Kunjungan Gereja Ibu Teresa ke Lapas Kelas III Cikarang

155
Hasil kerajinan warga binaan Lapas Kelas III Cikarang. (FOTO: ALBERTUS KUKUH)
Kunjungan Gereja Ibu Teresa ke Lapas Kelas III Cikarang
2.6 (51.43%) 7 votes

HIDUPKATOLIK.com
“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku”.

Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

Setiap Selasa di minggu kedua setiap bulannya, diadakan kunjungan rutin ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Cikarang, dari Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa. Kali ini pada September 2019, turut serta komunitas Legio Mariae, Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK), Komunitas Susteran, Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK), dan Bidang Pelayanan Paroki. Lokasi Lapas berada di Jl. Cilampayan, Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Cikarang Pusat.

Semua tamu yang masuk lapas harus ijin terlebih dahulu sesuai prosedut yang berlaku.
(FOTO : M. DIDIT)

Di acara tersebut diadakan misa secara katolik, yang dipimpin langsung oleh Romo Kepala Paroki Cikarang, Rm. Antonius Suhardi Antara Pr. Misa diikuti oleh 86 warga binaan yang beragama Katolik dan Kristen, dari total keseluruhan penghuni lapas 1.485 orang. “Bagi warga binaan yang sering ikut pelaksanaan perayaan doa dari berbagai gereja dijadikan salah satu bentuk penilaian untuk berkelakuan baik selama tinggal di lapas,” kata Mario, Leo dan Franky, dari tahanan pendamping (Tamping) lapas.

Manusia sebagai makhluk sosial di dalam setiap kehidupan harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini menunjukkan bahwa proses komunikasi sebagai proses integrasi sosial antara individu dengan lainnya dalam kelompok masyarakat.

“Pada prinsipnya para warga binaan yang saat ini tinggal di lapas sama dengan kita, sama sebagai makhluk sosial yang tidak luput dari kesalahan, sehingga perlu diadakan pembinaan dan bimbingan untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan sebagai makhluk citra Allah,” ucap Albertus Kukuh dari Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Paroki Cikarang.

Foto bersama di halaman Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Cikarang

Sebuah lembaga pemasyarakatan tentunya memiliki tujuan untuk membuat warga binaannya kembali diterima di lingkungan masyarakat. Salah satu upaya yang digunakan adalah dengan membuat program pembinaan. “Beberapa kali kami berkunjung ke workshop lapas, sebagai bentuk pembinaan dalam karya nyata mereka, seperti membuat kerajinan berupa miniatur yang terbuat dari kayu dan bambu, dan hasilnya sangat luar biasa bagus sekali,” ucap Albert menambahkan.

Program pembinaan tersebut untuk membuat narapidana diharapkan bisa memiliki keterampilan, juga memperbaiki dan meningkatkan budi pekertinya, agar menjadi manusia yang lebih baik. Sehingga kedepannya lebih baik dan tidak mengulangi kesalahannya di masa lalu, serta dapat mengintegrasi dengan masyarakat setelah keluar dari lapas.
(LOURENTIUS EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here