Fransiskus Xaverius Sutopo : Berkah Dalem Becak Pustaka

74
Mbah Topo bersama becaknya.
[HIDUP/H. Bambang S]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Becak Mbah Topo amat berbeda dari becak-becak lain. Ada perpustakaan di dalam kendaraan beroda tiga itu. Becak itu juga membawa keberuntungan.

Hampir tiap pagi hingga sore, ia bisa ditemui di Jalan Tentara Pelajar, Yogyakarta. Kalau tidak sedang mengantar penumpang, FX Sutopo –tukang becak berusia sepuh itu– selalu mangkal menunggu penumpang di seberang jalan gedung Bank Pembangunan Daerah. Kalau tidak, pada jam-jam tertentu, ia pindah mangkal menunggu pelanggan di depan pintu gerbang masuk SD Tarakanita Bumijo, yang jaraknya hanya sekitar seratus meter dari tempat mangkal semula.

Becak Sutopo beda dengan becak umumnya. Di belakang jok penumpang ditaruh rak-rak buku beragam judul. Ada buku pendidikan, agama, sejarah, kisah pengusaha sukses, komik, kesehatan, dan lain-lain. “Ini namanya becak literasi. Becak yang melayani dua jasa sekaligus. Selain mengatar penumpang, juga jasa perpustakaan,” tutur Mbah Topo, sapaanya, saat ditemui di lokasi mangkalnya, Minggu, 28/7.

Becak Mbah Topo berhias beberapa aksesoris tulisan, seperti ajakan membaca buku, sapaan ‘Berkah Dalem’, ‘Becak Pustaka Gratis’, dan di samping kiri becaknya tertulis ‘Keren Tanpa Narkoba’. Aksesoris tulisan di becaknya itu bikinan Mbah Topo sendiri. Dulu, ia sempat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta.

Becak Keberuntungan
Buku-buku di becak Mbah Topo bisa dibaca di tempat oleh siapa pun. Buku-buku tersebut juga boleh dipinjam gratis dan dibawa pulang. “Kalau anak-anak SD, sukanya baca-baca komik,” tutur Mbah Topo.

Ketika ada yang pinjam dan membawa pulang buku, ia tak pernah mencatat nama maupun alamat si peminjam. “Saling percaya saja,” ucapnya enteng. Lantaran tak mencatat identitas peminjam, kadang buku-buku tersebut tak kembali. “Ada pernah seorang yang mengaku mahasiswa pinjam empat buku. Karena saya tidak kenal peminjamnya, sampai sekarang buku-buku itu tidak kembali. Tapi itu no problem,” ucap Mbah Topo, ikhlas.

Ia yakin, Tuhan akan mengganti buku-bukunya yang tak kembali itu. Dan itu terbukti, Mbah Topo kerap mendapat sumbangan buku oleh instansi pemerintah maupun pihak swasta. “Saya pernah diundang Perpustakaan Kota Yogya dan diberi buku-buku. Oleh Percetakan Kanisius, juga pernah diundang dan saya disuruh mengambil 40 buku di tokonya,” tuturnya senang.

Becak pustaka Mbah Topo sering membawa keberuntungan. Saat ia berpartisipasi dalam lomba desain moda tranporasi tradisional –diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan DIY pada 1997–, ia mendapatkan penghargaan. “Saya satu-satunya tukang becak yang ikut lomba, karena peserta lain semua mahasiswa se-Indonesia,” katanya.

Becak Mbah Topo juga pernah diikutikan dalam karnaval literasi. Dan, saat ada lomba video pustaka bergerak, becaknya tampil sebagai juara.

Sutopo mengayuh becak sejak 2004, selepas pensiun sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Kodim/0734 Yogyakarta. Ia masuk kerja di lingkungan tentara itu pada 1977, semula sebagai tenaga honorer. “Saya bisa kerja di Kodim karena pandai menggambar. Saat itu, Kodim kebetulan butuh orang gambar,” cerita bapak tiga anak yang sudah bercucu itu. Baginya, mbecak atau profesi sebagai penarik becak berarti olah raga. “Prinsipnya, saya tidak akan pensiun dari tukang becak. Nantinya yang akan mensiun, Tuhan sendiri,” ucap pria usia 72 tahun yang gemar gerak badan ini.

