Bruder Angelo Ngalngola BSMC : Menjadi Orang Tua Puluhan Anak

93
Br Angelo (tengah, kaos biru) bersama anak-anak panti asuhan.
[NN/Dok.Pribadi]
Bruder Angelo Ngalngola BSMC : Menjadi Orang Tua Puluhan Anak
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dua kali ia harus meninggalkan karya yang dirintisnya karena ia ditarik tarekatnya ke rumah induk. Namun, ia percaya, jika hal ini merupakan kehendak-Nya, Allah akan merawatnya.

Tangisan bayi membangunkan Bruder Angelo Ngalngola BSMC dari peraduan. Jarum jam di kamarnya menunjukkan pukul 02.30 WIB. Ia mendatangi sumber suara tadi untuk memastikan bahwa bayi itu aman. Rupanya malaikat kecil itu hanya haus. Buru-buru ia membuatkan sebotol susu. Ia kemudian menggendong anak itu dan memberinya minum. Sekejap, bayi itu tertidur pulas hingga pagi merambat.

Menggendong, membuatkan susu, dan mengganti popok bayi merupakan beberapa rutinitas harian Bruder Angelo di Panti Asuhan Kencana Bejana Rohani. Saat ini, di panti asuhan yang terletak di Perumahan Mutiara, Jl Tole Iskandar, Blok CD 6, Depok 2, Jawa Barat itu, ada tiga bayi. Mereka berumur enam bulan dan satu tahun.

Di sana, sang biarawan memainkan peran ganda: ibu sekaligus ayah bagi para malaikat kecil tersebut. “Tidak mudah mengambil peran ini. Namun, panggilan jiwa saya melirik peran ini. Saya harus mengambil peran ibu dan ayah sekaligus bagi mereka,” jelas Bruder Angelo.

Pulang Kampung
Bruder Angelo tak hanya merawat tiga bayi tadi. Di dalam rumah berukuran 211 meter persegi itu, ia tinggal bersama sekitar tujuh puluh anak dan remaja usia tiga hingga 16 tahun. “Kami tidur berdempet-dempetan di rumah kontrakan ini. Bahkan, ada yang tidur di depan pintu kamar mandi,” beber Bruder Angelo.

Ide pendirian panti asuhan tersebut bermula pada 2007. Kala itu, Bruder Angelo mendapat perutusan dari Kongregasi Blessed Sacrament Missionaries of Charity (BSMC), yang berinduk di Filipina, untuk mengembangkan karya pelayanan tarekat di Indonesia.

Sebagai orang Indonesia, kelahiran 19 April 1974 ini gembira mendengar perutusan tersebut. Kendati ia tahu bahwa membuka komunitas dan karya baru di Indonesia itu tak mudah. “Menjadi misionaris Charitas pertama di Indonesia bagi saya butuh kerja keras karena berhadapan dengan budaya mayoritas dan minoritas,” jelasnya.

Semula ia sempat berencana untuk menolak perutusan tersebut. Namun, sebagai biarawan yang mengikrarkan trikaul –ketaatan, kemurniaan, dan kesucian–, ia merasa tak layak menuruti ego pribadi. Ia harus tunduk dan taat pada kehendak tarekat.

Ia tiba pertama kali di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Ia mengontrak sebuah rumah sederhana. Di sana, ia mengajar bahasa Inggris dan Matematika kepada sekitar 200 anak. Ia juga melatih ibu-ibu pemulung membuat aneka tas dari sampah plastik. Ia juga mendatangkan dokter untuk memberikan layanan kesehatan gratis kepada mereka. Selain itu, Bruder Angelo juga terjun dalam pembinaan iman anak-anak Katolik.

Pesan Superior
Sayang, karya tersebut tak berusia panjang. Tarekatnya menariknya kembali ke Filipina. Namun, wajah dan perilaku anak-anak kurang beruntung yang pernah hidup bersama terus membayanginya.

