Keluarga dan Tempat Pengudusan

42
Keluarga dan Tempat Pengudusan
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Akhir-akhir ini saya merenungkan jawaban pertanyaan saya kepada beberapa keluarga tentang, “Apakah kalian masih punya waktu untuk berdoa keluarga?” Biasanya dengan malu-malu mereka akan menjawab, “ehm, tidak pernah Romo” atau “Wah Sibuk Romo!”

Kali lain saya menemukan fenomena banyaknya tempat ziarah di Indonesia. Teman yang bekerja di salah satu biro tour bisa memberangkatkan satu rombongan setiap bulan berisi sekitar 20-30an orang. Ada tanya di dalam hati saya, apakah doa-doa di tempat ziarah itu lebih manjur dari doa di keluarga-keluarga? Saya beranikan diri mengatakan hal ini, dengan rasa takut kalau menyinggung banyak orang, karena saya bertanya-tanya, “Kok bisa ya banyak orang Katolik sangat suka mencari Tuhan di luar rumahnya, tetapi kesulitan mencari di rumah sendiri?” Ada kekhawatiran jangan-jangan rumah orang Katolik tidak lagi menjadi Gereja, tempat untuk berkumpul dan berdoa.

Keluarga Jantung Iman
Keberanian saya untuk mempertanyakan hal ini terdorong oleh tulisan Almarhum Pastor Manguwijaya dalam bukunya Gereja Diaspora. Ia sudah mempertanyakan hal ini pada 1998. Dikatakannya, “Pernah penulis melihat peristiwa, ada Misa Kudus di gereja … yang berlangsung dari pukul 16.00 sampai 22.00. Dapat dibayangkan bagaimana anak-anak mereka terlantar di rumah….”

Tentulah kita tidak boleh menjatukan vonis hitam putih, tetapi bila kita jujur dan berakal sehat, intuitif kita akan merasa something wrong, ada sesuatu yang tidak beres terjadi di sini. Suatu korsleting yang membahayakan…. Yang beribadat bermacam-macam selama enam jam di Gereja dapat diramal pasti akan hancur kehidupan iman keluarganya. Jantung rahasia benteng pertahanan Gereja Diaspora memanglah keluarga inti atau extended family (keluarga yang diperluas) bagi kasus-kasus keluarga inti yang tidak beres”. (Mangunwijaya 1999, 71).

Konteks pembicaraannya adalah mempertanyakan peran keluarga inti sebagai sarana pengudusan. Dalam hal ini, saya bersepakat dengan Pastor Mangun, bahwa memang keluarga perlu dikuatkan sebagai tempat yang menguduskan. Doa keluarga menjadi salah satu indikasinya.

Secara sosiologis, salah satu ciri dari masyarakat kita saat ini adalah masyarakat yang cair. Orang-orang sangat mudah untuk mengikuti arus yang menarik bagi mereka karena tidak ada otoritas superpower (termasuk agama) yang menjadi acuan langkah hidup (Bauman 2013). Hal ini sudah disadari oleh Gereja Katolik, dan kita diminta untuk memikirkan dengan sungguh hal ini. Paus Fransiskus mengingatkan keluarga dalam Surat Apostoliknya, Amoris Leatitiae, “Maka, keluarga merupakan tempat di mana orangtua menjadi guru pertama iman bagi anak-anak mereka. Ini adalah tugas “pekerja terampil”, yang diteruskan dari satu orang ke orang lainnya: “Dan apabila anakmu akan bertanya kepadamu di kemudian hari … maka haruslah engkau berkata kepadanya …” (Kel 13:14).

Rasanya ajakan ini merupakan panggilan nyata dari Gereja kepada orang tua dan keluarga-keluarga untuk kembali menyadari bahwa keluargalah sumber pertama iman Katolik, bukan tempat-tempat ziarah itu. Fakta bahwa ikatan-ikatan di dalam hidup bersama semakin renggang entah karena jarak tempat atau jarak generasi atau jarak yang tercipta karena alat komunikasi, tidak boleh menjadi alasan bahwa pendekatan rohani di dalam keluarga lalu berhenti.

Rasanya, ajakan Pastor Mangun dan Paus Fransiskus ini jelas, “Sebelum kamu mencari Tuhan di luar sana, carilah dulu Tuhan di dalam keluargamu.” Ada orang tua yang mengatakan, “Romo, saya selalu mendoakan anak saya agar jadi anak yang berguna.” Belajar dari ajaran kedua tokoh di atas, saya menjawab, “Apakah Anda masih berdoa bersama mereka?” Lagi-lagi litani alasan di awal tulisan ini muncul kembali dan saya dibuat kecewa karenanya.

Semoga Anda dan keluarga Anda tidak mengalami apa yang Pastor Mangun prihatinkan, sibuk mencari Tuhan di luar, lupa mencari bersama-sama dengan keluarga di rumah. Kalaupun itu yang terjadi, tampaknya masih ada waktu untuk membuat perubahan. Semoga esok lebih baik dari hari ini.

Martinus Joko Lelono

HIDUP NO.34 2019, 25 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here