Mgr. John Liku Ada’ : Impian Terus Berpendar

134
Uskup Agung Makassar Mgr Johannes Liku Ada’ saat ditemui di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Cut Meutia Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 9/11.
Dok.HIDUP]
Mgr. John Liku Ada’ : Impian Terus Berpendar
3.5 (70%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Dikenal irit bicara, Uskup Agung Makassar Mgr. John Liku Ada’ bak sungai mengalir, menceritakan masa-masa kecilnya yang indah hingga menjadi uskup di kampung halamannya di Lampio, Kecamatan Sangala Utara, Kabupaten Tana Toraja, Makassar, Sulawesi Selatan baru-baru ini.

Cerita pertama mengenai sang ibu, Tammu yang ternyata diam-diam belajar iman Katolik. Pasalnya, ketika Diakon John Liku Ada’ ditahbiskan menjadi imam tahun 1975, ibunya belum menjadi Katolik. Begitu pun dengan ayah, Tallo Tampo. Liku Ada’ pun kaget. “Saya sudah lama belajar,” ia menirukan ucapan ibunya saat itu. Betapa girangnya hati Pastor John kala itu. Serta merta ia meminta kepada pastor paroki agar ia diizikan membaptis sang bunda tercinta di rumah mereka. Dan, dikabulkan. Jadilah ia membaptis ibunda dengan memberi nama permandian Maria. Saat ini Maria Tammu tinggal bersama anak dan cucunya di Lampio.

Cerita kedua mengenai sang ayah. Kendati istri telah dipermandikan, Tallo Tampo masih belum mau mengikuti jejak istrinya. Hingga Pastor John ditahbiskan menjadi Uskup Auxilier Makassar pada tanggal 22 Februari 1992, sang ayah masih belum dibaptis.

Sebagai uskup, Mgr John memendam rindu mendalam, setelah ibu dibaptis, suatu saat ayahnya pun dibaptis supaya mengalami kasih Yesus pula. Impian itu terus berpendar. Berita mengenai Mgr John yang berasal dari keluarga yang tidak Katolik telah sampai ke telinga Paus Yohanes Paulus II saat itu. Dalam satu audiensi, Paus menanyakan hal itu padanya.

Kerinduan Mgr John akhirnya terbalaskan. Rupanya, ketika Tallo Tambo menyaksikan upacara penahbisan anaknya menjadi uskup, hatinya terketuk dalam “dilema”: apakah ia tetap berpegang pada tradisi leluhur atau mengikuti anak, istri, dan keluarga yang telah mengimani Kristus. Keputusannya kemudian bulat. Tallo minta belajar agama Katolik, dan pada 3 Juli 1992 minta dibaptis oleh anaknya yang sudah menjadi uskup.

Seperti istri yang meminta nama baptis, Tallo pun mengajukan hal yang sama, dan diberi nama Yosef. Maka, jadilah pasangan suami istri ini meniru pasangan keluarga Nazaret, Yosef-Maria. Pengalaman iman yang panjang ini diabadikan oleh banyak orang yang mencintai uskup dan KAM, dengan mendirikan Pusat Ziarah Keluarga Kudus Nazaret Sapak Bayo-bayo, Toraja. Destinasi ini hanya beberapa ratus meter dari kediaman keluarga Mgr. John di Lampio. Yosef meninggal dunia pada tahun 2003.

Hasiholan Siagian

HIDUP NO.33 2019, 18 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here