Januari 2010, Bruder Angelo mendapat restu pimpinan untuk kembali ke Indonesia. Bruder asal Sofyanin, Maluku, Tenggara Barat ini mulai membangun karya-karya lain. Ia tidak saja fokus di Cileungsi, tapi juga mulai mendampingi anak-anak pemulung, pelayanan rohani di Panti Jompo Budi MuliaCilangkap, Jakarta Timur.

Di Tanggerang, ia juga terlibat mencari anak-anak pemulung. Ia juga rutin mendampingi dokter Melan Sihotang ke Lapas Tangerang setiap Rabu.“Kedatangan saya yang kedua, saya mulai jatuh cinta kepada anak-anak. Saya merasa ini bukan soal budaya Indonesia tetapi soal panggilan hati,” tegasnya.

Menurutnya, salah satu alasan begitu banyak anak terlantar karena kurang pemahaman akan pola asuh orang tua kepada anak. Tentu faktor ekonomi menjadi masalah lain yang turut mendukung nasib anak-anak. “Saya berpikir untuk makan suami istri saja sudah susah, apalagi pendidikan dan kebutuhan lain. Mereka ingin anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak dan saya mencoba menawarkan hal itu,” tuturnya.

Rupanya, Tuhan belum mengizinkan Bruder Angelo untuk menetap lama di Indonesia. Baru empat bulan, tarekat menarik kembalinya ke Filipina. Beruntung karya tarekatnya di Indonesia terus berjalan berkat tim pelayanan yang sudah ia bentuk.

Bruder Angelo benar-benar menetap di Indonesia usai Kapitel Umum BSMP tahun 2015. Ia mendesak agar kongregasinya memutuskan untuk membuka misi di Indonesia. Gayung besambut, ia dikirim lagi ke Indonesia. Pada tanggal 9 Maret 2015, ia tiba di Indonesia. “Kalau misi di Indonesia adalah kehendak Allah, Allah akan merawat-Nya. Namun jika tidak, kamu dapat pulang lagi ke Filipina. Percaya saja kepada Tuhan,” ungkap Bruder Angelo, mengutip pesan Superior General BSMP, Bruder Anthony Bautista.

Modal Bruder Angelo di Indonesia cuman satu. Ia mau melayani. Ia percaya, akan ada penyelenggaraan Tuhan di negara ini. Kali ini, ia menebar “jala” pelayanan di Keuskupan Bogor. Ia tinggal di Paroki St Andreas Ciluar yang saat itu dipimpin Pastor Chritophorus Lamen Sani.

Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM memberikan masa probasi untuk karya kongregasi ini pada 18 Mei 2015. Berkat konsistensi, kesetiaan, dan rahmat Tuhan, karya kongregasi ini diterima di Keuskupan Bogor. “Kami diterima dengan status uji coba karya pelayanan selama tiga bulan dengan pertama-tama menolong anak-anak terlantar,” katanya.

Berawal dari status uji coba, Bruder Angelo lalu mendirikan panti asuhan untuk mewujudkan semangat St Teresa dari Kalkuta. Karya pelayanan kongregasi ini semakin meluas setelah Bruder Anthony datang dari Filipina dan bertemu langsung dengan Mgr Paskalis.

Pertemuan tersebut membawa satu harapan, Uskup Bogor mengizinkan Kongregasi BSMC melanjutkan misi di sana. Mereka semakin bersemangat melayani anak-anak terlantar.

Misionaris Perdana
Bruder Angelo merupakan misionaris BSMC perdana di Indonesia. Ia berharap, kehadirannya bisa menjadi berkat bagi sesama dalam semangat kasih dan persaudaraan. Rasa empati terhadap anakanak mendorongnya untuk merasakan penderitaan mereka dan berjuang untuk mengobati keadaan tersebut.

Menjadi ayah sekaligus ibu untuk puluhan anak, tak hanya menuntutnya untuk merawat mereka dengan memberikan makanan bergizi. Ia juga ingin mengubah pola pikir mereka dalam memandang kehidupan. “Bila orang tua hanya pemulung, anak harus menjadi seorang yang status sosialnya lebih baik,” ujarnya, bertekad.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.35 2019, 1 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here