Menyiapkan Diri Bertemu “Komponis Surgawi”

75
Keluarga besar Almarhum Paul Widyawan.
[Dok. PML]
Menyiapkan Diri Bertemu “Komponis Surgawi”
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ia tidak mau merepotkan banyak orang. Bahkan di akhir hidupnya, Paul Widyawan sudah menyiapkan diri bertemu “Sang Komponis Sejati”.

Saat sakratul maut di depan matanya, sebuah permintaan diucapkan Paul Widyawan kepada adik bungsunya Theresia Suryanti. “Tolong nyanyikan lagu Ave Maria.”

Mendengat permintaan itu, Theresia menyanggupi. Lagu gubahan Franz Schubert itu didaraskan Theresia. Dalam nada pasrah, nama Bunda Maria diucapkan Theresia. Lirik demi lirik dibawakan sembari terus mengusap kepala Paul. “Mas Wid, (sebutan khas Paul), ini lagu kesukaanmu. Adikmu akan menyanyikan untukmu,” bisik Theresia di telinga Paul.

Paul sadar, meski matanya tertutup. Beberapa kali bibirnya mengikuti irama suara Theresia. Di atas tempat tidurnya, Paul terlihat begitu manis. Theresia mengatakan, tak pernah melihat kakaknya tertidur dengan damai. Lagu Ave Maria menjadi lagu tidur Paul untuk selamanya.

Pengarang lagu-lagu Gereja ini tutup usia dalam kedamaian pada di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, Sabtu, 10/8 tepat pukul 02.05. Sambil memegang tangannya, Theresia berbisik, “Mas Wid, pergilah dengan damai. Bunda Maria menantimu. Terus lantunkan nada surgawi bagi Tuhan.”

Keluarga tak merasa heran dengan kematian Paul. Bagi mereka, Paul sudah menyiapkan segalanya dengan indah. Ia sudah merasa siap bertemu saudari maut. Beberapa kesempatan, Paul menunjukkan sikap manja dengan meminta adik-adiknya untuk sesekali menengoknya di Yogyakarta.

F.X Widyastuti, seorang adik perempuan yang berdomisili di Bumi Serpong Damai, Tanggerang menuturkan, Paul bukan tipe orang yang ingin menyusahkan orang lain apalagi keluarga. Kakak yang dikasihinya itu sudah menyiapkan segalanya sewaktu-waktu dirinya dipanggil Tuhan. Wajar, Paul beberapakali meminta Widyastuti ke Yogyakarta. “Aku meh kentong (hampir mati). Kalau kamu tidak segera pulang, nanti kamu hanya menemukan aku membusuk di kamar,” kata Widyastuti menirukan pesan kakaknya.

Mas Paul, tambah Widyastuti, memang sudah sangat siap dipanggil Tuhan, termasuk menyiapkan seperangkat pakaian Jawa, yang akan dikenakan menghadap Bapa di Surga. Paul juga meninggalkan uang tabungan yang dititipkan kepada Pimpinan Musik Liturgi (PML) Yogyakarta, Romo Karl Edmund Prier SJ. Biaya itu diberikan untuk keperluan biaya kematian dirinya.

Semua Situasi
Sejak 2003, komponis lagu Gereja ini sudah terserang stroke ringan. Meski begitu, tahun-tahun berikutnya ia tetap aktif mengikuti kongres musik dan liturgi di berbagai negara seperti Thailand, Brazil, dan Spanyol.

Tujuh tahun berselang, 2010, pencipta lagu-lagu liturgi ini kembali terkena stroke. Serangan stroke kedua ini terbilang cukup berat. Paul mencoba membatasi diri, tetapi sia-sia. Semangat bermusik terus digulutinya. Bersama tim PML Yogyakarta, Paul berlokakarya komposisi musik lagu inkulturatif ke daerah-daerah.

Dalam beberapa kesempatan, tim medis pernah memintanya untuk berhenti sejenak dari rutinitasnya karena bukan saja sakit stroke, tetapi juga komplikasi jantung. Paul berkeras hati atas diagnosa tim medis. Ia melayani dalam kesadaran, dirinya masih kuat. Ia terus tampil sebagai pembicara dalam workshop dan pelatihan musik liturgi di seantero nusantara. Ia pernah singgah ke Ketapan, Surabaya, Purwokerto, Balikpapan, dan daerah-daerah lainnya.

Pada 29 Desember 2018, kondisi tubuh Paul merosot drastis lantaran kadar gulanya meninggi. Dalam sakitnya ini, ia mencoba aktif pada Juli 2019 lalu sebagai penanggungjawab penataran dirigen intensif di PML. Bahkan menjelang akhir hayatnya, lelaki 74 tahun ini sedang mempersiapkan pentas Paduan Suara (PS) Vocalista Divina, anak-anak binaannya yang siap tampil 18 Desember mendatang.

Sejak sakitnya, Paul diizinkan menempati satu ruang di Pusat Kateketik (Puskat) Jl. Ahmad Jazuli 2, Yogyakarta. Ruang yang lokasinya di pojokan, tak jauh dari ruangan kerja Romo Prier.

