Bavo Indramulyo : Kepuasan Tak Ternilai

54
Bavo Indramulyo.
[HIDUP/Hermina Wulohering]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pembuatan drum tidak bisa asal diproses dengan kayu sembarangan. Pengalamannya di bidang furnitur membuatnya lebih memahami kayu berkualitas untuk membuat alat musik ini.

Mungkin belum banyak yang tahu, alat musik drum produksi Indonesia dengan merek Bavo Young Drums telah dikenal dan dipasarkan ke Australia dan Amerika. Pantas saja, dalam review beberapa drummer, drum ini disebut memiliki kualitas internasional. Padahal, proses produksi dan pemasarannya baru dimulai dua tahun belakangan.

Sang pencipta “Bavo Young Drums”, Bavo Indramulyo, menamai hasil karyanya dengan nama baptis dan nama keluarganya. “Bavo” adalah nama baptis yang ia terima pemberian seorang pastor Belanda. Sedangkan “Young” adalah merujuk pada nama marganya “Yang”. “Ketika itu saya baru berumur tiga hari, seorang pastor Belanda memberi nama ‘Bavo” sebagai mana baptis saya,” ujarnya mengisahkan.

Memahami Kayu
Di masa mudanya, Prodiakon di Paroki Santo Laurensius Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten ini memiliki hobi bermain drum. Alhasil, hobi inilah yang kelak menjadi modal awalnya untuk merintis bisnisnya. “Sejak SMA, saya suka ngeband bersama teman-teman dan saya jadi drummernya,” kenang ayah empat anak ini.

Kecintaannya terhadap dunia musik terus terbawa hingga saat ini. Bavo kerap tampil dalam berbagai event, terutama yang diselenggarakan oleh persekutuan-persekutuan doa kharismatik Katolik. Ia memang terlibat aktif dan mengatakan menikmati gerakan ini.

Kini setelah memutuskan untuk pensiun, setelah selama 30 tahun menekuni bisnis furnitur, Bavo memiliki lebih banyak waktu untu bermain drum. Mulanya, kesukaan bermain drum mendorongnya untuk membuat satu set drum untuk dirinya sendiri. Namun kemudian, banyak yang memotivasinya untuk memproduksi lebih banyak dan menjadikan ini sebagai bisnis.

Dengan pengalaman di dunia furnitur ini, Bavo memiliki pengalaman mengenal jenis-jenis kayu. Alhasil, ia dapat menentukan kayu mana yang paling pas untuk dipilih agar menghasilkan bunyi berkualitas bagus.

Setelah mempelajari dan melakukan beberapa kali eksperimen, Bavo memilih memproduksi drum untuk segmen premium dengan memakai kayu solid atau kayu utuh. Sejak awal, ia mengutamakan kayu-kayu asal Indonesia, yakni kayu mahoni dan eboni Makassar. “Memilih kayu adalah proses yang unik. Kayu itu hidup, bergerak terus,” katanya saat ditemui di ruangan workshop di rumahnya, Kamis, 20//6.

Bavo mengatakan, tak banyak produsen drum di Indonesia yang betul-betul paham tentang kayu. Untuk membuat drum yang bagus, kayuyang digunakan harus benar-benar kering. Ia menjelaskan, moisture content atau kadar air yang terkandung dalam kayu harus ditekan. “Tidak bisa habis tebang langsung asal dipasang,” paparnya.

Agar kayu kering, maka proses pengovenan perlu dilakukan. Bavo mengatakan, proses pengovenan kayu ini dilakukan pada tingkat kepanasan 70-85 derajat celcius. Proses ini dilakukan setiap hari selama satu bulan, atau minimal tiga minggu, sampai mencapai tingkat kekeringan tertentu. Selain perihal kayu, lug juga menjadi salah satu unsur penting dalam produksi drum. Sebelum akhirnya memproduksi sendiri, Bavo sempat mengimpor aksesoris drum ini.

Drum Batik
Drum produksi Bavo Young Drums tidak hanya bermodal kualitas kayu. Sebagai produk asli Indonesia, Bavo menambahkan ornamen batik pada setiap produknya. Untuk itu, ia bekerjasama dengan pengrajin batik di salah satu desa di selatan Yogyakarta. Drum dari Bavo Young Drums menjadi drum yang tak hanya berkualitas tetapi juga unik dan bernilai seni tinggi.

Bavo mengatakan, tak butuh waktu lama bagi para pengrajin itu untuk membatik drum buatannya. Untuk satu set drum biasanya butuh waktu paling lama sekitar satu minggu. “Mereka memang spesialisasi pengrajin batik kayu. Setelah dibatik, dikirim kembali untuk dilanjutkan pengerjaannya.”

Kebanyakan drum batik produksinya dipesan menyesuaikan permintaan konsumen atau secara customized. Bavo mengakui, tak jarang, drum batik ini dipesan untuk dijadikan hadiah bagi orang-orang besar yang menyukai seni musik. “Bahkan, ada yang saya tahu beliau hanya bisa bermain piano tetapi punya Bavo Young Drums seri batik ini dan diletakkan di samping grand pianonya. Mungkin, ada kebanggaan tersendiri bagi mereka,” tuturnya.

Meski menjadi best seller, drum batik bukan satu-satunya varian drum yang ia produksi. Pengalamannya dalam bidang furnitur juga membuat Bavo menjadi lebih kreatif terutama dalam finishing drum yang ia produksi. “Finishing seperti yang pernah saya lakukan pada furnitur, saya implementasikan juga ke drum ini,” ujarnya sambil menunjuk ke beberapa drum. Salah satunya adalah drum yang di-finishing dengan kulit kerang. “Seperti yang pernah saya terapkan pada meja makan dan lemari, kulit kerang saya tempelkan satu per satu ke drum ini.”

Kualitas dan nilai seni yang diusung pada drum buatannya, membuat Bavo mematok harga yang tidak murah. Oleh sebab itu, tak hanya mengandalkan konsumen dalam negeri, ia juga mengincar para pengguna drum asal luar negeri. Ia juga mengatakan tak sedikit konsumennya yang berasal dari lingkungan musisi Gereja.

Sejauh ini, ia memanfaatkan media sosial untuk menjaring konsumen yang ingin memesan drum produksinya. Meski demikian, saat ini ia tengah mengadakan perjanjian dengan salah satu toko alat musik untuk memasukkan Bavo Young Drums dengan sistem titip jual.

Bagi Bavo, membuat drum tak hanya menjadi aktivitas pengisi hari-hari pensiunannya. Ia mengatakan ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan dan itu tidak ternilai. Ia mengungkapkan ini terutama datang ketika para konsumennya mengakui kualitas drum yang ia produksi. “Mengutak-atik drum adalah passion dan soul saya,” ungkapnya.

Bavo Indramulyo

Tempat/Tanggal Lahir : Palembang, 1 Oktober 1962
Istri : Elly Wihadi
Anak-anak :
– Claudia Lidwina Indramulyo,
– Prisca Christalia Indramulyo,
– Carla Sherlyta Indramulyo,
– Patrick Benediktus Indramulyo

Perjalanan Karya :
– SD Xaverius 1 Palembang, lulus 1973
– SMP Xaverius Palembang, lulus 1979
– SMA Xaverius Palembang, lulus 1982

Hermina Wulohering

HIDUP NO.27 2019, 7 Juli 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here