Pluralisme, Sebuah Keniscayaan

149
Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC saat mengahadiri syukuran pelantikan Gubernur Maluku, Murad Ismail (mengenakan peci).
[Dok. Keuskupan Amboina]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tahun 2015, Mgr Petrus Canisius Mandagi mendapatkan penghargaan dari pemerintah Kota Ambon karena telah turut menciptakan, membangun, memelihara kerukunan hidup antar umat beragama.

Pintu gerbang Wisma Keuskupan Amboina, yang terletak di pusat kota lebih tepatnya di Jalan Pattimura, terbuka lebar. Seperti tangan yang terbuka menerima semua orang yang datang. Agak sedikit janggal karena sekitar keuskupan tidak ada satu orang pun yang menjaga.

Lantas dengan mudah kaki melangkah dengan bebasnya menuju masuk ke keuskupan yang letaknya dipinggir jalan tersebut. Telihat di ruang tamu yang terpajang foto Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC dengan Paus Fransiskus.

Tidak sampai satu detik, yang lebih membuat heran tidak ada yang menjaga ruang tamu tesebut. Sesungguhnya situasi seperti ini mudah sekali mengundang kejahatan tetapi justru seorang teman dari daerah setempat, ia Muslim kebetulan, mengeluarkan statement yang agak mengejutkan. “Tidak ada orang yang berani masuk keuskupan, semua segan dengan Uskup Mandagi,” ujarnya.

Ia melanjutkan, masyarakat Maluku terkhusus di Ambon, tidak ada yang tidak kenal Mgr Mandagi. Hal ini dikarenakan keterbukaan keuskupan terhadap siapa saja tanpa terkecuali. Terbuka, salah satu sifat mutlak bagi kesukupan yang dinahkodai oleh uskup kelahiran Minahasa, Sulawesi Utara ini. “Ini simbol bahwa semua orang boleh datang kemari. Apalagi kalau Natal. Bukan soal banyak makanan, tetapi karena memang ini tanda persaudaraan” tutur Mgr Mandagi dengan logat Manadonya.

Peran Orang Tua
Di sisi lain, Maluku memliki sempat memilki masa kelamnya soal keberagaman. Berdasarkan buku yang berjudul Teguh Berkarya di Tengah Badai yang ditulis oleh Pastor Ambrosius Wuritimur, Petrus kecil hidup di tengah Kamangta, yang mayoritas beragama Protestan (Gereja Masehi Injili di Minahasa) kurang lebih 90%, sementara sisanya yang beragama Katolik.

“Saat itu papa berpindah agama dari Protestan ke Katolik karena menikah dengan mama, jadi kami sedikit agak dijauhi,” jelas Mgr Mandagi yang ditemui di ruang kerjanya, 5/9. Bukan traumatik yang timbul, tetapi justru ada sebuah bekal yang akan membantu dirinya di masa mendatang. Benar saja, Mgr Mandagi mendapatkan selalu misi khusus dari Tuhan.

Mgr Mandagi mengakui, berproses menjadi pribadi yang dikenal ramah dan terbuka oleh umat agama apapun, tidak lain karena peran orang tuanya. Rasa bangga yang tidak terkira diutarakan Mgr Mandagi terhadap kedua orang tuanya. “Tanda cinta dari persaudaraan adalah pengampuan,” imbuhnya.

Seakan kembali terulang, saat ditetapkan sebagai Uskup Amboina, awalnya butuh perjuangan, mengingat Mgr Mandagi bukan orang Maluku. “Tetapi saya malah beryukur, dengan itu iman saya diuji. Ada pilihannya apakah saya mau rendah hati atau sombong. Kalau saya mau bilang rendah hati ya rela dihina. Seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, rendah hati terkait dengan penghinaan,” ujarnya.

