Theresia Elvina Octaviani : Kekuatan Doa dan Ketekunan Usaha

91
Theresia Elvina Octaviani.
[NN/Dok.Pribadi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Baru tiga bulan menjadi mahasiswa, ujian hidup menimpa keluarganya. Ketekunan belajar dan kekuatan doa mengantarnya menjadi wisudawan terbaik.

Senyum merekah tak henti-hentinya menghiasi wajah Theresia Elvina Oktaviani. Sabtu, 23 Februari lalu, Vivi, sapaannya, terpilih sebagai wisudawan terbaik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Ia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,81.

Lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini mewakili para wisudawan tampil di podium dan memberikan sambutan. Sementara di kursi undangan, orangtua Vivi menatap dirinya dengan bangga dan haru.

Putri sulung pasangan Teguh Sutanto dan Verena Endang Wiwit itu berhasil menjadi sarjana dengan predikat terbaik, meski sempat melewati masa-masa sulit. “Saya tak menyangka terpilih menjadi wisudawan terbaik. Ternyata, pihak universitas memilih wisudawan terbaik tidak hanya berdasarkan IPK, tapi juga melihat pengalaman saya berorganisasi,” ujar gadis yang pernah bergabung dengan Global Volunteer AIESEC 2018 ini.

Tak Mudah
Vivi meraih semua itu tak mudah. Ia melewati jalanan berliku. Ketika baru tiga bulan menjadi mahasiswa baru, ia mendapat kabar, ayahnya jatuh sakit. Sang ayah bekerja sebagai sales yang mengharuskannya berpergian keluar kota. “Otot kaki papa tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Papa menjadi lumpuh. Untunglah ada kenalan papa yang mengantarkannya kembali ke rumah,” kenang kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah,20 Oktober 1996 ini.

Ayahnya segera menjalani pengobatan medis. Lantaran kejang otot, Teguh tak mampu berjalan. Padahal ia adalah tulang punggung keluarga. Sang istri adalah ibu rumah tangga. Sejak saat itu, Vivi tak lagi mendapat kiriman uang dari orangtuanya. Meski demikian, ibunya berharap, Vivi tak meninggalkan kuliah. “Jalani saja (kuliahnya), Tuhan pasti menolong,” kenang Vivi, mengulang pesan ibunya.

Beruntung alumna SMA Santo Bernardus Pekalongan, Jawa Tengah itu mendapat beasiswa bebas kuliah lewat Program Seleksi Siswa Berprestasi (PSSB). Selama empat tahun, Vivi tak membayar uang kuliah. Pengeluarannya hanya untuk biaya kos, makan, dan keperluan sehari-hari. “Saya sangat berhemat. Saya makan dengan lauk seadanya yang murah. Supaya tak begitu lapar, saya banyak minum air putih. Tiga bulan saya bertahan hidup dengan uang seadanya. Saya sungkan meminjam/meminta uang pada teman atau saudara,” kisah Finalis Jogja Public Relations Days 2017 ini.

Saat begitu kencang “mengikat pinggang”, Vivi tak menyangka ada teman kos yang memperhatikan kehidupannya. Saat orang itu bertanya, anak pertama dari bersaudara ini baru menceritakan persoalan yang dihadapinya. “Teman saya itu lalu mengajak saya makan. Ia juga memberi saya bahan makanan untuk dimasak di kos. Teman saya itu sungguh ‘malaikat’ yang diutus Tuhan menemani saya pada masa sulit ini,” tutur dara yang sempat menempati posisi runner up dalam Festival Integritas Kampus yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi ini.

Sejak kejadian yang merundung sang ayah, keluarga Vivi di Pekalongan hidup mengandalkan tabungan dan bantuan saudara. Endang terus mendampingi suaminya berlatih jalan. Ia merawat belahan jiwanya sejak bangun hingga terlelap kembali.

Kian Menipis
Waktu terus melaju. Tabungan keluarga Vivi kian menipis. Endang bertekad menggantikan peran suaminya sebagai tulang punggung keluarga. Ia yang saban hari mengurus rumah tangga kini harus mencari nafkah. Ia menghubungi pelangan-pelanggan suaminya menawarkan dagangan.

Sayangnya Endang tidak bisa mengendarai motor. Tuhan kembali mengutus malaikat-Nya untuk menolong. Ada tetangga yang membantu mengantarkan barang dagangan ke rumah-rumah. “Tuhan tidak membiarkan keluarga kami menderita terlalu lama. Dalam keterpurukan karena papa sakit, Tuhan masih memberikan rezeki sehingga saya dan adik masih bisa sekolah,” ujar Vivi.

Ada yang menyarankan Teguh dioperasi. Namun lantaran biaya operasi mahal dan kemungkinan kegagalan besar, membuat keluarga Vivi mengurungkan niat itu. Sebagai gantinya, Endang membawa sang suami ke pengobatan alternatif.

Jalan kesembuhan mulai terbuka. Setelah diobati selama enam bulan, Teguh mulai bisa berjalan, meski menggunakan kruk. Ia juga mulai belajar menyetir mobil sehingga bisa bekerja kembali. Endang senantiasa setia untuk menemani suaminya. Di sisi lain, ia pun mempelajari cara kerja suaminya.

Awan pekat yang menyelimuti keluarga perlahan-lahan menghilang. Kesembuhan sang ayah menjadi penyemangat Vivi. Tak hanya menyelam dalam lautan ilmu, Vivi juga aktif di berbagai organisasi kampus. Untuk mengatur waktu, setiap malam Vivi menuliskan rencana kegiatannya untuk esok harinya. “ Puji Tuhan saya tidak kesulitan untuk membagi waktu antara kuliah dan kegiatan kampus. Justru ketika dihimpit banyak kegiatan, saya kian berjuang agar tugas-tugas kuliah dapat diselesaikan secara baik dan tepat waktu,” ujar mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini seraya tersenyum.

Tahun 2018 Vivi pernah magang sebagai divisi public affair di sebuah perusahaan rokok, Jawa Tengah. Penggemar olahraga renang ini bertugas mengelola konten untuk media internal seperti majalah dan radio, membentuk buku panduan dan mengelola aktivitas kunjungan perusahaan.

Selama menghadapi masa-masa sulit, Vivi menyandarkan harapannya kepada Yesus melalui perantaraan bunda-Nya. “Saya selalu berdoa Novena Tiga Kali Salam Maria dan Rosario. Saya percaya, Tuhan memberikan jalan keluar untuk ujian kehidupan ini bagi keluarga saya,” tutur Vivi.

Cahaya Pelangi
Umat Paroki St Petrus Pekalongan, Keuskupan Purwokerto ini yakin, usai badai kehidupan yang sempat merundung keluarganya, ada “cahaya pelangi” yang bakal mereka nikmati. Salah satunya, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan begitu lulus.

Saat ini, seorang teman menawarkan tempat untuk dirinya tinggal. Sehingga ia tak mengeluarkan biaya untuk kos. Penghasilan yang didapat bisa ia kirim untuk keluarga di kampung. “Saya bersyukur diberi teman-teman yang selalu mendukung saya dalam suka dan duka. Saya percaya, kekuatan doa serta ketekunan berusaha menjadi kunci untuk menuju kesuksesan dan kebahagiaan,” pungkasnya.

Ivonne Suryanto

HIDUP NO.24 2019, 16 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here