Alessandro de Franciscis : Sang Penguji Mukjizat Lourdes

125
Alessandro de Franciscis.
[kerknet.be]
Alessandro de Franciscis : Sang Penguji Mukjizat Lourdes
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Sudah satu dasawarsa, ia berkarya sebagai President of The Lourdes Office of Medical Observations. Ia menyebut, ini panggilan sebagai “dokter yang tak berguna”.

Surat pada medio Juni 2008 itu disebut Alessandro sebagai “surat yang paling mengganggu” hidupnya. Padahal surat itu ditandatangani Uskup Tarbes dan Lourdes, Perancis, Mgr Jacques Jean Joseph Jules Perrier. Surat itu menyatakan, Alessandro dipilih menjadi President of The Lourdes Office of Medical Observations, lembaga yang memiliki wewenang menguji, meneliti, dan memberikan penilaian terhadap setiap laporan mukjizat di Lourdes.

“Bagaimana mungkin Mgr Jacques memilih saya. Ia tak mengenal saya. Kami belum pernah bertemu sama sekali,” protes hati Alessandro.

Kala itu, kelahiran Napoli, Italia, 64 tahun silam ini masih berkarya di Parlemen Italia. Ia juga masih mengajar di University of Naples. Alessandro memang sedang merencanakan untuk sejenak meninggalkan dunia politik dan akademik. Tapi tentu bukan ke Lourdes. Ia menolak permintaan sang uskup.

Sepuluh hari setelah menerima surat itu, ia pergi ke Lourdes. “Ziarah yang paling tidak biasa dalam hidup saya. Saya bertemu Mgr Jacques, dan menolak permintaannya.”

Ia kembali ke Napoli dengan muka tertunduk. Ada sesal di ujung lubuk hatinya. Satu bulan sebelum ia menerima surat dari Mgr Jacques, ia berziarah ke Lourdes, memohon melalui perantaraan Sang Bunda, agar mendapatkan jalan setelah “pensiun” dari kancah politik dan akademik. “Bunda, apakah ini jalanku? Mengapa aku menolak panggilanmu?” tanyanya membatin.

Aneka tanya terus berkelindan di tambur hatinya. Sampai pada September 2008, tatkala Paus Benediktus XVI melakukan ziarah ke Lourdes. Melalui momen itu, Alessandro berniat menemui Mgr Jacques. “Kali saya menerima permintaan Mgr Jacques,” ucapnya.

Setelah mempersiapkan segalanya, Alessandro hijrah ke Lourdes. Pada 1 April 2009, ia resmi menjabat sebagai President of The Lourdes Office of Medical Observations. “Sebuah April Mop dari Sang Bunda,” ujarnya bergurau.

Cinta Lourdes
Sudah 46 tahun, cintanya tertambat di Lourdes. Medio 1973, Alessandro yang kala itu masih remaja, pertama kali berziarah ke Lourdes. “Saya jatuh cinta pada Lourdes, seperti yang dialami jutaan orang. Saya memutuskan ingin kembali dan menjadi dokter bagi mereka yang sakit,” tekadnya kala itu.

Cita-cita itu sungguh ia kejar. Selepas sekolah menengah atas, Alessandro melanjutkan studi ke fakultas kedokteran. Kebiasaan ziarah Lourdes setiap tahun, masih ia lakoni.

Suatu kali, ia mendapati pengalaman “menyakitkan” di Lourdes. Di kolam pemandian dekat gua, ia mandi bersama dengan anak-anak yang menderita aneka penyakit. Anak-anak mandi sembari mendaraskan doa agar mendapatkan “mukjizat” kesembuhan. Menatap anak-anak itu, hati Alessandro miris. Ia menangis. “Jika Tuhan ada, mengapa Dia membiarkan penderitaan itu?” protes Alessandro.

Pengalaman “menyakitkan” itu menerbitkan tekad dalam hati Alessandro. “Pengalaman itu sangat mengganggu hati dan pikiran saya. Lantas saya memutuskan fokus studi tentang pediatri, agar dapat membantu anak-anak yang menderita.” Tekadnya itu diwujudkan. Ia menjadi dokter anak. Pada 1999, ia membangun program bantuan bagi korban perang, terutama anak-anak, di Kosovo.

Menguji Mukjizat
Setelah malang melintang di dunia politik dan akademik, cinta Alessandro kembali berlabuh di Lourdes. Cinta itu seperti bersemi kembali. Ia ditunjuk sebagai President of The Lourdes Office of Medical Observations yang ke-15. Alessandro juga menjadi satu-satunya orang non Perancis pertama untuk jabatan itu.

