Marah di Bait Allah

112
[jezuschrystus.eu]
Marah di Bait Allah
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dalam perikop Yesus menyucikan Bait Allah (Yoh. 2:13-25), dikisahkan Yesus sangat marah dengan para pedagang yang berjualan di halaman Bait Allah. Apa yang membuat Yesus marah? Apakah karena barang yang dijual atau karena penjualannya tak adil? Adakah alasan kemarahan Yesus ini ada kaitannya dengan kisah Perjanjian Lama?

Rayindra Gusti, Denpasar

Menarik sekali pertanyaan ini. Alasan kemarahan Yesus di Bait Allah disebut secara metaforis, dengan mengutip Mzm. 69:10: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku.” Mazmur itu berisi doa ratapan, yang bercerita tentang pemazmur sebagai hamba Tuhan yang setia, namun ia dicela dan dihujat oleh saudara-saudaranya, justru karena kesetiaannya itu. Dengan mengutip Mazmur ini, Yohanes langsung menunjuk konflik yang muncul, antara Yesus Putra Allah dan para penjaga Israel, yang melupakan identitasnya. Yesus berhadapan dengan praktik pasar yang justru merusak tujuan Bait Allah.“Jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat jualan.”

Injil Synoptik menambahkan lagi: “Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (Luk. 19:46. Bdk. 21:13 dan Mat. Mrk. 11:17). Penyamun adalah pencuri lihai, tetapi sekaligus perampok yang serakah. Yesus mencium gelagat itu dalam sistem pasar Bait Allah. Mereka lihai karena menyediakan barang untuk kurban bakaran, seperti merpati, dan hewan korban lainnya. Tersedia pula uang penukar, karena Bait Allah mempunyai uang sendiri, yang berbeda dari uang yang dipakai sehari-hari. Jadi tidak masalah sebenarnya dengan barang yang dijual, karena memang dibutuhkan. Para peziarah tidak perlu repot-repot membawa semuanya dari kampung mereka yang jauh dari Yerusalem.

Yang salah justru sistem dan akibat dari penyimpangannya. “Perampok-perampok” tersembunyi memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan dari ketulusan para peziarah. Suasananya menjadi tidak adil lagi; ada persaingan, monopoli dan kelicikan. Rumah doa umat pilihan Tuhan telah menjadi sarang kerakusan dunia. Relasi dengan Allah Maha Belas Kasih pun terhalang. Tindakan Yesus ini mengingatkan kita pada Paus Fransiskus, ketika berbicara tentang sistem finansial tertentu yang lebih bersifat mengatur, daripada melayani. Aturan demi aturan biasa mencekik, tetapi semangat pelayanan umat manusia kurang diperhatikan. Aturan menjadi tanpa etika dan martabat manusia terabaikan (bdk. EG).

Lebih lanjut, kemarahan Yesus juga bermakna simbolik. Injil Yohanes membandingkan Bait Allah dengan Tubuh Yesus sendiri, sebagai lambang baru kehadiran Allah, yang menggantikan Bait Allah Yerusalem. Di dalamYesus ini terbuka jalan baru kepada Allah Bapa. Dialah Bait Allah sejati. Seperti bait Allah Yesus akan menyerahkan tubuh-Nya dibongkar dalam kematian, dan menjadi sumber keselamatan dalam kebangkitan-Nya. Di dalam Dia kita menemukan hukum baru yang mengatasi hukum lama.

Karena kematian dan kebangkitan Yesus ini menyelamatkan manusia, perombakan rumah Allah ini juga menunjuk pengangkatan martabat kita, yang disatukan dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Juga tubuh orang yang percaya merupakan rumah Allah, seperti dikatakan oleh Paulus. Oleh pencurahan Roh Kudus tubuh kita menjadi tempat sembah yang yang baru. Yesus sendiri menunjuk hal ini dalam percakapan dengan perempuan Samaria, “Akan tiba saatnya bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (bdk. Yoh.4:21-23).

Kesimpulannya, Yesus marah karena jatidiri rumah doa hancur. Tindakan itu bermakna simbolik, menunjuk pada sistem agama yang tercemar, tetapi juga sebuah langkah menuju jalan baru melalui diri-Nya. Yesus hendak mengembalikan jalan relasi sejati dengan Allah, yang akan mengangkat martabat kita.

Gregorius Hertanto MSC

HIDUP NO.31 2019, 4 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here