Pastoran Atma Jaya : Etalase Mahasiswa Katolik

63
Anggota Pastoran Atma Jaya mengikuti malam keakraban.
[Dok.PAJ]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Mahasiswa pergi ke kampus untuk kuliah. Tetapi kebutuhan seorang pribadi tidak hanya sampai ditahap akademis saja tetapi juga berorganisasi dan pelayanan.

Pastoran Atma Jaya adalah unit kegiatan khusus di bidang rohani yang dimiliki oleh Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta. Sebagaimana ditegaskan dalam Kontitusi Apostolik Ex Corde Ecclesiae, pelayanan pastoral merupakan aktivitas yang bertujuan memberikan kesempatan kepada para anggota komunitas di universitas untuk mengintegrasikan prinsip moral dan religi, dengan studi akademik dan aktivitas non akademik.

Pelayanan pastoral di Unika Atma Jaya sudah berjalan sejak tahun 1980. Namun, saat itu pelayanan pastoral belum memiliki tempat permanen dan imam pendamping. “Dulu ibadahnya di ruang kelas saja,” ujar Paulus Ari Triwibowo yang akrab disapa Bowo.

Seiring perjalanan waktu dengan adanya penambahan gedung kampus, dibangun salah satu ruangan untuk kapel yang diberi nama Kapel St Albertus Magnus. Kemudian di tahun 1992, unit kegiatan khusus (UKK) Pastoran Atma Jaya resmi dibentuk. Dikarenakan St Albertus Magnus dirayakan setiap 15 November, maka hari itu juga ditetapkan sebagai hari jadi Pastoran Atma Jaya.

Pada tanggal 25 November 1992 Uskup Agung Jakarta Mgr Leo Seokoto SJ menunjuk seorang imam untuk melayani Pastoran Atma Jaya. Pusat pelayanan pastoral kemudian diubah nama menjadi Paroki Kategorial Unika Atma Jaya. Sejak itu, Pastoran Atma Jaya diberi tempat berupa ruang pastor dan sekretariat. “Dulu saat merintis memang sulit, sekarang ini, masanya merawat apa yang sudah ada dan itu juga tidak mudah,” tambah Bowo pendamping di Pastoran Atma Jaya.

Pastoran Universal
Awalnya Pastoran Atma Jaya hanya berpusat di kampus Semanggi. Saat Unika Atma Jaya berkembang dan memiliki dua lokasi kampus di Pluit (Fakultas Kedokteran) dan Bumi Serpong Damai (BSD), Pastoran Atma Jaya pun melebarkan sayap.

Lokasi ini cukup berpengaruh bagi Pastoran Atma Jaya. Tadinya Pastoran Atma Jaya kampus Semanggi memiliki tujuh cakupan wilayah sesuai dengan fakultas, tetapi karena beberapa kampus sudah pindah ke kampus BSD, wilayah Pastoran Atma Jaya Semanggi berkurang menjadi lima wilayah.

Gabriella Yoan Rosaria menceritakan, Pastoran Atma Jaya kerap kali dipandang sebelah mata. Tidak sedikit mahasiswa yang mengganggapnya sebagai wadah untuk berdoa melulu. “Mungkin banyak yang kira di Pastoran Atma Jaya kegiatanya doa terus padahal enggak juga.”

Pelayanan di Pastoran Atma Jaya mirip dengan yang berada di paroki. Yoan mengungkapkan, ada lima bidang pelayanan yakni, liturgi (kegiatan liturgis), diakonia (pelayanan), kerygma (pewartaan), koinonia (persekutuan), dan bidang eksternal. “Bidang eksternal itu bagian yang menghubungkan Pastoran Atma Jaya dengan Komunitas Mahasiswa Katolik di kampus lain dan juga ke unit kegiatan lainnya,” tambahnya.

Selain itu, Pastoran Atma Jaya memiliki tujuh bidang kategorial. Kegiatan di Pastoran Atma Jaya dibagi menjadi dua, kegiatan rutin dan tahunan. Kegiatan rutin salah satunya adalah pelayanan misa harian dari Senin-Sabtu dan termasuk Misa tematis.

Kegiatan tahunan terbesar adalah Magnus in Action (MIA). MIA adalah acara malam keakraban (makrab) dan salah satu ajang promosi Pastoran Atma Jaya kepada mahasiswa baru di setiap awal tahun ajaran baru. “Unit kegiatan di kampus (UKM) rata-rata membuat makrab untuk menerima anggota barunya,” ujar Yoan.

Berbeda dengan UKM lain, meski tidak ikut makrab sekalipun, mahasiswa tetap bebas bisa ikut serta dalam kegiatan di Pastoran Atma Jaya. “Kami terbuka untuk siapa saja. Termasuk bagi mahasiswa non Katolik,” ujar umat Paroki St Servatius Kampung Sawah ini.

Yoan menceritakan, ada juga beberapa mahasiwa non Katolik yang bergabung. Namun, pada umumnya mereka terlibat hanya dalam kegiatan di luar liturgis. “Mereka bisanya menjadi panitia dengan membantu sebagai bendahara, seksi dokumentasi atau perlengkapan,” jelas mahasiswa psikoligi ini.

Bagi Yoan, selama berproses di Pastoran Atma Jaya, selain bisa terus pelayanan, ia pun mendapatkan pengalaman organisasi dan pendewasaan diri. “Kami belajar untuk bagi waktu, bagaimana caranya agar aku belajar di kelas tapi tidak meninggalkan tanggung jawab aku di Pastoran Atma Jaya,” ujarnya.

Role Model Bagi Mahasiswa
Tahun berganti tahun, Bowo dan Yoan merasakan mahasiswa yang aktif bergabung di Pastoran Atma Jaya relatif sangat sedikit. Akibatnya, keduanya mengakui, regenerasi untuk pengurus pun terhambat. Untuk itu, Pastoran Atma Jaya membuat regulasi untuk pergantian pengurus dilakukan setiap bulan Desember. “Jadi mahasiswa baru yang bergabung dari bulan Agustus bisa mengenal Pastoran Atma Jaya lebih dulu selama empat bulan.”

Saat ini, Pastoran Atma Jaya sedang menyiapkan wadah mahasiswa Katolik di Kampus Unika Atma Jaya Bumi Serpong Damai. Di kampus baru ini, Pastoran Atma Jaya pernah membuat wisata rohani dan animonya banyak. Ini membuktikan bahwa mahasiswa masih ada yang mau berpartisipasi asal ada wadahnya.

Sejak beberapa bulan lalu, Pastoran Atma Jaya dilayani oleh seorang imam pendamping baru Pastor Albertus Yogo Prasetianto. Ditugaskan di tengah mahasiswa, Pastor Yogo melihat Pastoran Atma Jaya sebagai wadah bagi mahasiwa Katolik untuk membina semangat Kristiani, unggul, profesional dan peduli. Pastor Yogo mengakui, penanaman nilai ini butuh proses.

Pastor Yogo menegaskan, Pastoran Atma Jaya tidak sekedar menumbuhkembangan sisi rohani seseorang. Kegiatan di Pastoran Atma Jaya dapat membina dan memimpin diri mereka sendiri. Berproses di kegiatan Pastoran Atma Jaya menjadi kesempatan untuk mahasiswa mengalami pembinaan untuk memimpin dirinya sendiri. “Dari nama depannya saja sudah Unika, saya berharap, nantinya Pastoran Atma Jaya dapat menjadi role model bagi mahasiswa Katolik,” tandasnya.

Karina Chrisyantia

HIDUP NO.34 2019, 25 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here