Pasang Surut Kerasulan Buku

46
Uskup bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC (kedua dari kanan) dan Uskup Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur (pertama dari kanan) saat penarikan undian Tanda Kasih Ziarah Batin tahun 2018.
[Dok. Penerbit dan Toko Buku Obor]
Pasang Surut Kerasulan Buku
3.5 (70%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Selama 70 tahun, perjalanan Penerbit dan Toko Buku Obor tidak selalu mulus. Setiap jatuh bangun adalah cara menjadikan Obor semakin bersinar.

Guntingan lembaran Majalah HIDUP No 47 berwarna coklat pudar tersimpan rapi di dalam album besar berwarna biru. Album tersebut merupakan salah satu arsip Obor, ketika mengabadikan momen bersejarah peresmian gedung Griya Obor 9 November 1991. Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Julius Darmaatmadja SJ di Sabtu pagi, pukul 10.30.

Artikel hitam putih itu menceritakan sepetik kisah perjuangan yang dipercayai sebagai toko buku pertama di tanah air kala itu. Berawal dari toko buku sederhana milik para Bruder Kongregasi Budi Mulia (Les Frères de Notre-Dame de Lourdes-FNDL) bernama “Glorieux” yang berarti ‘mulia’. Nama ini diambil dari nama seorang Imam Belgia pendiri Kongregasi Bruder Budi Mulia, Étienne-Modeste Glorieux (1802-1872).

Toko buku itu semula hanya bermodalkan halaman sebuah biara di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Tahun 1950, terjadi perubahan kepemilikan toko buku itu. Penerbit NV de Toorts (NV Obor) yang berpusat di Belanda mengambil alih toko buku itu. Penerbit itu dimiliki gabungan beberapa tarekat yang berpusat di Negeri Kincir Angin itu.

Dengan beralihnya kepemilikkan ini, maka lini pelayanan NV Obor pun bertambah dengan usaha penerbitan. Dengan peralihan ini, Kongregasi Budi Mulia berharap agar NV Obor dapat menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku agama yang sebelumnya berbahasa Belanda. Maka sejak tahun 1950, Toko Buku Obot menjadi cabang dari NV de Toorts Belanda.

Peziarahan Dimulai
Pada tanggal 31 Agustus 1957 pemilik saham NV Obor di Den Haag menyerahkan hak cipta penerbitan dan rumah di Jl Gunung Sahari 91 kepada empat ordo misionaris tertua di Indonesia yakni Serikat Yesus (SJ), Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), Kapusin (OFMCap), dan Serikat Sabda Allah (SVD). Empat ordo ini sepakat untuk memberikan uang sebesar Rp 100,- kepada Pater A Conterius SVD dan A Soemandar SJ untuk membeli Toko Buku Obor.

Tak lama setelahnya, pada Desember 1957, Yayasan Ekapraya mulai mengelola Penerbit dan Toko Obor (Obor). Sejak awal berdiri, Yayasan Ekapraya bertujuan menjadikan Obor untuk memperdagangkan buku, majalah, alat, dan barang keperluan tulis menulis. Dengan itu Obor mengantongi izin dari pemerintah DKI Jakarta untuk memiliki dan mengelola toko buku bersama lisensi usaha dagang bidang buku secara nasional. Sebagai direktur yang pertama, ditunjuklah IR Poedjawijatna (1958-1972) untuk mengelola toko buku.

Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI- sekarang KWI) memberi arahan agar penerbit Katolik menerbitkan dan menyebarkan literasi Katolik. Untuk itu, Obor juga mulai menerbitkan buku-buku religius, buku hiburan berdasar nilai-nilai Katolik, dan buku pelajaran Katolik yang mengedepankan etis positif.

“Padi ditanam tumbuh ilalang”, meski usaha yang dirintis ternyata terus merugi. Hal ini tidak sebanding dengan angka pertumbuhan umat Katolik meningkat tajam. Hal ini disinyalir terjadi oleh krisis ekonomi di era 60-an yang berlanjut ke pergolakan politik dan pergantian kekuasaan.

