Dua Wajah Para Pelayan Pastoral

102
Tahbisan Pastor Michael Łos FDP (berbaring) di Rumah Sakit Militer Warszawa, Polandia.
[ateleia.org]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kesehatan menjadi faktor penting bagi para pelayan pastoral. Sehat dan terus melayani atau sakit-sakitan adalah dua wajah yang tak bisa dipisahkan dalam rangkaian pastoral.

“Dia telah pergi, tetapi imannya telah menyembuhkannya.” Pernyataan ini diposting di akun Instagram milik Paus Fransiskus, @fransiscus, dua jam setelah kematian Pastor Michael Łos FDP. Anggota Kongregasi Putera-putera Penyelenggaraan Ilahi (Figlia della Divina Providenz/FDPOrione) ini meninggal pada 17 Juni 2019 di Warsawa Polandia, karena penyakit kanker. Dalam postingan itu, Paus menyampaikan belasungkawa kepada Kongregasi FDP. “Kesaksian iman saudara Michael, hendaknya menjadi kesaksian imam para pelayan pastoral. Ia telah memenangkan pertandingan di dunia ini.”

Bapa Suci melihat peristiwa ini sebagai momen refleksi bagi para imam. Terlepas dari penyakit yang dialami Pastor Michael, kesehatan fisik hendaknya disadari setiap pelayan pastoral. “Melayani secara jujur adalah menyadari keterbatasan fisik, menjaga diri, dan menyempurnakannya dalam doa,” tulis Paus.

Terkait panggilan Pastor Michael, Paus sendiri memberikan dispensasi tahbisan imam dan diakon. Beberapa hari sebelum meninggal, Pastor Michael telah menerima sekaligus Tahbisan Diakon dan Imamat. Upacara tahbisan ini diadakan di ruang onkologi Rumah Sakit Militer Warszawa, Polandia yang dipimpin oleh Uskup Auxsilier Warszawa-Praga, Mgr Marek Solarczyk.

Relasi Buruk
Nasihat Paus agar para imam dan suster menjaga kesehatan bukan sekali diungkapkannya. Dalam Misa Tahbisan Imam di Vatikan 21 April 2013, Paus juga mengungkit ketidakcakapan para uskup, imam, suster, termasuk calon-calon imam dalam menjaga kesehatan. Paus menggunakan analogi “gemuk” dan “kurus” untuk menggambarkan ketidakcakapan beberapa biarawan-biarawati menjaga kesehatan, demikian seperti dilaporkan Vatican Radio (25/4/2013).

Ketika itu, Paus mengritisi pola hidup banyak pelayan pastoral. Ia menyebut, banyak imam dan suster yang gemuk secara fisik, tetapi kurus dalam pelayanan. Artinya, banyak yang pasif dalam pelayanan tetapi aktif menyuburkan badannya. Mereka juga tidak peduli sedang dikerumuni penyakit.

Paus secara halus juga menegur para imam dan suster yang berusaha tampil sempurna dengan menjaga tubuh tetap langsing. Namun, mereka lupa pada kehidupan doa. Baginya, bila ada alasan-alasan demikian, maka lebih bijak tidak mengkambinghitamkan pelayanan. “Kadang seorang pelayan sakit karena ulah sendiri, lalu memberi alasan karena terlalu sibuk melayani. Sekali-kali berhenti menyalahkan umat karena kesalahan sendiri,” tegas Paus.

Kritik Paus ini terjadi tidak hanya di Eropa, tapi di seluruh dunia juga termasuk di Indonesia. Pastor Yongky Wowor MSC dalam sebuah email kepada HIDUP menjelaskan, seharusnya setiap imam dan suster mampu mengukur kemampuan fisiknya. Ada saat tertentu para imam dan suster harus “keras” pada dirinya, tetapi ada waktu untuk sedikit “lunak”. Kerap kali, para imam atau suster menerima tawaran makan bersama umat, tanpa mempertimbangkan kesehatan.

“Dalam Gereja, relasi-relasi personal seperti ini membuat para imam atau suster tidak bebas, bahkan dimanjakan. Bukan tidak boleh relasi demikian, tetapi relasi ini hendaknya disempurnakan dalam doa. Tidak semua relasi diselesaikan di rumah makan mewah,” ujar Pastor Yongky.

Biarawan yang sedang bertugas di Issoudun, Perancis ini juga menceritakan, pengalamannya dengan almarhum Pastor Frangky Rengkung MSC yang tutup usia April 2019 lalu. Ada rasa sedih mendalam karena baru lima tahun ditahbiskan, pastor 36 tahun ini sudah dipanggil Tuhan. Sebuah umur produktif bagi seorang misionaris, tetapi Tuhan berkehendak lain.

