Sekolah Marsudirini Bogor : Siswa ABK Adalah Berkat

64
Kebersamaan siswa-siswi Sekolah Marsudirini saat bersantap siang bersama.
[HIDUP/Karina Chrisyantia]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu tetapi juga tempat bersosialisasi. Toleransi berarti mengenal sesama tanpa membedakan-bedakan.

Sekolah Marsudirini Bogor, Jawa Barat berdiri sejak 10 November 2000. Sekolah ini terletak di Perumahaan Telaga Kahuripan, Desa Tegal, Kemang, Bogor. Daerah ini cukup jauh dari pusat Kota Bogor. Meski begitu, nuansa perkotaan tetap saja masih terasa.

Yayasan Marsudiri awalnya membangun sekolah itu sama seperti sekolah-sekolah mereka pada umumnya. Sekolah dimulai dengan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan kemudian Sekolah Menengah Atas menjadi jenjang terakhir yang dibangun.

Namun, sesuatu terjadi pada tahun 2006. Saat ada anak berkebutuhan khusus (ABK) diterima bersekolah di Sekolah Marsudirini. Mereka tidak dimasukkan dalam kelas khusus, namun berbaur dengan siswa-siswa lainnya. Meski berbeda, mereka dididik menjadi pribadi yang inklusif, yang mampu menghargai dan menyadari, bahwa semua memiliki hak yang sama untuk belajar.

Sekolah Inklusif
Anastasia Theresia Sukismiyati masih mengingat bagaimana siswa ABK itu diterima bersekolah di Sekolah Marsudirini. Saat itu, sekolah baru saja dirintis, sehingga siapa pun yang mendaftar adalah berkat yang harus diterima. “Saat itu kami terima karena itu masih awal-awal sekolah merintis jadi memang butuh murid dan kami pikir, kalau bukan kami, siapa yang mau menerima,” kenang Anastasia.

Di tingkat-tingkat awal, sang siswa ABK masih mampu mengimbangi siswa yang lain. Mereka dimasukan ke kelas reguler, belajar bersama teman-temannya tanpa pendampingan khusus. Persoalan muncul ketika sang anak masuk kelas VI SD, ia mulai kesulitan mengikuti ritme teman-temannya yang lain.

Ketika menyadari keadaan ini, sekolah pun tidak tinggal diam. Berbekal tekat untuk mendidik siswa ABK itu, mereka mencari cara bagaimana mendampingi anak itu dengan lebih baik. “Waktu dia sudah kelas enam dan mau ujian, omong kosong kalau kami bisa menerima tetapi tidak membantu dia berkembang,” kenang Anastasia.

Sekolah pun bergerak, mereka mulai dengan bertanya kepada Sekolah Madina, yang terletak tak seberapa jauh dari Sekolah Marsudirini. Anastasia menceritakan, saat itu ia minta izin kepada Penanggung Jawab Yayasan Marsudirini Bogor, Suster Rosali OSF, untuk belajar bagaimana Sekolah Madina mendampingi siswa mereka yang ABK. Meski sekolah umum, saat itu Sekolah Madia juga menerima siswa ABK.

Setelah mendapatkan pengetahuan dari Sekolah Madina, setahun kemudian, Sekolah Marsudirini melapor ke Dinas Pendidikan Jawa Barat di Bandung. Anastasia mengakui, dulu para orangtua murid menyebut Marsudirini adalah sekolah nasional plus. Dalam perjumpaan dengan dengan kepala dinas, julukan “plus” untuk Sekolah Marsudirini karena mereka juga sanggup menerima dan mendampingi siswa ABK. “Ada yang menilai ‘plus’ karena dulu murid kelas 1 SD pulangnya lebih siang dari pada murid di sekolah lain. Tetapi kepala dinas waktu itu justru bilang, plusnya kami itu karena kami sanggup menerima ABK,” ujar Anastasia.

Berusaha Maksimal
Umpama ada niat, maka gunung pun akan dapat dipindahkan. Hal ini dirasakan oleh pihak Sekolah Marsudirini saat mereka membulatkan tekad ingin mendidik anak-anak ABK itu. Hanya selang setahun, karena kebesaran hati yang mau menerima siswa ABK dan yakin dapat membantu mereka, tahun 2007 Dinas Pendidikan Jawa Barat menunjuk Sekolah Marsudirini menjadi sekolah inklusif.

Dengan status ini, Sekolah Marsudirini memulai mengirim guru-gurunya mengikuti workshop untuk mengasah kemampuan mereka mendampingi siswa ABK. Tahun 2009, FX. Andang Endarno yang baru akan memulai kariernya di Sekolah Marsudirini, dipilih sebagai koordinator Special Education Need (SEN). Guru yang akrab disapa Andang ini pun segera mempersiapkan diri dengan aneka pelatihan. Setelah mengikuti beberapa pelatihan, ia semakin memahami cara pendekatan pada ABK.

