Dear Sahabat

37
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Adalah kerinduanku menjumpaimu secara langsung, tetapi keadaan yang menimpaku saat ini terkadang membuatku tidak ingin dilahirkan dan itu sebabnya aku tak dapat menjumpaimu. Sepucuk surat ini mungkin bisa menjadi tanda dariku. Kabarmu tentu saja sehat bukan? Baik-baik saja kan? Yah, itulah doaku, mendoakan kebaikan tercurah sepenuhnya atas dirimu. Jikalau kuberikan ruang untuk bertanya di sela-sela engkau mem baca surat ini, pasti engkau bertanya bagaimana kabarku. Kabarku seperti tahun kemarin ketika engkau datang me ngunjungi aku. Pada waktu itu suasana hatiku tidak karuan. Pada saat itu disposisi batinku tidak menentu. Mengapa? Engkau kan tahu. Hal ini telah kuceritakan panjang lebar kepadamu, ketika kita menghabiskan dua malam untuknya. Engkau begitu bersemangat mendengar dan sesekali mengajukan pertanyaan. Aku tahu, itu bukan pertanyaan penghormatan atau hanya sekadar basa-basi. Pertanyaan itu lahir dari kegelisahan hatimu tentang situasi yang menimpa daerahku. Dan aku pun dengan pasti menguraikan satu per satu duduk perkara yang kuketahui.

Kamu tahu, keadaan tahun kemarin itu sama sekali tidak berubah. Aku malah berandai-andai, tahun depan level keparahannya semakin tinggi. Bagaimana tidak. Ada beberapa golongan yang seakan-akan memperkeruh situasi dengan menceburkan diri mereka dalam momen publik yang sedang terjadi di tempatku. Berbeda dengan persoalan tahun lalu, baru-baru ini ada pilkada pemilihan pemimpin di tempat kami. Ada tiga pasangan calon yang ditawarkan. Dari tiga pasangan calon ini, ada dua kubu yang lolos ke putaran kedua, karena persoalan perolehan jumlah suara yang tidak mencukupi. Sisa dua pasangan calon yang akan bertempur di perhelatan kedua. Dari sekadar melihat secara kasat mata, aku dan bisa jadi banyak orang dapat menilai pasangan calon mana yang akan benar-benar menjadi pemimpin kami. Pasangan calon ini benar-benar mumpuni dan teruji kerjanya. Bukan hanya kata-kata yang dijual, tetapi karya nyata dan benar-benar menyentuh kami orang-orang kecil dan banyak kali tidak diperhitungkan daam percaturan kehidupan. Engkau pasti tahu pasangan calon yang kumaksudkan, bukan? Waktu itu kita pernah berbincang tentang kinerja beliau berdua dan engkau mengimajinasikan seandainya ada seratus orang atau hanya lima puluh orang macam ini di tempatku, pasti tempatku menjadi surga kebaikan dan kejujuran.

Sahabat, ternyata impianmu itu dan tentu juga impianku kini buyar. Impian itu hanya tinggal kenangan kita berdua atau sekian banyak orang yang pernah bermimpi seperti kita. Orang hebat itu kini dibui. Dia dibui karena dituduh melecehkan agama mayoritas di tempatku. Pasti engkau tidak percaya kan? “Masakan di zaman semodern ini, orang masih bisa saling tuding karena sebuah penistaan terhadap agama?” Tapi itu sudah terjadi dan terjadi di tempatku. “Masakan pengetahun yang berkembang tidak mampu memilah mana yang penistaan dan bukan?” Tapi itu terjadi dan terjadi di tempatku. Mau bilang apa? Semuanya sudah terjadi. Engkau tentu saja bisa membayangkan kan, eksistensi agama bisa tercoreng hanya karena kata-kata dari seorang manusia. Bukankah Tuhan itu tidak terganggu hakekat-Nya, walau dicaci manusia? Bukankah Tuhan tetaplah Tuhan yang ada, walaupun selalu dipandang tidak ada oleh manusia? Ini lucu kan? Tapi ini sudah terjadi, dan terjadinya di tempatku.

