Kunci Surga

106
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di kalangan umat, St Petrus disebut sebagai “pemegang kunci surga. Kadang, ungkapan ini juga masih menjadi kebingungan bagi sebagian umat. Apabila Petrus adalah pemegang “kunci Surga”, lalu bagaimana hal ini dapat dipahami sebagai bagian dari iman? Apa sebenarnya latar belakang pemahaman ini?

Monica Septica, Semarang, Jawa Tengah

Di dalam Injil Matius dikatakan oleh Yesus tentang Petrus, “Kepadamu akan kuberikan kunci kerajaan Surga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di Surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di Surga” (Mat 16:19).

Salah satu pesan utama Injil adalah pengampunan, tanda belaskasihan dan kemurahan hati Allah. Pengampunan di sini berbicara tentang dua hal: mengikat dan melepaskan, maka apa yang terikat dan terlepaskan dalam komunitas umat Allah akan pula terikat dan terlepaskan di hadapan Allah. Di sini berbicara paling tidak tentang dua realitas dasar dalam iman Katolik: Gereja sebagai komunitas tubuh Kristus, umat Allah serta kuasa Petrus, yang adalah kuasa yang diberikan Kristus kepada Gereja.

Sudah sejak awal ajaran Gereja menegaskan prinsip dasar hidup Gereja dalam tradisinya, menyebutkan Petrus sebagai “pendiri kedua” Gereja, sebab Gereja didirikan di atas landasan para rasul, dengan Petrus sebagai yang pertama. Kepadanya lah Tuhan memberikan kuasa untuk menggembalakan domba-domba-Nya (lih Yoh 21:17). Maka tak ada ikatan gerejani tanpa ada ikatan dengan Petrus, dan para penggantinya. Dialah kepala Gereja yang kelihatan. Sekaligus Petrus dalam tradisi Gereja merupakan sumber dan dasar kesatuan iman dan persekutuan umat. Kuasa Petrus tersebut berasal dari Kristus sendiri, bukan dari keputusan buah kesepakatan Gereja, sehingga Petrus disebut sebagai wakil Kristus di dunia dan kepala Gereja universal.

Penegasan tersebut dalam sejarah Gereja lebih dimunculkan untuk menanggapi gugatan atau munculnya ajaran-ajaran yang berbeda, sehingga kuasa mengajar Gereja mencoba merumuskan dan meluruskan. Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium mencoba untuk merumuskan doktrin Gereja secara lebih utuh, bukan terutama untuk menanggapi ajaran lain. Dinyatakan di dalamnya, bahwa Petrus dan para penggantinya, memiliki kuasa penuh tertinggi dan universal terhadap Gereja, termasuk juga kuasa untuk mengikat dan melepaskan, yang juga diberikan kepada dewan para rasul, dan para uskup pengganti-penggantinya, dalam persekutuan dengan kepalanya (lih Mat 18:18; Mat 28:16-20).

Kesatuan Gereja, dengan demikian, tidak bisa ada tanpa Petrus. Gereja sebagai tubuh mistik Kristus mendapatkan kuasa dari-Nya untuk ikut serta dalam karya penebusan-Nya. Kuasa tersebut antara lain adalah kuasa akan pengampunan dosa, sebab kenyataan pengampunan adalah salah satu tanda nyata dari penebusan Allah. Memang kuasa pengampunan dosa hanya ada pada Allah. Akan tetapi dalam kuasa Ilahi-Nya, Tuhan memberikan kuasa ini kepada para murid (lih Yoh 20:22-23), terutama Petrus, supaya Gereja melaksanakan karya penebusan atas nama-Nya. Gereja, dengan demikian, menjadi menjadi tanda dan sarana karya pendamaian Allah.

Gereja, dengan demikian, menjadi sakramen pendamaian Allah. Gereja harus terus-menerus mewartakan, menghidupi, dan melaksanakan karya pendamaian Allah tersebut. Kuasa pengampunan dosa yang dianugerahkan Tuhan kepada Gereja (lih Yoh 20:22; Mat 18:18) menunjukkan bahwa Gereja, bertanggungjawab untuk meneruskan karya-Nya sebagai pewarta kabar gembira dan pelayan karya penebusan Kristus. Demikian ditegaskan oleh Yohanes Paulus II dalam Reconciliatio et Paenentiae (1984).

Dengan demikian, Petrus sebagai juru kunci Surga tidak lain menunjukkan kuasa yang diberikan kepada Gereja dari Tuhan untuk meneruskan dan mewujudnyatakan karya penebusan, kasih pendamaian Allah, sehingga dengan demikian Gereja dapat menjadi sakramen keselamatan Allah. Berkat kuasa rahmat-Nya Gereja memiliki kuasa untuk menyatakan penebusan dan menjadi jalan keselamatan dalam Kristus. Tidak mengherankanlah kalau dikatakan dalam tradisi doktrin Gereja, bahwa Gereja perlu bagi keselamatan, sebab dengannya dan dalam dirinya karya keselamatan Allah dilaksanakan oleh Kristus, berkat Roh Kudus.

Pastor T. Krispurwana Cahyadi SJ

HIDUP NO.26 2019, 30 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here