Adanya perdebatan atau gesekan menurut Mgr Mandagi adalah suatu yang lumrah. Menghadapinya, Mgr Mandagi merekam segala dinamika yang dilalui oleh ayah ibunya sebagai suami istri. “Mungkin mereka sampai menyakiti satu sama lain. Yang luar biasa mereka saling mengampuni. Jangan bicara soal cinta kalau tidak mengampuni. Ini senjata saya menghadapi kerusuhan di masa lalu”.

Mengutip St Yohanes Paulus II, Mgr Madagi menuturkan, bahwa kekerasan dibalas dendam menghasilkan untung jangka pendek tapi rugi jangka panjang. Yang dihasilkan dari tindakan ini adalah terciptanya musuh. Sebaliknya, pengampunan rugi jangka pendek. Tapi untung jangka panjang. “Jadi saya memiliki banyak sahabat dan tidak terbatas Katolik, di mana saja,” ujarnya.

Disegani karena Cinta
Mencintai keberagaman dan menjaga tali persaudaraan antar agama memang sudah mendarah daging pada Mgr Mandagi. Soal pluralisme selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi Mgr Mandagi. Menurutnya, identitas manusia sudah plural. “Dia lahir dari keluarganya sendiri saja itu sudah plural, sudah berbeda satu dengan lainya” ujarnya. “Hidup pluralisme itu keniscayaan,” timpalnya.

Hal ini pun diterapkan kepada keuskupan yang dikelolanya. “Saya selalu bilang ke pastor-pastor yang telah ditahbiskan. Tanpa kita sadar, sudah ada jabatan. Tetapi jabatan itu tidak guna kalau tidak diwarnai dengan cinta. Diwarnai dengan keterbukaan, kejujuran dan karakteristik,” jelas kelahiran 27 April 1949 ini.

Mengutip penelitian yang pernah dibacanya, Mgr Mandagi menambahkan, keberhasilan seseorang 20 persen karena kompentesi ilmiah. Sisanya oleh karakter. Bagi Mgr Mandagi, dengan melakukan hal yang sederhana seperti menyapa semua orang adalah untuk membawa suka cita dan kegembiraan. Seperti suatu kali di lapangan terbang, Mgr Mandagi melambaikan tangannya ke setiap orang yang dijumpainya. “Saya tanya gimana kabarnya. Seperti yang Ibu Theresa dari Kalkuta bilang, dimana saja berbuatlah cinta kasih,” ujarnya.

Mgr Mandagi paling tidak suka melihat para imam bermuka murung dan tidak bahagia. Melihat imam yang demikian, Mgr Mandagi akan mendorong agar mereka menjadi pribadi yang berbahagia. “Kita disegani seharusnya bukan karena jabatan tetapi karena cinta,” tegasnya.

Sudah 25 tahun menjadi Uskup Amboina bukan waktu yang singkat. Selama itu Mgr Mandagi selalu menggarisbawahi, gedung gereja memang harus layak, liturginya tetap berjalan seperti kor dan semua unsur lain. Kemudan Katolik sendiri memiliki struktur hierarki yang diakui di seluruh dunia. Tetapi alangkah lebih elok, jika sebagai orang Katolik dikenal dengan kebaikan dan persaudaraan.

Dapat bersudara dengan umat agama lain pun sudah dibuktikan oleh Mgr Mandagi. Pada Perayaan Ulang Tahun Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-84 tahun tahun ini, 6/9. Kesempatan itu juga tepat untuk ke-25 kalinya, ia hadir dalam perayaan yang sama. Ia tak pernah absen menghadiri ulang tahun GPM sejak ia menjadi uskup di Kepulauan Maluku. “Bagaimana saya menyatakan cinta kepada GPM kalau saya tidak hadir,” tuturnya.

Selain itu dalam agenda Mgr Mandagi diketahui sudah ada tiga agenda tetap. “Ada tiga hari suci bagi saya, yakni Idul Fitri, HUT GPM dan ulang tahun Kota Ambon,” jelasnya. Ini bukan soalnya diplomasi, tetapi bagaimana berelasi dengan masyarakat.

Karina Chrisyantia (Ambon)

HIDUP NO.38 2019, 22 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here