Impian Gembala Dipeluk Santa

42
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tak ada krisis imam. Tak ada krisis panggilan. Adanya krisis jawaban. Romo YB Mangunwijaya (nama pena: Y. Wastu Wijaya) beperkara krisis dan dilema dalam novel ini. Gaung godaan kaum tertahbis, khususnya imam, selama ini baru bermuara dalam perkara wanita dan selilit uang. Bukan takhta dan karya.

Novel Romo Rahadi menjadi narasi terbaik untuk literasi (calon) biarawan atau biarawati dari sudut ikonik. Ada kelakar kritis dari banyak pelayanan imam, “jangan suka memilih milih imam jika umat tidak bisa melahirkan imam baru”. Bahkan, imam paroki atau uskup sering memberi tengara galak, “jangan suka menggodai imam”.

Tidak, jawab Romo Mangun dengan beperkara dalam novel ini. Perkara justru muncul dari krisis kendali hasrat si imam yang bersangkutan. Romo Rahadi atau Didi adalah underannya. Titik tembak narasi dibelokkan Romo Mangun. Menghakimi asmara liyan ibarat mengkhianati hukum dasar cinta kasih. Di sinilah Didi beperkara.

Muasalnya Didi remaja tak menabukan cinta monyet dengan Rosi. Bahkan, Didi mendapat inisiasi maturitas seksualitas dari kakak perempuannya, yang bersekolah di akademi kesehatan. Tertahbislah Didi menjadi imam muda dan berhak studi lanjut di Jerman. Muncullah gadis Hildegard di hati Didi, karena reksa belas kasih. Perkara berkecamuk. Didi memilih pulang ke Irian (Papua) untuk mediasi retret. Perkara memuncak. Justru Didi, Hildegard, dan Rosi bertemu di Irian. Dialektika segitiga cinta terjadilah.

Novel ini praktis membahas aneka lika-liku kehidupan seorang imam. Persoalan mereka sering tidak biasa dan perlu perhatian lebih mendalam. Satu yang perlu di ingat, menjadi imam perlu terus berpegang pada Dia yang memanggilnya.

Judul : Romo Rahadi
Penulis : Y. Wastu Wijaya
Penerbit : Kanisius, 2018
Tebal : 384 halaman

Anton Suparyanto

HIDUP NO.27 2019, 7 Juli 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here