Sekelompok orang yang sebutkan di atas tadi, menggunakan momen pilkada ini untuk menyerang kata-kata jagoan kita itu dengan tuduhan penistaan. Aku berandai-andai, jika saja jagoan kita tidak maju mencalonkan diri, pasti kata-kata didiamkan. Itu kemungkinan pertama. Kemungkinan yang lainnya adalah jagoan kita itu bukanlan seorang pemeluk agama mayoritas. Engkau tahu, jika ada orang yang begitu fanatik terhadap agamanya (maksud saya fanatik tak berpengetahuan), maka agama lain dan orang yang beragama lain dianggapnya tidak ada. Kalau pun ada, maka mereka disebut sebagai yang sama sekali tidak benar dan harus dimuskahkan. Fanatik macam begini, sudah pernah dialami agama kita, engkau kan tahu. Yah, tetapi semuanya sudah terjadi dan terjadi di tempatku. Kini sosok terhebat itu tak mampu lagi memandang dunia, sebab di depannya hanyalah jeruji besi dan di belakangnya hanyalah tembok tebal yang dibangun agar para penjahat tidak mampu meloloskan diri. Bayangkan, seorang yang banyak memberi diperlalukan sebagai seorang penjahat kelas kakap. Tragis bukan?

Sebagai anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai dan keluruhan martabat manusia, kusadari betapa besar peranku di tengah situasi seperti ini. Menjadi martir dalam arti seluas-luasnya sebenarnya adalah panggilan hidupku. Sekali lagi menyerukan kebenaran dan kebaikan adalah tugasku. Bagaimana dan dari mana aku memulainya? Beberapa hari yang lalu, aku berjumpa dengan seorang sahabat kita yang kebetulan juga adalah aktivis sosial. Banyak hal kami bicarakan dan sepakati berdua. Salah satu yang paling menonjol dan yang akan kami laksanakan adalah sebanyak-banyak nya memberikan kontribusi positif melalui media massa tentang falsafah kedamaian dan keadilan serta kebaikan dan kebenaran. Kami berkomitmen untuk selalu mengirimkan tulisan kami ke media massa setiap minggunya, entah dimuat atau tidak, kami tidak peduli. Tetapi, kami berharap mudah-mudahan dimuat. Kerja nyata yang lain adalah, menggalang anak-anak muda untuk lebih terlibat dalam relasi bersama dengan yang berbeda agama. Kegiatannya bisa berupa diskusi ilmiah, pentas seni yang diadakan dua bulan sekali, bakti sosial di area tampat peribadatan yang berbeda dan beberapa jenis kegiatan positif lainnya. Tentu saja ini tidak mudah dan memakan waktu lama. Bagi kami, kalau tidak mulai dari sekarang, maka dua puluh tahu lagi persoalan yang sama akan terjadi kembali. Jika telah dimulai setidaknya bisa mengurangi atau dalam waktu yang relatif lama dapat menghilangkan mental ekslusif yang sekarang ini sedang diminati sekarang. Kita pasti tidak akan menikmati hasil dari kerja kita, tetapi anak cucu kita, mereka akan bangga karena pendahulu mereka tetah memulainya.

Sahabat, engkau pasti mengenal dengan baik kalau kita tidak bisa semua orang dari golongan agama yang sama itu sebagai yang buruk. Ada masih banyak mereka yang juga memiliki pikiran yang jernih dalam menimbang segala sesuatu. Kelompok yang kecil itu pun bukan murni dari dirinya sendiri. Bagiku, mereka seakan telah dihipnotis sebuah kekuasaan besar yang mengerikan. Kekuasaan yang mengerikan ini tidak stabil. Seperti air di daun talaslah, kalau kita bisa mengibaratkannya. Tentu saja ada banyak kepentingan yang engkau, aku dan banyak orang tidak dapat menjelaskannya. Kita hanya melakukan apa yang harus kita lakukan dan segera dilakukan. Waktu tidak pernah berjalan mundur. Dia selalu maju menuju keabadian. Jika kita tidak pernah menghargai waktu barang sedetik, perpecahan akan pecah dan manusia berada di ambang kepunahan.

Di akhir dari kepedihan ini, engkau tahu sahabat, hanya Tuhanlah yang mampu menyelesaikan semua yang kita rencanakan. Aku minta doa yang berkanjang. Atau lebih tepatnya, kita mesti berdoa secara tak jemu-jemu untuk semua kejadian ini. Semoga ada pintu cahaya terbuka untuk semua orang dan situasi di tempatku.

Salam dariku, orang yang selalu mencurangi hidup.

Gregorius Berthon Mbete CMF

HIDUP NO.35 2019, 1 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here