Ruangan ini tidak terkesan mewah. Hanya sebuah ruangan sederhana dipenuhi ragam buku bergenre klasik dan inkulturatif. Di sebuah sudut ruangan itu, ada sejumlah kostum pentas PS Vocalista Sonora maupun PS Vocalista Divina. Sempit dan sederhana, tetapi Paul menikmati tinggal di situ.

Seorang pensiunan PML Budi Santoso yang ditunjuk merawat Paul mengakui, selama Paul sakit dan tinggal di Puskat, ia tetap memiliki semangat yang tinggi. Ia marah bila orang melihatnya sebagai pribadi yang tua dan kesepian. “Mas Wid, bukan orang nganggur, tidak punya kerjaan. Semua hari diisi dengan kesibukan,” tutur Budi.

Budi menambahkan soal keseharian Paul. Sehari sebelum meninggal, Paul sempat terjatuh di kamar mandi. “Ketika turun melewati pembatas air, Mas Wid jatuh, kesrimpet sandal yang dipakainnya. Kepalanya terbentur lantai,” tutur Budi saat ditemui di Kapel Pukat, tempat jenazah Paul disemayamkan.

Tiap pagi Budi selalu datang ke Puskat untuk melayani Paul. Ia bahkan sempat mengecek gula darah Paul, menggantikan Romo Prier yang sedang retret di Pertapaan Gedono. Biasanya kalau pintu diketuk, Paul langsung membukakan pintu. Tetapi Jumat, 9 Agustus, pintu tak kunjung dibuka.

Budi kemudian memaksa masuk, dan mendengar Paul memanggilnya. “Aku di kamar tidur, lingguh kene (duduk di sini), nanti tak critani,” demikian Paul menyapa Budi. Selanjutnya, Paul mengabarkan dirinya baru saja terjatuh dari kamar mandi dan tidak bisa berdiri. Budi sempat menawarkan untuk mengantar Paul ke rumah sakit, tetapi ditolaknya. “Ora usah (tidak usah). Aku makan dulu saja, biar kuat. Kamu jangan bilang siapa-siapa kalau saya baru saja jatuh,” pesan Paul.

Budi pun menunggui Paul makan nasi bungkus kiriman keponakannya. Tak berapa lama, Paul menyuruh Budi agar mengontak Romo Prier, untuk memintanya pulang. “Romo Prier saya telepon tiga kali tidak tersambung, dan ketika saya kirim pesan melalui WhatsApp, Romo menjawab, tolong Mas Wid dijaga terus sampai saya pulang besok.”

Pendarahan Otak
Pada siang hari, seperti biasanya Budi mendapat tugas menjemput anaknya pulang sekolah. Tapi, kali itu Paul berpesan jangan meninggalkan dirinya. Budi disuruh ngabari istrinya kalau hari itu tak bisa menjemput anaknya. “Aku ojo tok tinggal (jangan ditinggal),” pinta Paul penuh harap.

Sesaat kemudian, Budi melayani memberikan minum teh menu pagi yang belum diminum. Namun, begitu minum teh, Paul merasa ingin buang air kecil di pispot yang disediakan. “Pipis kok tidak rampung-rampung, saya panggil tidak menyahut?” batin Budi khawatir. Ketika Budi masuk ke kamarnya, Paul didapati bernafas tak normal. Sejak itu, Paul tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit.

Keesokan harinya, Pastor Prier tiba di Puskat, sementara Paul sudah diantar ke rumah sakit. Dalam diagnosa dokter yang ditunjuk lewat hasil scan medis menunjukkan Paul mengalami pendarahan otak, sehingga nyawanya tak tertolong.

“Menurut dokter, stroke Paul kambuh lagi. Ada gumpalan darah di otak. Saat gejala stroke awal pertama dan kedua, sakit Paul bisa diatasi oleh dokter, tapi stroke terakhir ini tidak memungkinkan lagi dioperasi,”terang Romo Prier.

Di rumah sakit, Paul menghembuskan nafas terakhir. Setelah kabar kepergian komponis besar Gereja ini, banyak umat datang memberi penghormatan kepadanya. Paul tidak saja meletakkan dasar yang kuat bagi musik Gereja, tetapi memberi nafas baru bagi musik Gereja untuk kembali ke asalnya.

Paul menghadap Tuhan dengan mengenakan pakaian adat Jawa, lengkap dengan blangkon di kepala. “Pak Paul memang orang Jawa tulen. Berbulan-bulan, Pak Paul sudah menyiapkan sendiri pakaian Jawa seperti ini,” kata Romo Prier.

H. Bambang S/Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.35 2019, 1 September 2019

1 COMMENT

  1. Sesaat kemudian, Budi melayani memberikan minum teh menu pagi yang belum diminum. Namun, begitu minum teh, Paul merasa ingin buang air kecil di pispot yang disediakan. “Pipis kok tidak rampung-rampung, saya panggil tidak menyahut?” batin Budi khawatir. Ketika Budi masuk ke kamarnya, Paul didapati bernafas tak normal. Sejak itu, Paul tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here