Perlukah Umat Katolik Belajar Filsafat?

208
Lukisan 'School of Athens', karya Raphael Sanzio, menggambarkan para filsuf renaisans berdiri di dekat para ilmuwan Romawi dan Yunani kuno.
(Dok. Wikipedia)
Perlukah Umat Katolik Belajar Filsafat?
4.5 (90%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Filsafat sering kali dipandang sebelah mata. Ilmu ini dirasa berat dan hanya kalangan tertentu saja yang wajib mempelajarinya. Salah satunya para imam. Setiap seminaris wajib belajar filsafat, lamanya tergantung pada kebijakan dan seminari dan keuskupan masing-masing. Mereka wajib belajar sebelum mereka lanjut seminari atas untuk belajar teologi dan pelayanan pastoral.

Filsafat tidak mengajarkan soal Alkitab. Filsafat tidak mengajarkan pula bagaimana cara memberikan sakramen. Lantas mengapa seorang imam diwajibkan memperdalam filsafat? Bagaimana dengan para awam? Perlukah belajar filsafat?

Seperti yang dilansir dari Catholic News Agency (26/7), Rektor Notre Dame Seminary, Los Angeles, Pastor James Wehner mengatakan ada beberapa kebenaran yang diyakini Gereja, diilhami oleh wahyu ilahi, yang tidak dapat dicapai melalui akal semata. “Disinilah peran filsafat, penting untuk memiliki kombinasi antara iman dan akal. Filsafat melatih pikiran untuk melakukan pekerjaan teologi,” jelas Pastor Wehner.

Bagi Pastor Wehner, iman dan nalar adalah dua cara yang Allah menunjukan kebenarannya kepada manusia. “Saya pikir orang bisa membuat pernyataan bahwa segala sesuatu ajarkan gereja adalah ‘masuk akal. Meskipun tidak semua kebenaran dapat beralasan, semua itu masuk akal, sehingga akal dapat membantu kita memahami kebenaran yang dapat dibagikan.” ujarnya.

Hal ini juga diutarakan oleh seorang imam dari Keuskupan Victoria, Canada Pastor Harrison Ayre. Menurut Pastor Ayre, dengan belajar filsafat juga membantu para imam memahami umatnya ketika mereka datang dengan berbagai permasalah. Setelah mempelajari filsafat, seorang imam dapat lebih memahami secara dalam.

“Dengan mempelajari filsafat  memberikan pemikiran yang lebih dalam terhadap suatu masalah. Menjadi kritis. Ini membantu sesorang untuk dapat mengatasi keprihatinan mendalam dalam kehidupan sekitar dengan cara yang rasional karena iman bukanlah sesuatu yang irasional. Itu sesuatu yang rasional. Jadi ingin memberikan saran yang rasional jelas filsafat adalah sesuatu yang sangat membantu,” tandasnya.

Karina Chrisyantia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here