Cinta Melodi Nusantara

54
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tidak lama berselang, setelah berita meninggalnya tokoh senior Katolik di kancah politik nasional, Cosmas Batubara dalam usia 80 tahun, Kamis, 8/8/2019, publik Katolik (Gereja Katolik) juga dikejutkan oleh berita kepergian salah satu maestro musik liturgi Indonesia, Paul Widyawan pada Sabtu, 10/8/2019 di RS Panti Rapih Yogyakarta dalam usia 94 tahun. Kiprah Cosmas, kami muat dalam Edisi 34 (25/8/2019), minggu lalu, dan pekan ini, kita simak jejak langkah alias jasa besar Paul Widyawan dalam mengembangkan musik liturgi Indonesia.

Kiprah Paul Widyawan tidak bisa dilepaskan dari tokoh sekaligus guru dan sahabat bagi Almarhum. Dia adalah Pastor Karl-Edmud Prier SJ atau lebih akrab disapa Romo Prier. Ke duanya bak dua sisi koin, Romo Karl-Paul Widyawan adalah Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta, PML adalah Romo Karl-Paul. Mungkin sulit memilah karya besar keduanya dalam khazanah musik, lagu, dan paduan suara di tanah air. Ribuan karya telah lahir dari kedua tokoh ini.

Kendati demikian, tetap ada saja yang sedikit banyak membedakan antara keduanya. Paul amat concern terhadap pengembangan musik dan lagu lokal (tradisional). Dalam setiap kunjungannya ke hampir seluruh pelosok Nusantara ini untuk mengadakan lokakarya musik Gereja, hal yang pertama Paul tanyakan bukan makanan atau tempat wisata, tetapi lagu apa yang paling populer di daerah tersebut. Serta-merta Paul akan ‘merekam’ lagu/ melodinya dan mengembangkannya alias membuat aransemen baru. Jadilah lagu baru bernuansa inkulturasi. Bertebaranlah lagu-lagu Gerejani gubahan Paul. Bisa ditemukan di buku nyanyian Madah Bakti dan Puji Syukur. Itu hanya sebagian ‘kecil’ dari sekian banyak karya Paul yang tersebar di mana-mana.

Pria yang dikenal rendah hati ini, hingga menjelang ia menghembuskan nafas terakhirnya, tak pernah berhenti berkarya. Nafas dan nadinya adalah musik dan lagu Gerejani, selain ia juga mengembangkan Paduan Suara Vocalista Sonora (Vocason) yang sudah konser ke pelbagai penjuru dunia, termasuk ke kapel pribadi Paus di Vatikan. Paul mampu meracik lagu-lagu khas Indonesia – dari etnis dan budaya – menjadi sebuah suguhan teater musik berkelas dunia yang memukau.

Kecintaan Paul pada keindonesiaan (kenusantaraan) melalui lagu-lagu lokal baik yang diciptakan maupun yang diaransemennya, barangkali, pertanda kecintaannya yang begitu besar pada negeri yang kaya melodi ini. Lewat nada dan lagu, ia ingin membuktikan cinta dan darma baktinya bagi negeri ini. Jikalau Cosmas berkarya di ranah politik, Paul berkarya sekaligus mengangkat kejayaan negeri ke level dunia melalui bidang yang dihidupi dan digelutinya hingga Sang Maha Pencipta menjemputnya.

Kepergian Paul telah meninggalkan warisan yang tak terkira nilainya dengan hitungan materi. Ia pergi untuk selamanya namun karya-karyanya akan hidup untuk selamanya. Dari tangan dinginnya telah lahir orang-orang muda yang akan meneruskan, merawat, dan melestarikan karya-karya besar sang maestro musik liturgi Indonesia tersebut.

HIDUP NO.35 2019, 1 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here