Mariposaku yang Tersesat

126
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Namaku Mariposa, lengkapnya Rosa Mariposa. Belakangan baru aku tahu bahwa nama itu menggunakan bahasa Latin dan Spanyol. Nama itu adalah pemberian pamanku, yang bekerja di sebuah perusahaan milik orang Spanyol. Benar yang dikatakan pepatah kuno bahwa nama adalah tanda. Rosa artinya bunga mawar dan Mariposa artinya kupu-kupu. Akulah bunga mawar kupu-kupu

Aku dilahirkan dari sebuah keluarga yang sangat miskin dan sederhana. Sebenarnya tidak sederhana tapi karena keterbatasan dan kekurangan ekonomi, mau tidak mau, suka tidak suka harus hidup sederhana.

Ayahku meninggal ketika aku baru berusia 2 bulan. Menurut kisah ibu, ayah adalah seorang petani yang sangat rajin. Ia pribadi yang pendiam tapi selalu tersenyum, kata ibu dia mau menikah dengan ayah karena dipinang dengan senyuman bukan dengan kata-kata gombal. Aku sangat merindukan senyumannya tapi sayang dia telah pergi dimakan waktu. Ayah meninggal karena penyakit kanker otak.

Kepergian ayah membuatku bertanya-tanya tentang keberadaan Sang Pemberi hidup. Benarkah Dia ada? Jika ada mengapa harus memanggil ayah kembali kepada-Nya sebelum ayah meninabobokanku. Tapi itu hanyalah masa laluku. Mungkin aku tak akan pernah menyesali kepergian ayah dan mengikhlaskannya jika aku punya pekerjaan yang layak, bukan bekerja seperti yang aku jalani saat ini. Jika aku masih bekerja seperti ini alangkah baiknya jika aku pergi cepat-cepat menyusuli ayah dan pasti aku akan bahagia bersamanya di alam baka.

***

Sejak kecil aku tinggal bersama ibu di sebuah gubuk reyot peninggalan ayah tercinta. Ibuku bekerja sebagai penjual sayur di sebuah pasar mingguan. Pasar hanya dibuka pada hari Rabu dan Sabtu. Ibu menghabiskan hari-hari yang lain untuk mencangkul tanah, menanam sayur, dan merawatnya.

Daerahku sangat subur seperti sebuah lirik lagu ‘tongkat dan kayu jadi tanaman’. Aku merasa iba dengan ibuku yang sering sakit-sakit tapi masih terus semangat bekerja. Dalam hati kecilku aku selalu bermimpi tuk membahagiakan ibu dengan cara apa pun. Niat itu selalu menggema dalam diriku dan terbawa dalam hidup harianku, hingga aku tumbuh dewasa.

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMP karena keadaan ibu yang semakin parah. Sebenarnya aku tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali, tetapi karena di kampungku pendidikan sekolah dasar gratis, maka aku dipaksa ibuku untuk bersekolah, sekadar untuk bisa membaca dan menulis.

Aku bersyukur kepada ibu yang memaksaku bersekolah. Seandainya aku tidak bersekolah mungkin aku adalah manusia primitif yang hidup pada era modern; era serba canggih; era milenial. Sayangnya aku skeptis dengan semuanya itu. Orang-orang modern terlalu mengagung-agungkan semua benda-benda canggih, tapi tanpa sadar ditipu oleh benda-benda itu. Bahkan dibodohi.

Namun, kadang aku merasa asing dengan diriku sendiri, terlantar di tengah keramaian. Teman-temanku sibuk dengan handphone yang serba canggih, memikat dan menawan hati sedangkan aku hanya diam membisu, bagai seorang difabel tapi sejatinya aku terlahir sempurna.

Entah apakah perasaan itu dilarang atau pun tidak, tapi harus kuakui bahwa aku merasa iri dengan teman sebayaku. Mereka tidak mengatakan aku orang kuno, miskin, terbelakang, ketinggalan zaman atau barisan-barisan litani keburukan lain kepadaku. Tapi aku sadar dan tahu aku manusia klasik yang hidup pada zaman milenial. Entah apa itu milenial! Yang pasti kata itu tidak asing di telingaku, karena teman-temanku sering mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang hidup pada zaman milenial.

Aku benci menjadi diriku yang miskin, tapi di satu sisi aku bangga dengan diriku. Aku satu-satunya gadis yang tahu apa artinya tegur sapa dalam kehidupan harian dan aku juga satu-satunya gadis yang mampu menciptakan keramaian di tengah keheningan yang ‘dibuat-buat’. Mungkin kalian akan membenciku jika aku mengatakan keheningan yang dibuat-buat, tetapi itu sebuah realita pada zaman ini, berkumpul bersama tapi asyik sendiri; asyik dengan dunianya masing-masing; asyik dengan fbnya; asyik dengan gamenya dan asyik-asyikan yang lain….. ah malang sekali era milenial ini; banyak orang tapi rasanya seperti sendiri.

