Servulum Dei”.

Pastor Jacobus Tarigan

HIDUP NO.23 2019, 9 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here