St James Buuzaabalyawo : Pengajar Kitab Suci di Istana Raja

55
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Meski Raja Mwanga II melarang agama Kristen di Uganda, nyatanya di istana raja beberapa katekis belia tampil sebagai pengajar Kitab Suci.

Di zaman Raja Mwanga II di Uganda (Baganda) tahun 1884-1886, terjadi penganiayaan terhadap agama Kristen. Mwanga II, seorang yang sangat membenci orang Kristen. Pembunuhan demi pembunuhan terjadi demi nafsu kekuasaan. Rangkaian pembunuhan ini, diawali dengan kematian tiga orang Kristen Anglikan pada 31 Januari 1885 yaitu: Yusufu Rugarama, Makko Kakumba, dan Nuah Serwanga.

Selepas tiga orang ini, pembantaian terjadi pada 29 Oktober 1885 yang menimpa Uskup Anglikan Uganda Mgr James Hannington. Mgr James dianggap terlalu “kebarat-baratan”. Selanjutnya adalah kematian martir Katolik Uganda pertama Yusufa Mukasa Balikudembe pada 15 November 1885.

Pembunuhan terus terjadi. Tercatat ada 24 martir Katolik dan 22 orang dibunuh antara tahun 1885 dan 1887. Dua orang lagi dibunuh di Paimol, Uganda Utara tahun 1918. Kebanyakan dari 24 martir itu adalah para hamba di istana raja. Ada 13 martir yang meninggal dengan cara dibakar di Namugongo, sembilan orang lainnya dibunuh di berbagai tempat.

Selalu Ceria
Satu diantara yang gugur adalah James Buuzaabalyawo. Adalah seorang pastor Misionaris Afrika (The Society of Missionaries of Africa /White Fathers) yang memberi tambahan nama “James” bagi Buuzaabalyawo. Sang imam saat itu bertugas di wilayah Ttabazimu, Provinsi Mawokota, Uganda, sekitar tahun 1856. Pastor itu berharap, James bisa mengikuti teladannya menjadi imam atau katekis. Meski lahir dari orang tua yang masih memegang agama tradisional, James kerap kali diizinkan untuk bersosialisasi dengan para misionaris.

Pastoral kehadiran para white fathers memberi kesan tersendiri bagi kelahiran Ttabazimu, 1876 ini. Sejak itu, James selalu ada dekat para misionaris. Ia menjadi penunjuk jalan bagi para misionaris, bila mereka hendak melayani di wilayah-wilayah terluar Mawokota. James pandai berbahasa suku Ttabazimu. Ia bisa berkomunikasi dengan baik dengan masyarakat setempat.

Dalam perjalanan itu, dirinya beberapakali meminta agar segera dibaptis, tetapi para misionaris menolak karena takut terhadap ancaman Kabaka (kaki tangan Mwanga II) di Ttabazimu. Dalam buku karangan Ssemakula ME, The Christian Martyrs of Uganda, disebutkan, para Kabaka sebenarnya ingin membantu para White Fathers, tetapi ancaman selalu datang dari Mwanga II. Raja membayar para prajuritnya untuk mengawasi gerak-gerik umat Katolik. Masalah ini membuat James baru dibaptis sejak usia 25 tahun tanggal 16 November 1885 oleh Pastor Girault.

Di usia 10 tahun, Sang ibu Ssebayigga meninggal dunia, sementara sang ayah sudah lebih dahulu meninggal. Sebagai yatim piatu, James tidak putus asa. Ia dicintai banyak orang karena perangainya yang baik. Hal ini membuat Pastor James merekomendasikannya untuk diasuh oleh Putri Namukaabya di Mawokota, yang masih punya hubungan kekerabatan dengan Ssebayigga.

James saat itu juga mulai bekerja di istana Mawokota. Di sana, James menunjukan tabiat yang baik. Ia rajin bekerja dan selalu setia membaca buku katekismus yang diberikan Pastor James. Andrew Kaggwa, seorang panglima kerajaan, seorang pria yang saleh, melihat tabiat baik ini sehingga mengirimkannya ke istana Raja Mutesa, (ayah dari Mwang II). Andrew berharap kebijaksanaan Raja Mutesa dan kesalehan hidupnya dapat membantu James menjadi orang Kristen yang baik.

