Komitmen Suster SFIC untuk Gereja

71
Sr. Adriana Tony SFIC (ketiga dari kiri) dan Mgr. Agustinus Agus ( ketiga dari kanan) meniup lilin ulang tahun bersama para suster SFIC dan Ketua Panitia Hieronimus (paling kiri).
[Sr Maria Seba]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Peringatan 175 tahun kehadiran Suster SFIC di dunia dan 113 tahun di Indonesia menjadi momen bagi para suster SFIC, untuk terus melayani Gereja.

Perayaan syukur 175 tahun karya pelayanan Kongregasi Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (Fransiskanes van Veghel/SFIC) yang berkarya di dunia mencapai puncaknya pada Sabtu, 12/10. Ungkapan syukur ini diadakan dalam perayaan Ekaristi di Gereja Katedral St. Yosef, Pontianak. Misa ini juga sekaligus merayakan 113 tahun kiprah suster SFIC di Indonesia tepatnya di Singkawang, Pontianak (1906-2019).

Misa ini dipimpin Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus. Ia didampingi Uskup Agung Emeritus Pontianak Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap, dan Uskup Agung Kuching Serawak Malaysia, Mgr Simon Poh beserta puluhan imam dari berbagai ordo dan kongregasi.

Misa diawali dengan perarakan dari Biara Suster SFIC St. Willibrordus menuju Gereja Katedral. Hadir juga dalam perayaan ini para tamu baik dari Indonesia maupun luar negeri seperti Belanda, Filipina, dan Kenya.

Ragam Pelayanan
Mgr. Agustinus berkisah bagaimana pengalaman manisnya bersama para suster misionaris SFIC. Ketika ia masih sebagai anak dan tinggal di asrama di Bodok, Sanggau Kapuas ia berjumpa dengan para suster misionaris dari Belanda dan Filipina. “Sr. Marieta dari Filipina mengajari kami musik dan bernyanyi lagu Ubi Caritas dan ketika ada lomba kami mendapat juara. Sr. Laurena dari Belanda setiap pagi membagikan susu tanpa gula kepada kami yang di tahun 1959 susu menjadi minuman mewah,” kenang Mgr Agustinus.

Pengalaman manis lain kembali ia alami bersama para suster SFIC ini ketika menjadi seminaris di Nyarumkop, Pontianak. Ia berkisah, bahwa ketika masih sebagai seminaris, ia satu-satunya yang tidak menyukai sambal terasi. Namun, suster yang mengurus dapur umum waktu itu malah membuatkan sambal tanpa terasi untuknya. “Sr Josephine dari Lape Sanggau Kapuas membuatkan sambal tanpa terasi untuk saya. Saya tidak bisa membayangkan dari sekian ratus seminaris suster ini rela membuatkan sambal hanya untuk anak yang nakal ini,” kenang Uskup.

Mgr Agus berharap, dalam usia yang ke-175 tahun ini para suster tetap memegang teguh semangat misionaris pendahulu dan meneruskan warisan-warisan luhur di segala bidang pelayanan. “Teruslah berkarya para suster, bukan hanya untuk umat Katolik saja, bukan untuk suku tertentu tetapi untuk semua orang tanpa membeda-bedakan. Karena karya para suster tetap dibutuhkan baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang,” ujarnya.

Merujuk pada tema “Demi Cinta Allah ke-175 Tahun: Sumber Kehidupan Kita”, Sr. Adriana Tony SFIC, selaku Suster General, dalam sambutannya juga mengungkapkan, yang menjadi catatan reflektif pada saat ini adalah selalu siap diutus ke mana pun, tidak gentar bertolak menuju perairan yang semakin lebih dalam. “Para suster harus berkomitmen untuk selalu berpihak kepada yang miskin dan menderita di tengah masyarakat sekitar,” tuturnya.

Sedangkan Mgr Bumbun mewakili Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi Pontianak, mengucapkan terimakasih atas kerjasama para suster yang sejak awal bersedia menanggapi undangan Pater Prefek Mgr Pacificus Bos OFMCap atas nama Saudara-saudara Dina Kapusin dan umat muda Katolik Kalimantan Barat 113 tahun yang lampau (1906-2019). “Berkat jasa para suster SFIC iman umat bisa berkembang dengan baik,” ujarnya.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono yang merupakan alumni SD Suster Pontianak dalam sambutannya berharap, aura positif berkat kehadiran para suster SFIC melalui karya pendidikan maupun kesehatan mampu memberikan nilai luhur bagi seluruh masyarakat khususnya di Kota Pontianak yang majemuk.

Sr. Maria Seba (Pontianak)

HIDUP NO.42 2019, 20 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here