Paguyuban Lektor Lektris Paroki St Stefanus Cilandak : Lektor Tidak Sekadar Membaca

69
Anggota PLL Paroki St Stefanus saat mengadakan kegiatan Ziarah Gereja ke sembilan gereja di Keuskupan Agung Jakarta.
[Dok. Paguyuban Lektor Lektris]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Menjadi lektor tak hanya mampu membaca Kitab Suci dengan baik. Seorang lektor perlu menyadari bahwa mereka “penyambung lidah Tuhan”.

Rabu pukul 19.00 tepat, cahaya lampu Gereja Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan bersinar terang. Sekitar 21 orang berkumpul di sekitar altar. Salah satu di antaranya sedang berjalan menuju altar dengan mengangkat Alkitab tinggi-tinggi dan mulai membacakan firman Tuhan.

Sebenarnya tidak ada Misa malam itu. Beberapa anggota Paguyuban Lektor Lektris (PLL) Paroki St Stefanus Cilandak berlatih sebelum bertugas di hari Minggu. “Jika tidak latihan? Ya tidak boleh bertugas di hari Minggunya,” ujar Antonius Benedictus Suritno.

PLL adalah jawaban atas keprihatinan terhadap kondisi dan lektor lektris di Gereja St Stefanus. Setiap Rabu PLL menyisihkan waktu selama dua jam untuk berlatih. Dengan wadah ini, setiap anggota berlatih meningkatkan kemampuan mereka dalam menjalankan tugas sebagai lektor di gereja.

Lektor yang Guyub
Sebelumnya, petugas lektor di Paroki Cilandak selalu disesuaikan dengan petugas tata laksana. Setiap lingkungan yang bertugas tata laksana, maka yang bertugas lektor juga dari lingkungan itu. Anton mengisahkan, dengan pembagian semacam ini, maka petugas lektor terbuka bagi siapa yang mau. Ia melihat, dengan pembagian semacam ini, tugas lektor menjadi amburadul. Kadang terjadi, orang yang seharusnya bertugas, justru tidak datang ke gereja saat Misa hari Minggu.

Kondisi semacam ini diamini Wakil Ketua PLL Susana Wening Hendarjati, atau yang akrab dipanggil Susi. Ia menuturkan, sebelumnya tidak ada jadwal lektor yang bertugas setiap kali Misa. Dengan ketiadaan jadwal ini, maka tidak ada koordinasi juga komitmen dari setiap petugas.

Kondisi ini tentu memprihatinkan mengingat dalam setiap kali Ekaristi, ada begitu banyak orang yang berperan, mulai dari romo, lektor, putra altar dan semuanya diperlukan. Susi mengungkapkan, akan merepotkan jika salah satu mendadak tidak ada.

Melihat hal itu, Anton lalu mencetuskan untuk membuat sebuah wadah untuk petugas lektor di Paroki Cilandak. Sejak terbentuknya wadah ini, ia membagi petugas dalam beberapa kelompok. Selanjutnya, di masing-masing kelompok ini ditempatkan seorang pendamping. “Pembagian kelompok ini agar pihak lingkungan juga tidak repot lagi mencari petugas,” ujar Anton.

PLL resmi menjadi sebuah paguyuban pada tanggal 25 Februari 2007. Menurut penuturan Susi, pencetusan paguyuban ini mempunyai niat menyatukan panggilan menjadi lektor dan lektris di Paroki Cilandak. Susi menjelaskan, sebutan “paguyuban” dimaksudkan agar komunitas ini menjadi “guyub” dan mampu menjadi wadah pelayanan yang anggotanya saling mendukung satu dengan yang lain.

Susi menuturkan, saat mulai terbentuk, maka yang pertama kali dibuat adalah pembagian jadwal petugas lektor sesuai dengan jumlah Misa. “Kita ratakan dan tidak ada anggota yang bisa memilih mau tugas jam berapa,” ujar Susi.

Sejak itu juga, kedisiplinan menjadi aspek yang terus ditekankan. Siapa pun yang tidak datang latihan di hari Rabu, maka ia tidak diperbolehkan bertugas di hari Minggu, walaupun namanya tercantum di jadwal tugas. Tidak hanya itu, menurut penuturan Anton, apabila ada anggota yang tidak hadir latihan tiga kali berturut-turut, maka akan diberikan surat peringatan (SP). Ia menjelaskan, latihan adalah juga suatu komitmen. Ia gembira, bahwa setelah 12 tahun, kebiasaan ini masih terus dipertahankan.