Tak berdiam diri, usaha keras dilakukan dengan memperbaiki hubungan dengan para pelanggan khususnya sekolah-sekolah Katolik. Demikian pula hubungan dengan penerbit Katolik Nusa Indah di Flores dan Kanisius di Yogyakarta.

Perubahan pun dilakukan, jenis usaha Obor semakin diperjelas yakni sebagai penerbit, sebagai toko buku, dan distributor. Pada saat itu, buku seperti Mengikuti Jejak Kristus dari Thomas A Kempis terjemahan P J.O.H Padmasepoetra, juga Etika Tingkah laku dari I.R Poedjawitjatna menjadi buku “best seller”. Hingga detik ini, buku Mengikuti Jejak Kristus terus dicetak ulang.

Meski beragam usaha dilakukan, namun “nyala” Obor masih redup. Melihat hal itu, mulai awal tahun 1981 Toko Buku Obor langsung berada di bawah pengawasan KWI. J. Hadiwikarta yang menjabat Pro-Sekretaris KWI ditunjuk sebagai direktur. Dengan masuknya Hadiwikarta, sejak 1 Juli 1985 Obor mulai lagi menerbitkan buku-buku baru yang berhubungan dengan karya pastoral. Penerbit Obor juga ikut dalam kerja sama dengan penerbit Katolik lain yang tergabung dalam Seksama khususnya sebagai distributor.

Menyala Terang
Akhir tahun 2000, KWI meminta wartawan senior, Raymond Toruan, untuk membenahi manajemen Obor. Kala itu, Raymond menjadi Pemimpin Redaksi The Jakarta Post dan Pemimpin Umum Majalah HIDUP. Karenanya, ia tak bisa aktif setiap hari di Obor. Ia menunjuk Santyo Budi sebagai manajer operasional untuk menangani Obor.

Berbekal pengalamannya di media, termasuk Harian Kompas, Raymond perlahan tapi pasti membenahi manajemen Obor. Saat itu, jumlah karyawan Obor berkisar 45 sampai dengan 50. Ia memanfaatkan jaringannya untuk turut membantunya menata Obor. Salah satunya, ia meminta tim dari Gramedia untuk mendampingi selama seminggu, melakukan pemasangan sistem mulai dari lantai dua sampai ke bagian produksi di lantai paling atas. Bantuan ini diberikan secara cuma-cuma. Raymond yakin, masih banyak orang yang peduli pada Gereja. “Yakinlah, Roh Kudus tidak pernah tidur,” ungkapnya.

Dari nol, Raymond merancang sistem kekaryawanan yang juga terkait dengan penggajian. Baginya, penting untuk menghargai dulu manusianya. Selama satu bulan, ia mendiskusikan bersama karyawan untuk menentukan tugas dan tanggung jawab yang jelas dan tolok ukur pencapaian kerja mereka. “Kami membuat pembobotan pekerjaan, lalu berdasarkan itu menyusun sistem remunerasi,” ujar Raymond saat dijumpai di kediamannya, Kamis, 29/8. Untuk urusan karyawan ini pun, ia meminta rekannya dari Asosiasi Pengusaha Indonesia yang mahir dalam bidang personalia.

Raymond menata pembukuan keuangan agar terpisah dari KWI. Ia juga menerapkan prinsip-prinsip manajemen di Obor. Raymond bergabung bersama Obor sampai akhir tahun 2006, ketika kondisinya mulai membaik. Pria 73 tahun ini berharap, Obor dapat mempersiapkan strategi yang matang untuk bertahan di dunia digital. “Harus pintar-pintar membaca tanda zaman,” ujarnya.

Baginya, kehadiran Obor sebagai media pewartaan sangat penting. “Pergilah ke seluruh dunia wartakan kabar gembira, itu rumusnya. Satu hal, kita tidak boleh lupa Obor adalah penerbit Katolik dan milik Gereja se-Indonesia, milik seluruh umat Katolik di Indonesia,” ujarnya.