Tiap dua hari sekali di tempat mangkal, Mbah Topo berolah raga selama 30 menit untuk menjaga stamina tubuh. “Pada pagi hari saya naik-turun trotoar jalan, dan senam aerobik sendiri pakai iringan musik radio,” tutur Mbah Topo, yang selalu setia ditemani radio kecil miliknya.

Gemar Membaca
Ide Mba Topo menjadikan becaknya sebagai perpustakaan karena sejak remaja dirinya gemar membaca. Mbah Topo menjadi Katolik, juga lantaran suka baca bermacam buku, termasuk kisah santosanta. “Saya senang baca ayat Yohanes dan kisah Rasul Paulus. Paulus bisa seperti itu, kenapa saya tidak?” batin Sutopo kala itu.

Mbah Topo baru dibaptis ketika kelas tiga SMA. Ia dipermandikan oleh Romo B. Liem Bian Bing SJ di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, pada 1968. “Keluarga saya, istri, anak dan cucu-cucu saya, semua Katolik. Saya dulu mendapatkan Theresia Sudarinah, yang sekarang jadi istri saya, karena sama-sama aktif ikut kor di Gereja St Albertus Agung Jetis. Istri saya suara alto, saya bas. Tiap pulang kor, dia saya antar,” kenang umat Paroki Jetis ini.

Awal becaknya dijadikan becak literasi, bermula ketika Topo menerima sumbangan buku. Suatu siang, seperti hari-hari biasanya, ia sedang menunggu siswa SD Tarakanita yang jadi langganan becaknya.

Saat menanti bubaran sekolah, ia memanfaatkan waktu dengan membaca buku bawaanya. Tiba-tiba salah seorang ibu yang sedang menjemput anaknya mendekati dan menawarkan apakah dirinya berkenan menerima sumbangan buku.”Esoknya, saya benar disumbang 40 judul buku. Dan, untuk menghargai yang nyumbang, becak saya kemudian saya pasang rak untuk menyimpan buku-buku pemberian itu,” tuturnya.

Berikutnya, menyusul ibu-ibu lain yang juga menjemput pulang anaknya, memberi setumpuk buku. Maka, Mbah Topo menambah rak buku di becaknya. Kini, di rak becak pustaka itu terisi sekitar 100 judul buku, beratnya setara dengan satu orang penumpang.

Mbah Topo memang prihatin melihat generasi muda sekarang jarang membaca. Mereka lebih tertarik berselancar di media sosial. “Padahal, (membaca) buku adalah sumber ilmu pengetahuan yang tak terbatas,” ujar kelahiran Yogyakarta, 7 Juni 1947.

Sebelum punya tempat mangkal tetap di Jalan Tentara Pelajar, Mbah Topo keliling mencari penumpang.

Berkat Doa
Suatu siang di kawasan Pojok Beteng, saat dirinya sedang melepas lelah di becak, didatangi seorang nenek untuk minta diantar ke wilayah Ngoto, Bantul. “Jaraknya cukup jauh, sekitar lima kilometer. Meski nenek itu hanya punya uang Rp 3500, tetap saya tarik (becak). Saya kasihan,” ucap Mbah Topo.

Ketika penumpang wanita tua itu diturunkan di desanya, sempat mengucapkan terima kasih. “Besok rezekimu akan banyak,” demikian Mbah Topo menirukan doa wanita renta yang baru saja menumpang becaknya. Dan, benar, donga atau doa nenek tersebut terwujud. Hari berikut Mbah Topo mendapat tarikan penumpang pria yang baru keluar dari hotel untuk diminta diantar ke toko bakpia Patuk.

Selanjutnya mengantar ke tempat belanja batik di Bantul. Sama penumpangnya, ia dikasih upah Rp 200 ribu. Dan dari toko batik masih diberi amplopan persenan berisi enam ratus ribu rupiah. Demikian pula dari toko bakpia, ia juga mendapatkan persenan. “Karena tamu yang saya antar, belanja satu dus besar batik, saya diperseni dari toko batik, banyak. Padahal, paginya saya juga sudah ngumpulkan uang tarikan becak sekitar Rp 200 ribu. Jadi, seharian itu saya membawa pulang uang banyak, lebih dari Rp 1 juta,” ucap Sutopo mensyukuri.

Selama mbecak, Mbah Topo hampir selalu mengenakan baju bermotif batik, Katanya, supaya tampak orisinil, sebagai tukang becak di Yogya,” pungkasnya.

H. Bambang S

HIDUP NO.34 2019, 25 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here