Terus Menginspirasi Gereja Indonesia

83
Mgr Pius Riana Prapdi
[HIDUP/Antonius E. Sugiyanto]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dalam segala bidang kehi dupan, Kardinal Ignatius Suharyo dianggap sebagai pribadi yang pantas menjadi kardinal. Selain cerdas, dan rendah hati, punya jiwa kepemimpinan yang kuat.

Kardinal Julius Darmaatmadja SJ
Uskup Agung Emeritus Jakarta

“Ketika mendengar Paus Fransiskus memilih Mgr Ignatius Suharyo sebagai Kardinal, saya sangat gembira dan merasa ini pilihan yang tepat. Pertama, Kardinal Suharyo seorang yang sederhana dan rendah hati. Dia tak pernah melihat jabatan Gerejani sebagai kedudukan, sebaliknya yang dia hayati adalah fungsi pelayanan. Sejak diangkat menjadi Uskup Agung Semarang, dia mengambil moto tahbisan, “Aku Melayani Tuhan dalam Segala Kerendahan Hati.”

Kedua, Kardinal Suharyo dalam bidang Kitab Suci, tidak hanya membuat dirinya tahu banyak mengenai Kitab Suci tetapi dia menghayatinya sebagai seorang beriman. Dengan pemahaman yang dimilikinya, Kardinal Suharyo sanggup menanggapi tantangan zaman secara tepat dalam karya pastoralnya. Ini tampak dalam tugasnya sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Ketiga, kiranya kalau kita bertanya kepada para uskup Indonesia, mereka pasti berpendapat bahwa tepatlah bahwa Paus memilih dirinya menjadi kardinal. Bahwa sekarang dia dipilih lagi sebagai ketua KWI selama tiga periode berturut-turut membuktikan bahwa para uskup Indonesia menaruh kepercayaan lebih kepada Kardinal Suharyo. Dalam keadaan biasa, setelah dua periode tidak bisa dipilih lagi, Tetapi para uskup Indonesia mendesak agar dirinya menerima lagi tugas ini.

Keempat, telah dua kali dia berpartisipasi dalam sinode luar biasa yang diadakan Paus Fransiskus untuk membahas isu keluarga. Belum lama ini para uskup Indonesia juga mengadakan Ad Limina ke Roma, sehingga Paus dan Kuria Roma tahun bahwa Mgr. Suharyo adalah figur yang pantas dipilih menjadi Kardinal. Dan bukan yang lainnya.”

Mgr Antonius Subianto Bunjami OSC
Sekretaris Jenderal KWI/Uskup Bandung

“Pengumuman diangkatnya Uskup Ignatius Suharyo menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus adalah kabar gembira yang membawa berkat bagi Gereja dan Bangsa Indonesia. Beberapa saat setelah Paus Fransiskus mengumumkannya, saya mendapat telepon dari Duta Besar Vatikan, Mgr. Piero Pieppo dan langsung berseru: ‘Kita bersukacita! Kita bersyukur kepada Allah atas berkat-Nya bagi Gereja dan Bangsa Indonesia. Kita bersukacita karena Paus Fransikus baru saja mengumumkan terpilihnya Mgr. Suharyo sebagai kardinal!’

Mendengar kabar dan ekspresi sukacita Nunsio, saya pun melonjak kegirangan penuh syukur dan sukacita: “Syukur kepada Allah!”

Dengan keterpilihan ini, Gereja Indonesia makin diakui kehadiran di NKRI; makin relevan dan signifikan sebagaimana ditulis dalam Nota Pastoral KWI 2018. “Gereja dipanggil untuk secara lebih tegas dan nyata menghadirkan diri sebagai komponen utuh bangsa dan negara Indonesia, yang juga bertanggungjawab merawat kesatuan dalam kebhinnekaan serta menjamin keutuhan negara Indonesia dalam keberagaman warisan budaya, agama, suku dan bahasa…” (No. 3). Semoga dengan kehadiran, kesaksian, dan karya Kardinal Suharyo, kita semakin bergeliat dan berbenah diri menjadi orang-orang Katolik yang relevan dan signifikan bagi kehidupan dan perkembangan bangsa Indonesia dalam kapasitas kita masing-masing.”

Mgr Yohanes Harun Yuwono
Uskup Tanjungkarang

“Sebagai kardinal, dalam hal ajaran iman dan pastoral, dia akan menjadi rekan kerja Paus yang paling dekat untuk membawa Gereja Katolik Universal ke depan. Untuk alasan ini, kardinal biasanya (walaupun tidak harus), dilekatkan atau menjadi Gembala Utama pada Gereja Basilika tertentu di Roma. Tujuannya tentu agar selalu bisa berada dekat dengan Bapa Suci. Dan karena masih di bawah usia 80 tahun, Beliau pasti juga akan ikut serta dalam pemilihan Paus ketika Takhta Paus lowong, dan juga mempunyai hak untuk dipilih menjadi Paus.

Di Indonesia, Beliau (Kardinal Ignatius Suharyo) bukan sekadar mewakili Paus memimpin Gereja di keuskupannya tetapi juga mempunyai kewajiban memperhatikan semua keuskupan di Indonesia dan memastikan bahwa Gereja Katolik Indonesia berjalan di jalan yang benar. Peran ini tidak dimiliki oleh para uskup biasa ataupun uskup agung, bahkan tidak dimiliki oleh Ketua KWI. Kardinal bisa campur tangan lebih dalam ke keuskupan-keuskupan lebih dari Ketua KWI. Kardinal ibaratnya “pangeran gereja”, punya hak dan kewajiban mencampuri urusan intern setiap keuskupan di Indonesia.”

Mgr Agustinus Agus
Uskup Agung Pontianak

“Di Konferensi Waligereja Indonesia selama ini, kami sudah menduga bahwa Bapa Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo akan menjadi kardinal Indonesia mendatang. Dugaan sekaligus harapan yang bukan tanpa dasar. Karena Mgr Suharyo orang yang rendah hati, cerdas, lugas dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Kami yakin dengan segala kemampuannya, Mgr Suharyo bisa memahami keseluruhan Gereja Indonesia.

Bagi saya pribadi pengangkatan Mgr Suharyo sebagai kardinal menunjukan kecintaan, penghargaan, dan kepercayaan Vatikan terhadap Gereja Katolik Indonesia. Harapan kami bahwa Kardinal Suharyo bisa menjadi perekat atau pemersatu bukan hanya bagi Gereja-gereja Indonesia itu sendiri (termasuk saudara-saudara Protestan) tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang beraneka suku, agama, budaya dan bahasa. Kemiskinan, kesenjangan antara kaya-miskin, keanekaragam, bangkitnya sikap primordialisme, globalisasi, perkembangan dan penyalahgunaan teknologi- informatika, sikap hedonisme tetap menjadi tantangan terbesar ke depan.”

Mgr Pius Riana Prapdi
Uskup Ketapang

Para uskup dan saya sebagai anggota KWI bersyukur sekaligus berdoa atas penunjukan Kardinal Suharyo. Saya bersyukur karena penunjukan tersebut adalah tanda bahwa Gereja Indonesia hidup dan berperan dalam mewarnai kehidupan dunia.

Harapan kami adalah Kardinal Suharyo terus menginspirasi Gereja dengan teladan yang kami rasakan selama ini. Hidup dan karya pelayanan kardinal di KAJ bagaikan “gelombang sentrifugal” yang menyentuh ujung-ujung pedalaman seperti Ketapang. Sebagai kardinal, hidup dan karya akan menyentuh ujung bumi.”

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.37 2019, 15 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here