The Lourdes Office of Medical Observations didirikan pada 1883 untuk merekam, mempelajari, dan menilai ribuan penyembuhan yang dilaporkan para peziarah yang datang ke Lourdes. Kantor ini didirikan Uskup Tarbes dan Lourdes bersama Dr. Georges-Fernand Dunot de Saint-Maclou, yang kemudian menjadi presiden pertama kantor ini. Lembaga ini bertujuan agar tidak seorang pun yang mengalami “mukjizat” di Lourdes tanpa menyerahkan kisahnya ke kantor ini.

Sejak didirikan The Lourdes Office of Medical Observations, lebih dari 7000 kasus “mukjizat” penyembuhan yang tidak dapat dijelaskan secara medis telah dicatat. Namun, hanya 70 kasus yang telah diumumkan otoritas Gereja sebagai sebuah mukjizat. Yang terakhir dialami Sr Bernadette Moriau pada Februari 2018.

Sejak 1954, penilaian terhadap “mukjizat” di Lourdes kian diperketat dengan membentuk Komite Medis Internasional Lourdes, yang bertugas mengkonfirmasi hasil pengujian The Lourdes Office of Medical Observations. Komite ini memiliki anggota sekitar 30 orang dari berbagai pakar medis di berbagai negara. Saat ini, Alessandro menjabat sebagai sekretaris komite ini.

Jika Komite Medis Internasional Lourdes menyatakan bahwa sebuah kasus “mukjizat” tidak dapat dijelaskan secara medis, maka komite ini akan menyerahkan rekomendasi kepada Uskup Tarbes dan Lourdes. Uskup Tarbes dan Lourdes akan meneruskan rekomendasi tersebut kepada Uskup di mana orang yang “disembuhkan” itu menetap. Nah, Uskup tersebutlah yang akan menyatakan dan mengumumkan atas nama otoritas Gereja bahwa telah terjadi mukjizat penyembuhan di Lourdes.

Selain itu, Alessandro juga dipercaya menjadi Ketua International Lourdes Medical Association. Asosiasi ini merupakan perpanjangan tangan dari kantornya untuk mempertahankan relasi dengan banyak profesional medis dari seluruh penjuru dunia setelah kunjungan mereka ke Lourdes. Saat ini, asosiasi ini memiliki lebih dari 12.500 anggota. Jadi, bagi peziarah Lourdes yang memiliki keahlian medis bisa mendaftarkan dalam asosiasi ini.

Karena Iman
Meskipun memiliki tugas yang penting, tapi Alessandro kerap menyebut dirinya sebagai “dokter yang tak berguna”. Katanya, “Karena saya bertemu dan menangani pasien yang sudah sembuh. Saya hanya membuat penilaian secara medis.” Hampir saban hari, pasien mendatangi kantornya. “Rerata 30 sampai 40 kasus per tahun, saya uji secara serius dan diteliti lebih lanjut,” ujarnya seperti dikutip dari catholicworldreport.com, awal tahun ini.

Bagi Alessandro, setiap “mukjizat” yang terjadi Lourdes, entah yang telah diakui otoritas Gereja maupun yang tidak diakui, terjadi karena iman. Air Lourdes yang terkenal bisa menyembuhkan itu hanyalah sarana sebuah tindakan iman. “Bukankah sebagian besar penyembuhan yang diberikan Yesus berkaitan dengan tindakan iman,” tegas pria yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai religius dalam Ordo Hospitaller St Yohanes dari Yerusalem atau yang dikenal sebagai Ordo Malta.

Lourdes, kata Alessandro, adalah tempat yang paradoksal. “Tidak ada tempat ziarah Katolik di dunia dengan begitu banyak penderitaan, namun memberikan sukacita seperti di Lourdes,” ujarnya. “Bunda Maria di Lourdes,” lanjutnya, “Adalah ibu yang tersenyum. Ibu yang mau menerima penderitaan, sekaligus memberikan sukacita.”

Alessandro de Franciscis

Lahir : 24 November 1955

Pendidikan :
• Doktor Kedokteran University of Naples (1980)
• Spesialis Pediatri University of Naples (Juli 1984)
• Sarjana di Fakultas Kepausan Teologi Italia Selatan (2011)

Pekerjaan :
• Dokter anak di Rumah Sakit Umum di Caserta, Italia
• Guru Besar di Departemen Pediatri Fakultas Kedokteran Napoli
• Anggota Dewan Kota Caserta, Italia
• Presiden Provinsi Caserta (2005-2009)
• President of The Lourdes Offi ce of Medical Observations (2009-sekarang)

Y. Prayogo

HIDUP NO.26 2019, 30 Juni 2019

1 COMMENT

  1. Artikel inspiratif yang ditulis dengan baik dan dibahas secara mendalam namun mudah dipahami. Terima kasih atas tulisannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here