Pastor Yongky mengatakan, Pastor Frangky adalah seorang yang memiliki target dalam hidup. Ia bak magnet yang memiliki visi yang jelas akan panggilannya.

Disiplin hidup rohani dan semangat pelayanan menjadi keutamaannya sejak dibina di Skolastikat MSC Pineleng, Manado, Sulawesi Utara hingga ditahbiskan. Disiplin hidup ini juga membuatnya sering lupa akan tubuhnya yang lemah. Ia terbiasa membaca dan menulis sampai larut malam, sementara sudah harus bangun pagi jam lima subuh untuk mengikuti Misa. Waktu istirahatnya sekitar 4-5 jam setiap hari, jauh dari waktu istirahat yang seharusnya.

Pastor Yongky yakin, dalam proses perawatan, Pastor Frangky mengalami tekanan demi tekanan. Sudah pasti pikirannya terbebani dengan biaya rumah sakit yang tidak sedikit. Sakit ginjal yang dideritanya tentu butuh banyak biaya.

Berdamai dengan Sakit
Cerita lain juga datang dari Keuskupan Agung Medan (KAM). Pada Oktober 2017, sebuah berita mengejutkan dari Pastor Albert Pandiangan OFMCap. Di akun facebook, Pastor Albert menulis, “Sudah bulat tekad dan harapan, bahwa saya besok pagi berangkat ke Penang, untuk berobat dan amputasi kaki kanan. Semoga setelah 10 hari di Penang akan kembali ke Medan. Mohon doanya!”

Tulisan ini sontak membuat umat KAM bertanya-tanya. Banyak yang menerka-nerka penyakit yang diderita Pastor Albert. Baru di kemudian hari, umat memahami, amputasi kaki kanan Pastor Albert karena Penyakit Diabetes Melitus kronis.

Meski sakit, Pastor Albert mengatakan, tidak ada alasan bagi seorang imam lalai dalam melayani. Bahkan dalam keadaan kaki kanannya diamputasi, ia setia melayani. “Tidak ada kaki kanan, masih ada kaki kiri. Memimpin Misa itu kan bukan seperti bermain bola. Pimpin Misa tidak butuh kaki, tetapi butuh hati,” ungkapnya.

Pastor Albert menderita diabetes sudah cukup lama. Entah sudah berapa kali, ia meminta rahmat kesembuhan untuk kakinya kepada Tuhan. Tetapi, kehendak Tuhan berkata lain, kakinya harus diamputasi.

Hanya dengan satu kaki, awalnya tugas pelayanan Pastor Albert sempat terganggu. Tetapi, ia tidak putus asa. Ia yakin, dengan kepercayaan, pelayanan akan berjalan dengan kegembiraan.

Dalam pelayanannya sebagai imam Keuskupan Amboina, Pastor Steven Warawarin hampir tak pernah mengeluh. Setiap tugas ia jalani dengan gembira. Namun, rasa gembira dalam pelayanan ini seketika berhenti pada 31 Mei 2016. Saat itu dokter memberitahu ada pembengkakan di bagian perutnya.

Oleh karena hal itu, Pastor Steven harus menjalani operasi di Rumah Sakit Sint Carolus, Jakarta. Lewat dukungan doa Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC dan pastores Keuskupan Amboina bersama umat, ia menjalani operasi itu dengan lancar.

Baginya sekali pastor tetap pastor. Tidak ada pastor yang melayani sekaligus ingin dilayani. Refleksi ini membuat Pastor Steven berusaha sekuat tenaga untuk hadir dan menyapa umatnya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan rahmat panggilan yang telah diberikan Tuhan.

Sejak selesai operasi, Pastor Steven bersyukur mendapat banyak dukungan dari rekan-rekan umam. Mereka sering menasihati, bahkan kerap menegurnya bila mulai lalai menjaga kesehatannya. “Kehadiran mereka menjadi obat mujarab baginya untuk tetap sembuh,” ujarnya.

Kini, Pastor Steven terus melayani umat sekaligus merawat diri agar terus sembuh dari penyakitnya. Baginya, tidak ada jalan lain untuk mengalami penderitaan. “Pastor itu manusia biasa. Mereka pasti sakit, tergantung kadar sakitnya. Mereka menjadi sembuh karena berdamai dengan diri, sesama, dan Tuhan,” ungkapnya.

Ragam Penyakit
Penyakit selalu dekat dengan manusia. Sebagai manusia, tidak mudah menerima kenyataan, saat seseorang divonis mengidap penyakit tertentu. Keluh kesah, kekecewaan, putus asa, marah, tidak mau lagi berdoa, menumpuk menjadi satu.

Apabila yang sakit itu seorang imam atau suster, maka yang turut prihatin adalah keluarga dan juga tarekat atau keuskupan. Kemungkinan besar, mereka ikut hanyut dalam situasi itu.