Andang menjelaskan, Marsudirini menerapkan dua macam pendekatan untuk siswa ABK yang diterima. Pertama, sekolah menerapkan adaptasi cara. Dalam pendekatan ini, ABK mengikuti di kelas reguler. Di kelas reguler, siswa ABK belajar sesuai kurikulum standar nasional. Di sini, perkembangan siswa diawasi, apabila dinilai perlu, maka siswa akan dipindah ke ruang khusus agar lebih nyaman. Dalam pendekatan ini, siswa ABK didampingi shadow teacher atau pendamping yang bertujuan menjadi jembatan dalam proses belajar mereka.

Kedua, adaptasi isi. Siswa ABK belajar di ruangan khusus sesuai kurikulum khusus yang berbeda dengan standar nasional. Dengan kata lain, siswa ABK belajar mengikuti kurikulum yang dibentuk oleh Sekolah Marsudirini. Kurikulum ini disesuaikan dengan kemampuan anak.

Guru kelas reguler pun, tambah Andang, sebelum ajaran berlangsung, mendaptkan sosialisasi agar tahu karakter siswa ABK. Dengan cara ini, maka dapat diketahui seperti apa dan bagaimana pendekatannya.

Meskipun jumlah siswa ABK yang diterima tidak banyak. Namun Sekolah Marsudirini tetap terbuka bagi siapa saja. Tahun 2009 Marsudirini kembali lagi menerima dua siswa ABK. Salah satunya, adalalah siswa yang menyandang down syndrome. “Sebenarnya, agak riskan kalau kami menerimanya. Tetapi kembali lagi, siapa yang yang mau menerima jika itu bukan kami,” ujar Anastasia.

Dengan pola pendidikan inklusif yang diterapkan, Sekolah Marsudirini berusaha memberi peluang bagi siapa saja untuk belajar. Anastasia pun bersyukur, sebab siswa down syndrome yang mereka terima dapat belajar bersama siswa lain dengan baik. Bahkan, kini siswa itu sudah masuk kelas XI. “Tetapi Puji Tuhan, anak tersebut sampai sekarang sudah kelas 11 dan bisa membaca dan menulis,” tuturnya.

Menghidupkan Spirit Fransiskan
Perjalanan Sekolah Masudirni menjadi sekolah inklusif dirasa tidak semudah membalikan telapak tangan. Selain mendapat masukan, kerap kali pihak sekolah mendapatkan kritikan dari orangtua murid. “Kenapa anak saya harus sekelas dengan ABK?” begitu Andang menirukan beberapa keluhan dari orangtua.

Sebenarnya Andang memahami kekhawatiran orangtua mengenai penggabungan kelas ini. Untuk itu, Sekolah Marsudirini tak lelah menyampaikan hal ini kepada orangtua siwa. “Kami selalu coba memberi pengertian saat sosialisai kepada mereka bahwa setiap anak tidak ada yang sempurna. Sebagai orangtua, tidak bisa selalu menganggap anaknya paling hebat,” ujar Andang.

Andang bangga, saat melihat beberapa siswa ABK lulusan Sekolah Marsudirini yang bahkan dapat diterima di universitas. Hal ini membuktikan bahwa metode yang diterapkan di sekolahnya dapat berjalan dengan baik. “Anak mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, buktinya, ada ABK lulusan dari sini yang diterima di universitas,” jelas Andang.

Pihak sekolah tidak hanya memberikan pengertian ke orangtua dan guru, tetapi juga ke murid yang tidak berkebutuhan khusus. Perwakilan Yayasan Marsudirini Bogor Suster M. Christella, OSF menegaskan, bahwasanya sekolah ini menghidupkan spirit Santo Fransiskus dari Asisi tentang kesederhanan dan persaudaraan.

Kesederhanaan ini diwujudkan salah satunya dengan makan siang di sekolah. Murid-murid di sini tidak diperbolehkan membawa bekal. Semua siswa makan seadanya besama teman-temannya dengan hidangan yang disiapkan sekolah.

Sr Christella menambahkan, siswa juga dididik untuk mau menerima temannya yang berbeda. Ia melanjutkan, menggabungkan anak normal dan ABK bukanlah suatu masalah. “Justru segala kebutuhan sebagai seorang pribadi di sini terpenuhi. Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri, butuh sesamanya,” tuturnya.

Sr Christella menjelaskan, yang utama bagi siswa ABK adalah melatih kemandirian. Tetapi, ekspetasi dari orangtua siswa ABK agak membuat pihak sekolah keteteran. Beberapa orangtua memang berharap anaknya berkembang dengan cepat. Namun, apapun yang dicapai, setiap perkembangan siswa ABK tetap saja membanggakan. “Meski sederhana, misalnya anak sudah bisa ke wc sendiri, itu sudah kemajuan untuk kami,” ujar Sr Christella.

Siswa ABK kadang dinilai oleh masyarakat sebagai sosok yang terbuang dan terkucilkan. Tentu, stigma semacam ini juga sempat diterima Sekolah Marsudirini, yang dianggap sebagai sekolah buangan karena menerima mereka. “Kami terus memotivasi diri kami bahwa siapa pun yang masuk ke sekolah ini adalah berkat. Mereka di sini untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Sr Christella.

Karina Chrisyantia/Antonius E. Sugiyanto

HIDUP NO.32 2019, 11 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here