Seluruh Misteri Dirayakan

75
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Perayaan dalam Tahun Liturgi diatur berdasarkan tingkatannya. Apakah ini menunjukkan kelas dalam sebuah perayaan?

Leonardus, Semarang

Mengenai pokok ini dapat kita lihat dokumen Paus Paulus VI berjudul Universal Norms on the Liturgical Year and the General Roman Calendar, 14 Februari 1969. Dengan liturgi Gereja kudus merayakan seluruh misteri penyelamatan Kristus dan kelahiran para kudus-Nya sepanjang tahun. Dokumen menyebut urutan-urutan sebagai berikut: Hari Minggu, Hari Raya, Pestapesta, dan Peringatan-peringatan, serta Hari-hari Biasa.

Hari Minggu menempati posisi istimewa. Dokumen menyebutnya sebagai hari pesta yang asali (the primordial feast day), karena sebagai hari pertama dalam minggu, Hari Minggu mengingatkan Gereja secara paling dekat pada Hari Kebangkitan Kristus. Kedudukannya sebagai Hari Perayaan Kebangkitan ini tidak tergeserkan oleh perayaan lainnya, kecuali oleh hari raya atau pesta Tuhan yang sangat agung.

Karena pentingnya Hari Minggu, perayaan dan peringatan lain yang jatuh pada hari Minggu biasanya ditiadakan atau digeser ke hari lainnya, kecuali beberapa hari raya yang sudah ditentukan, seperti Hari Raya Keluarga Keluarga Kudus (Hari Minggu dalam Oktaf Natal), Hari Raya Pembaptisan Tuhan (Hari Minggu sesudah 6 Januari), Hari Raya Tritunggal Maha Kudus (Minggu sesudah Pentakosta) dan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam (Hari Minggu terakhir dalam tahun Liturgi).

Dalam kaitan dengan misteri penyelamatan, Gereja juga menghormati misteri keselamatan Allah dalam Bunda Maria, para martir dan orang-orang kudus lain. Di sinilah terangkum pembedaan tingkatan antara Hari Raya, Pesta dan Peringatan. Pembedaan itu didasarkan pada tingkat kepentingan peristiwa atau orang-orang kudus tertentu dalam misteri keselamatan dan kehidupan Gereja universal. Tingkat kepentingan itu menentukan bentuk liturgi yang dipersembahkan pada hari itu.

Hari Raya dipandang sebagai hari yang sangat penting; perayaannya dimulai pada hari sebelumnya dengan Ibadat Sore I. Dalam liturginya didoakan Kemuliaan dan Aku Percaya. Demikian doa dan bacaan tersedia secara khusus. Beberapa hari raya juga diistimewakan dengan Misa Vigili pada sore sebelumnya. Lebih istimewa lagi dua hari raya terbesar,
Paskah dan Natal, karena perayaannya diperpanjang dengan oktaf atau delapan hari perayaan.

Berbeda dari Hari Raya, Hari Pesta dirayakan pada hari itu saja dan tak dimulai dengan Ibadat Sore I, kecuali pesta-pesta Tuhan yang jatuh pada hari Minggu. Pada hari Pesta, Kemuliaan didoakan tetapi Aku Percaya tidak.

Hari Peringatan dibedakan atas Peringatan Wajib dan Peringatan Fakultatif. Seperti dikatakan, pembedaan ini berhubungan dengan kepentingannya bagi Gereja universal. Ada orang kudus yang menjadi favorit bagi Gereja wilayah atau kelompok religius tertentu, tetapi tidak amat penting bagi Gereja universal; karena itu peringatannya bisa bersifat fakultatif.

Hari selain hari Minggu dirayakan sebagai hari-hari biasa dengan bacaan Kitab Suci secara berurut. Hari biasa akan mengalah bila ada Hari Raya atau pesta, atau peringatan yang bacaannya dapat dikombinasikan dengan hari biasa. Namun ada juga beberapa hari biasa yang istimewa. Misalnya Hari Rabu Abu dan hari-hari biasa Pekan Suci yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari perayaan lain. Hari biasa antara 17 sampai 24 Desember dan hari biasa selama masa Puasa juga lebih tinggi dari semua peringatan wajib.

Pokoknya, ditambah pembagian masa-masa liturgi: Adven, Natal, Puasa dan Paskah serta Masa Biasa, pembagian itu mengatur sedemikian rupa agar peristiwa keselamatan Tuhan dikenang, dirayakan, dan dihayati seluruh umat beriman sebaik mungkin.

Pastor Gregorius Hertanto MSC

HIDUP NO.25 2019, 23 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here