Merayap Naik
Saat mulai bertugas sebagai Direktur Obor, Romo Agustinus Surianto Himawan dipesan agar melanjutkan karya pendahulunya yang sudah baik menjadi lebih baik. Selama setahun, imam Keuskupan Bogor ini menghabiskan waktunya untuk mengobservasi keadaan ladang pelayanan barunya. Ia melihat betapa besar kekuatan Obor, maka sebagai keluarga pertamanya, ia ingin semakin mendorong keakraban antar karyawan. “Keluarga terdekat kita adalah tempat kita berkarya. Suasana kekeluargaan harus terus kita bangun,” ujarnya saat ditemui di Kantor KWI Cikini II No. 10 pada Rabu, 28/8.

Romo Agust melihat kekuatan jangkauan nasional Obor karena di bawah naungan KWI. Maka, ia pun mengadakan rencana untuk kembali menggaungkan promosi kepada setiap keuskupan. Kadang kala, ia menemui masih banyak umat bahkan kaum klerus dan biarwan/ti yang tidak banyak mengetahui bahwa Obor adalah milik KWI.

Selain itu berbeda dengan pendahulunya, Romo Agust memiliki konsep berbeda mengenai berapa judul buku dalam setahun. Saat itu, ia hanya memasang target tiga judul buku per bulan.

Romo Agust juga melihat, salah satu kekuatan Obor terletak pada produk Ziarah Batin. Oplah terakhir yang ia terima adalah 20.000 eksemplar. Ia ingin mendongkrak penjualan menjadi 50.000 eksemplar.

Untuk mendongkrak penjualan, Romo Agust bersama Tim Obor mengadakan suatu revolusi baru. Sejak Tahun 2011, Obor memutuskan untuk menyelenggarakan ziarah nyata bagi pemenang program Tanda Kasih yang disertakan dalam halaman belakang buku Ziarah Batin. Tujuannya agar para pembaca tidak hanya berziarah di dalam batin, tetapi bisa memiliki pengalaman nyata dari tiap kisah yang diceritakan dalam Kitab Suci.

Romo Agust menegaskan, tujuan langkah ini bukan untuk memasarkan Ziarah Batin semata dan mendapat untung. Ia ingin orang Katolik mengisi hari-hari hidup mereka dengan merenungkan sabda Tuhan. “Baca Alkitab itu dari mana? Penanggalan Liturgi. Jika setiap orang setia mengikuti Penanggalan Liturgi, suatu ketika ia akan tamat membaca Alkitab. Dengan Ziarah Batin, kita pandu umat memperoleh pesan intinya,” paparnya.

Ada dua tujuan utama mengapa Ziarah Batin terus digarap menjadi produk unggulan karena untuk membiasakan orang membaca Alkitab dan memperluas pembacanya. Diharapkan semua kalangan umur remaja hingga dewasa tertarik mengolah batin bersama Ziarah Batin.

Untuk mewujudkan impian itu, Obor merangkul biro perjalanan KWI, Raptim untuk bekerjasama. Raptim memberikan enam peluang ziarah di dalam negeri yang disponsori Obor, dan dua paket ziarah ke luar negeri, Eropa, dan Tanah Suci. Tiket dan paket selama perjalanan ditanggung oleh Raptim, dibarter dengan iklan di Ziarah Batin. Uang saku, visa, fiskal, dan asuransi perjalanan ditanggung Obor.

Namun, sejak tahun 2016 kerja sama dengan Raptim berakhir. Obor kemudian bekerjasama dengan Renata Tour dan Stella Kwarta. Dua biro perjalnan ini menawarkan dua paket ziarah ke Eropa dan dua paket ziarah ke Tanah Suci bagi pemenang “Tanda Kasih Ziarah Batin”. Melalui program ini, tiras Ziarah Batin mampu memenuhi target dan meningkat. Selain itu, Romo Agust juga membangun budaya penghargaan bagi para ahli yang membantu memberikan Nihil Obstat kepada setiap buku Obor yang akan naik cetak.

Romo Agust berharap, Obor senantiasa kembali kepada misi awal yakni melayani umat di seluruh tanah air sebagai corong pewartaan Gereja. Ia juga berpesan agar Obor semakin memberikan kemudahan pembayaran kepada pelanggan untuk bertransaksi agar dapat bersaing dalam dunia modern.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.36 2019, 8 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here