***

Sombong…..!Banyak yang mengatakan sebaiknya jadilah orang yang tidak sombong! Tapi aku merasa aku harus sombong! Aku telah menjadi wanita terkaya sekarang. Wanita miskin yang dijelma menjadi gadis miliarder. Mengapa tidak? Belum bekerja saja aku sudah punya uang sebanyak ini, apalagi jika nantinya aku bekerja.

Keuntungan datang menghampir, tiba-tiba saja sore itu di tengah pergulatanku tentang kemiskinan dan kehampaan, muncul seorang pria tampan yang menawan dan memukau, bukan hanya auranya yang menarik tapi dompetnya juga memikat hatiku yang miskin dan malang ini.

“Haii nona cantik!” Panggilannya lembut. Sapaan pria itu menggetarkan hatiku.

“Hai juga Ka…” jawabku sedikit gugup, aku tak kuasa menahan gejolak dalam diriku melihat pria yang elegan dan seksi itu. ‘Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari surga,’ aku membatin ataukah dia ini jodoh yang Tuhan kirimkan untukku aku terus berandai-andai.

“Nona namanya siapa?” tanyanya.

“Ma..rie..” balasku singkat, sambil mengucek-ucek mata karena tak percaya dengan pribadi yang berdiri kokoh di depan. “Mungkin pria ini hanyalah hasil ilusiku. Seumur hidup, aku tak pernah bersua dengan pria yang setampan dan se…..” belum selesai aku berimajinasi tentangnya dia sudah menyanjung dan memuji namaku.

“Nama yang manis dan indah sekali!”

“Mary kerjanya apa sekarang yeach?” lanjut pria itu.

“Aku belum punya kerja, Ka. Nganggur” balasku lesu.

“Maaf yeach udah kepo!”

“Tidak apa-apa Ka. Ka namanya siapa?” Aku balik bertanya

“Namaku Sudjono. Aku mau cari orang buat kerja di perusahaan milik bapak kecilku di luar negeri. Kamu mau kerja di sana?” jawab pria itu

“Hmmmm gajinya berapa, Ka? Ongkos perjalanannya gimana? Aku juga belum punya KTP, ribet jadinya nanti kan, Ka?” Sahutku penuh antusias dan rasa ingin tahu.

“Ongkos perjalanan dan persiapan awalnya nanti ditanggung perusahaan, semuanya ada 20 juta dan gaji kamu jika bekerja nantinya adalah 5 juta per bulan.” jelas Ka Sudjono penuh wibawa.

“Wow…. Luar biasa besar uangnya yeach, Ka” ungkapku penuh keheranan. ‘Pantas banyak yang mau bekerja di luar negeri, ternyata gajinya sangat besar, bisa kaya dalam waktu semenit’ aku membatin.

“Apakah kamu mau kerja di luar negeri, Nona Mary?” tanya pria itu menanti jawaban kepastianku.

“Kamu nantinya akan ditemani oleh sepuluh gadis yang juga seusia dengan kamu dari kampung tetangga. Kamu tidak usah takut yeach” sambung pria itu.

“Jika banyak orang yang ikut, aku juga mau, Ka.” jawabku

***

Uang! Siapa yang tidak mau uang? Jika ada yang menolak uang, ia menolak untuk hidup. Hanya orang bodoh yang mau menolak uang. Keadaan ekonomi ibuku yang kurang dari cukup membuatku berasumsi uang adalah segalanya bagiku dan juga bagi kehidupan ibu. Uang memang bukanlah segala-galanya tapi segala-galanya butuh uang. Aku berada dalam situasi dilematis, tak mengapa kulelang tubuhku asal ibu bahagia dan lebih jauh dari itu agar aku bisa bertahan hidup, agar aku bisa mendapat sepiring nasi. Nyawaku ada di tangan mereka yang setiap saat hanya memikirkan uang.. uang dan uang. Bagi mereka tubuhku yang sensual adalah sumber penghasilan uang yang tak pernah lekang dimakan waktu. Aku dipaksakan menjadi wanita malam penghibur pria ber‘uang’ di negeri ini. Tak kerja tak makan, tak makan tak hidup. Ahhhhh…. aku tak mau mati. Biar kugadai seluruh tubuhku, asal jangan jiwaku.

Aku berpikir di negeri ini tak ada yang gratis, menghirup udara demi kelangsungan hidup pun harus dibayar.

Aku tak mau ibu sedih jika aku mengisahkan kisah ini kepadanya. Aku menyesal datang ke negeri ini. Untuk kerabatku yang punya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan otak untuk berpikir; janganlah sekali-kali kamu percaya kata orang bahwa negeri ini berpenghasil susu dan madu. Lebih baik negeri kita tercinta; Indonesia, dari pada harus berada di negeri penuh dukalara dan persaingan ini.

Aku malang di ruang binal para pria yang haus akan kenikmatan. Aku hanyalah kupu-kupu pemuas nafsu birahi. JANGAN IKUT AKU! Lebih baik makan singkong rasa cinta khas Indonesia daripada makan keju rasa cuka negeri beludak. Aku kupu-kupu yang tersesat! Aku mau pulang.

*Nunuh Amasat, July 2018.

Fransiskus SarDhy

HIDUP NO.34 2019, 25 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here