Dokter Ryan Fernandi, dokter Umum di RS St Gabriel Kewapante, Kabupaten Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur menjelaskan, pengalamannya mendampingi para pastor atau suster yang sakit, ia mencermati kebanyakan mereka menderita penyakit hipertensi, stroke, diabetes, oesteoporosis, jantung, dan ginjal. menurutnya, tidak ada yang luar biasa dari penyakit-penyakit ini, penyakit itu bisa dialami oleh siapa saja.

Satu penyakit berat yang menurutnya mungkin diidab biarawati adalah adalah kanker payudara. Menurutnya, perempuan yang melahirkan dan menyusui memiliki risiko yang lebih rendah terkena penyakit ini. Risiko kanker payudara diketahui berkurang dengan melahirkan anak dan menyusui, terutama dengan usia reproduksi yang dini dan jumlah anak yang lebih banyak.

Studi epidemologi menyatakan, perempuan yang tidak pernah hamil dan melahirkan (nulipara), mempunyai jumlah siklus menstruasi yang lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yang melahirkan. “Mereka ini rentan terhadap kanker. Artinya mereka yang tidak mengalami kehamilan dan menyusui serta peningkatan siklus menstruasi yang normal, bisa mempengaruhi risiko kanker,” jelasnya.

Dr Ryan berpesan, agar para biarawati perlu melakukan deteksi dini pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Langkah ini dapat dilakukan dengan prosedur sederhana, cepat, dan gratis. “Seiring bertambahnya usia, bahkan di atas 80 tahun, risikonya menjadi tiga kali lipat dibandingkan populasi umumnya,” sebut Ryan.

Di negara maju, kesadaran masyarakat untuk melakukan SADARI cukup tinggi, sehingga kasus baru telah dapat diketahui secara dini. Sementara di Indonesia lebih kurang 65 persen datang ke dokter pada stadium lanjut. Hal ini juga dialami oleh biarawati yang selama ini didampingi dr Ryan.

Mukjizat Kesembuhan
Sr Marietha CB pernah divonis dokter di RS Panti Rapih Yogyakarta menderita kanker payudara stadium 1 B. Setelah vonis ini, ia lalu rutin meminum ramuan traditional dan the hijau selama setahun. Sayang, bukanya semakin baik, setelah diperiksa lagi, stadium kanker yang dideritanya justru meningkat ke stadium 2 B.

Awalnya, Sr Marietha tidak pernah melakukan SADARI. Ia merasa semuanya aman-aman saja, toh masih muda, dan tidak ada riwayat kanker. Ia menjalani hidup sedisiplin mungkin sesuai aturan biara. Tetapi ketika didiagnosa demikian, Sr Marietha sangat sedih dan berputus asa. Ia kerap sampai pada keputusan menyalahkan Tuhan atas kesehatannya. Meski perasaan itu muncul, Sr Marietha percaya ada keajaiban dari Tuhan.

Kanker ini membuat Sr Marietha mendapat cuti enam bulan dari pimpinannya, tujuannya agar bisa lebih intens menjalani masa-masa pengobatan. Selama masa cuti itu, ia memilih beristirahat bersama keluarga. Lambat laun, ia pun sembuh.

Dalam berbagai kesaksiannya, Sr Marietha mengatakan, kesembuhan ini karena pengampunannya kepada sang ayah. Ia bercerita, sangat lama dirinya membenci sang ayah, yang telah mengkhianati ibu dan adik-adiknya. Ia pun memberanikan diri untuk bertemu sang ayah, yang saat itu sedang terkena stroke. “Selama enam bulan itu, saya merawat ayah dengan cinta kasih yang tulus. Selama itu juga, saya tidak minum obat apapun. Setelah selesai masa cuti, saya periksa lagi ke dokter dan mukjizat terjadi, USG semuanya negatif,” ungkapnya.

Menurut Sr Marietha, ada banyak cara mengalami kesembuhan. Bisa lewat pengobatan medis, tetapi juga lewat relasi dengan Tuhan. “Saya merasa mukjizat itu terjadi karena relasi dengan Tuhan. Obatnya adalah pengampunan. Saya mengeluarkan segala dendam di hati sebagai racun, dan melepaskan pengampunan kepada ayah saya. Saat itu, Tuhan menyembuhkan hati saya,” kisah Sr Marietha.

Berkaca dari pengalaman-pengalaman ini, Paus Fransikus pernah mengatakan, inilah “dua wajah” para pelayan pastoral. Di satu sisi mereka terus ingin melayani, tetapi di satu sisi selalu berhadapan dengan faktor kesehatan. “Hanya keyakinan dan kesetiaan yang mampu membedakan dua wajah ini,” demikian Paus.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.26 2019, 30 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here