Gaungkan “Jas Merah”

18
Kardinal Suharyo menunjukkan Rosario Merah Putih saat menjadi salah satu pembicara pada perayaan ulang tahun PARA Syndicate.
[HIDUP/Felicia Permata Hanggu]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dalam salah satu pidato, mengatakan secara lantang, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Pesan yang menggema pada 17 Agustus 1966 itu kemudian tenar dengan istilah “jas merah” yang merupakan akronim dari pesan Bung Karno itu. Pesan Bapa Proklamator Bangsa ini kembali digaungkan oleh Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, pada perayaan ulang tahun keempat PARA Syndicate, di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Kamis, 17/10.

Kardinal Suharyo mengungkapkan hal serupa agar gerakan merawat ingatan sejarah menjadi kepedulian bersama. Merawat ingatan bersama adalah jalan untuk menunjukkan rasa cinta tanah air. “Ketika suatu bangsa lupa akan sejarah, dalam waktu dekat dapat dipastikan identitasnya akan hilang. Maka, merawat ingatan bersama menjadi sangat penting,” ujar Kardinal di hadapan para cendekia, religius, dan pemerhati isu politik dalam Gelar Dongeng Budaya dan Kuliah Kebangsaan Kita Bersatu Membangun Indonesia: Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya.

Kardinal asal Sedayu ini memberikan beberapa teladan dari peristiwa Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, dan Proklamasi Kemerdekaan di mana keinginan untuk bersatu padu di tengah perbedaan muncul secara otentik dari setiap masyarakat yang saling mendukung untuk mengusung kemerdekaan.

Semangat tersebut semakin terlihat ketika masing-masing kelompok meningalkan identitas kecilnya untuk membangun satu nusa, satu bangsa, satu bahasa yang sangat menentukan arah negara dan disahkan dalam Pancasila. ”Gereja Katolik sungguh menghayati tonggak sejarah ini sebagai karya Allah yang dilaksanakan lewat para pendiri bangsa kita. Itu sejarah yang tidak boleh dilupakan bahwa sejarah bangsa Indonesia saat ini melalui tahap yang sangat menentukan dan mesti dipegang, tidak diotak-atik,” tuturnya.

Sebagai implementasi cinta tanah air, Kardinal Suharyo membeberkan dua cara umat Katolik merawat ingatan bersama, yakni dengan doa Prefasi Cinta Tanah Air yang menyatakan syukur atas dasar negara Pancasila dan melalui Rosario Merah Putih. “Ini tasbih orang Katolik. Diwarnai begini supaya umat selalu ingat mendoakan tanah air,” pungkasnya disambut tepuk tangan riuh.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.43 2019, 27 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here