Selamanya Kristen
Raja Mutesa meninggal hanya beberapa saat setelah James mulai bekerja di istana. Tampuk pemerintahan jatuh ke tangan anaknya Mwanga II. Namun, raja yang baru tak ingin mengikuti jejak ayahnya dengan menjadi Kristen. Ia ingin tetap mempertahankan gaya hidupnya yang poligami. Ia juga tak ingin memeluk Islam karena tidak mau disunat. Ia tetap setia kepada ajaran tradisional yang dianutnya.

Ketika berkuasa, Mwanga II merasa ada pencaplokan kekuasaan dari orang-orang kulit putih. Mwanga menjadi cemas, kalau-kalau kekuasaannya jatuh di tangan orang asing. Kecemasan ini berpuncak ketika mengetahui agama Kristen sudah meresap masuk dalam kehidupan istana.

Agar tidak ada orang Kristen menyusup di istana, Mwanga II memerintahkan agar menangkap semua orang Kristen di Uganda. James bersama beberapa umat belia lainnya, merasa kebijakan raja berlebihan. Mereka berpikir Mwanga II telah mencaplok kebebasan mereka.

Suatu ketika Kabaka dari Ttabazimu berkunjung ke istana dan bertemu dengan James. Kabaka lalu berpesan agar James lebih baik meninggalkan iman kekristenannya dan beralih kepada kepercayaan tradisional; percaya kepada roh-roh, penyembahan leluhur, penggunaan sihir, dan pengobatan tradisional yang diyakini masyarakat Uganda pada umumnya. Tetapi, James menolak permintaan itu. “Di mata Kristus, tidak ada kekausaan lain selain Dia yang telah menciptakan langit dan bumi,” pesan James kepada Kabaka.

Peristiwa lain juga yang membuatnya dibenci Mwanga II adalah saat ia menolak “melayani” kecenderungan pedofilia raja. James berpikir, hari Minggu adalah hari untuk Tuhan maka segala pekerjaan hendaknya diliburkan. Pada hari Minggu, ia sering mengajak beberapa rekannya seperti Mathias Mulumba Kalemba, Luke Baanabakintu, Noa Mawaggali, Mbaaga Tuzinde, Gyaviira, dan Adolf Mukasa Ludigo untuk membaca Kitab Suci di bilik mereka. Tidak saja satu dua jam, aktivas ini bisa seharian.

Hal ini membuat Mwanga II naik pitam. Ia beberapakali meminta kepada pelayan senior, orang Kristen yang taat, Yusufu Mukasa Balikudembe untuk melarang James dan kawan-kawannya. Yusufu bukannya melarang, ia justru tampil menjadi katekis bagi mereka. Akibat dari perbuatannya ini, ia dibunuh dan menjadi martir pertama dari Uganda.

Kematian Yusufu tak membuat James dan kawan-kawan berhenti dari kegiatan mereka. Tragedi berikut yang menyayat hati James adalah kematian Mwafu, seorang katekis belia, korban pedofilia Mwanga. Mwafu dibunuh karena menjadi orang Kristen yang dipertobatkan oleh katekis Denis Sebuggwawo.

Saksi Iman
Rentetan kematian ini tidak membuat James berkecil hati. Ia tetap pada pendiriannya, menolak semua tawaran untuk melepaskan imannya. Baginya Kristus adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Awalnya mereka membaca Kitab Suci secara sembunyi-sembunyi, lama kelamaan mereka berani membawa Kitab Suci di hadapan raja.

Menyaksikan hal ini, raja benar-benar marah. Ia lalu memerintahkan agar mereka ditahan dan dijebloskan dalam penjara. Beberapa hari setelah itu, James bersama beberapa rekannya dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup pada 3 Juli 1886.

Para martir yang dibunuh itu digelari venerabilis pada 29 Januari 1920 oleh Paus Benediktus XV. Para martir ini dibeatifikasi pada 6 Juni 1920 oleh Paus yang sama. Paus Paulus VI pada 18 Oktober mengkanonisasi mereka. Gereja mengenang mereka setiap 27 Mei-3 Juni. Gereja menghormati para martir ini dengan mendirikan Basilika para Martir Uganda di Namugongo.

Setelah kematian Raja Mwanga II, White Fathers kembali ke Uganda. Mereka mendapati sedikitnya 200 orang Katolik yang mereka tinggalkan kini menjadi 500 orang Katolik dan seribu katekumen. “Uganda adalah kota para martir. Mereka menjadi korban agar benih iman terus bertumbuh. Mereka adalah saksi hidup iman Kristen di Uganda,” demikian Paus Fransiskus saat berkunjung ke Uganda November 2015.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.24 2019, 16 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here