Setahun sekali, PLL mengadakan Rapat Umum Anggota (RUA). Susi menjelaskan, kesempatan ini digunakan untuk menyusun kembali pembagian kelompok lektor. Kesempatan ini juga digunakan untuk menentukan siapa yang akan bertugas pada Misa hari raya, misalnya Natal dan Paskah. “Hanya anggota yang absensinya 60% keatas akan terpilih,” ujar Susi.

Seleksi Lektor
Seiring waktu, pembagian jadwal petugas di Gereja St Stefanus dianggap masih belum cukup. Maka pada tahun 2008, PLL merekrut petugas lektor dengan membuka pendaftaran anggota. Beberapa kriteria juga ditetapkan dalam rekrutmen ini. Ada beberapa proses seleksi yang harus dilewati calon anggota.

Salah satu yang diperhatikan dalam pendaftaran adalah kriteria umur. Anton menuturkan, hal ini sesuai dengan masukan Pastor Antonius Sumardi SCJ. Ia menuturkan, cara ini agar ada kaderisasi. Saat itu ditetapkan, seseorang yang bisa mendaftar hanya yang berusia 23 tahun sampa maksimal 50 tahun.

Selain kriteria umur, calon anggota diwajibkan untuk melampirkan Surat Baptis juga Krisma. Sebelum mulai bertugas, calon anggota juga akan mendapatkan pelatihan selama kurang lebih satu setengah bulan. Johanes Agus Soesanto menuturkan, calon anggota yang jumlah absensinya tidak memenuhi syarat maka tidak akan diterima. Tidak hanya itu, masih ada wawancara dengan pastor dan pendamping. Terakhir ada tes tertulis. “Jika gagal tes, ya berarti tidak lolos,” jelas Agus.

Setelah proses seleksi berjalan, dirasa background keluarga dan psikis cukup berpengaruh. Maka tahun 2010, calon anggota diwajibkan juga menjalani wawancara dengan psikolog. “Lagi-lagi, kami adalah penyambung lidah Tuhan. Citranya harus sama. Yang kami sampaikan adalah suka citanya Tuhan, bagaimana mau menyampaikan jika kita sendiri tidak suka cita,” urai Susi.

Terakhir dalam pendaftaran di tahun 2017, proses seleksi ditambahkan dengan audisi. Sebelum calon anggota mengikuti pelatihan, mereka akan disaring untuk mendapatkan calon anggota yang sesuai dengan tuntutan pelayanan sebagai lektor. Agus menuturkan, audisi ini berupa ujian membaca Kitab Suci. Setelah lolos audisi, calon anggota kemudian diikutkan dalam pelatihan.

Tak Hanya Membaca
Tugas sebagai lektor sebenarnya tidak hanya membaca. Tugas ini memiliki beban tersendiri, apa yang dibaca harus mampu didengar dan sampai di telinga umat dengan baik. Susi menambahkan, latihan setiap hari Rabu juga berfungsi melatih kemampuan setiap petugas lektor dalam membacakan Kitab Suci bagi umat pada Misa Mingguan.

Belajar dari pengalamannya, dengan niatannya tampil depan umum, awalnya ada kecenderungan beberapa lektor hanya bersedia bertugas di jam-jam “premium”, atau dalam Misa yang dihadiri banyak umat. Susi mengakui, bahwa tidak mudah mendisiplinkan anggota untuk taat pada jadwal. Berhadapan dengan ini, ia berusaha menanamkan, bahwa pelayan sebagai lektor tidak semata-mata untuk bisa tampil di depan orang banyak, yang paling utama adalah tampil sebagai lektor di hadapan Tuhan. “Pelayanan di mata Tuhan bukan di mata orang. Jadi wajib bersedia tugas di jam berapa pun.”

Maria Endah Pratiwi menuturkan, bergabung dengan PLL ternyata menjadi kesempatan baginya untuk banyak belajar. Sebagai anggota termuda, Endah terpanggil menjadi lektris karena sebelumnya pernah menjadi lektris di Misa pernikahan seorang teman. Ia pun harus melewati beberapa seleksi dan pelatihan sebelum dapat bertugas.

Kini, setelah sekian lama, Susi bersyukur karena anggota PLL semakin bertambah. Dengan jumlah anggota yang banyak ini, maka tugas membaca Sabda Tuhan pada setiap Misa di Gereja St Stefanus dapat dijalankan dengan baik.

Karina Chrisyantia

HIDUP NO.26 2019, 30 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here