Membumikan Lagu Etnik Liturgi

29
Lokakarya Komposisi Musik Liturgi Etnik di Swiss-Belhotel, Mangga Besar, Jakarta Pusat.
[NN/Dok.Panitia]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ada berbagai usaha dari Gereja Katolik untuk memperkenalkan lagu etnik liturgi berbagai daerah. LP3KN menjadi wadah pemersatu ragam kreativitas umat soal lagu etnik liturgi.

Gereja Katolik itu universal. Artinya, Gereja tidak asing sama sekali lagi bangsa dan budaya manapun. Juga terhadap musik etnik atau tradisional. Hanya saja musik tradisional itu harus menyesuaikan atau taat pada karakter atau kriteria Musik Liturgi Gereja, yaitu suci, seni atau indah, dan universal.

“Universal itu sesuai makna dan perutusan Gereja Katolik yang artinya dapat diterima oleh siapapun. Seperti halnya tata liturgi, doa-doa, dan sebagainya, demikian juga musik liturgi, termasuk yang bernuansa etnik dalam liturgi itu bertujuan untuk menyuburkan iman Umat Allah,” ujar Romo John Rusae,

Sekretaris Komisi Liturgi KWI dalam Lokakarya Komposisi Musik Liturgi Etnik yang diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Paduan suara Katolik Nasional (LP3KN) di Jakarta Pusat, Kamis-Minggu, 5-8/9. Lokakarya ini membahas nyanyian etnik liturgi yang dihadiri 44 peserta yang terdiri dari para komponis atau pencipta lagu berbagai daerah di Indonesia.

Dalam lokakarya ini hadir juga Ernest Maryanto, komponis nyanyian liturgi yang berbicara tentang “Kaidah Lirik Nyanyian Liturgi”. Selain itu tampil juga Romo Antonius Garinsingan MSF yang membawakan materi tantang “Menulis Melodi Nyanyian Liturgi Etnik”. Pembicara lainnya adalah Budi Susanto Yohanes tentang “Komposisi dan Aransemen Musik Liturgi Etnik.”

Festival Lagu Etnik
Romo Antonius sepakat dengan Romo Rusae, bahwa prinsip musik liturgi adalah melodinya sederhana dan secara normatif bisa dinyanyikan umat. “Melodi etnik adalah ungkapan kekayaan manusia dalam menghadapi kehidupannya, sebagai penyembahan terhadap yang transendens, dan mengungkapkan keyakinan dan perasaannya,” ujarnya.

Para peserta tampak antusias mengikuti pembekalan untuk mendapatkan kesempatan khusus untuk melakukan konsultasi langsung secara pribadi dengan para pakar. “Ini program luar biasa. Saya memang baru membuat beberapa lagu liturgi. Pelatihan semacam ini sungguh sudah saya tunggu sejak lama. Tuhan masih memberi kesempatan pada saya untuk berbuat sesuatu bagi Gereja,” tutur Yonas Parera, pencipta lagu-lagu pop yang juga hadir dalam lokakarya itu.

Dalam testimoni spontan, beberapa peserta juga menyampaikan harapan yang positif antara lain mereka berharap LP3KN harusnya menjadi pusat musik liturgi Katolik yang sesungguhnya. Baik bila dibuat beberapa batch sehingga semakin banyak komponis liturgi yang diperkaya. Bila perlu adakan secara berjenjang seperti tingkat dasar dan lanjutan, atau tim dari LP3KN terjun memberikan pembekalan di daerah-daerah, misalnya sesuai regio-regio keuskupan yang secara budaya berdekatan.

Ketua Umum LP3KN Adrianus Meliala mengatakan, bahwa dalam Pesparani II tahun 2020 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, akan ada performance lagu-lagu etnik setiap propinsi dalam format festival oleh peserta tingkat OMK. “Kami berharap bahwa suatu ketika dalam Pesparani berikutnya lagu liturgi etnik bisa menjadi bagian dari mata lomba yang diperhitungkan dalam penilaian. Khazanah musik dalam Gereja Katolik itu amat kaya. Kekayaan itu makin unik karena Gereja mengakomodir musik tradisional. Indonesia kita miliki kekayaan etnik yang luarbiasa,” harapnya.

Louis M. Djangun

HIDUP NO.37 2019, 15 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here