Oase Rohani Prajurit

44
Uskup OCI, Mgr Ignatius Suharyo dalam Misa syukur ulang tahun ke-71 RI, di Gereja Katedral Jakarta pada Kamis,18/8/2016.
[Dok.HIDUP]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – OCI menjadi jawaban bagi anggota TNI-POLRI yang mencari sumber mata air kehidupan di tengah tingginya tuntutan pekerjaan dan godaan duniawi.

Sejak bertugas di Kementerian Pertahahan tiga tahun lalu, Kepala Pusat Konstruksi Baranahan, Brigjen TNI Gregorius Henu Basworo mulai mengetahui OCI. Banyak pelayanan pastoral yang ia rasakan melalui kehadiran OCI. Setiap Jumat pertama, ia mengikuti Misa bersama rekan-rekannya. Momen ini menjadi ajang perjumpaan yang istimewa baginya. “Biasanya komunikasi kami terjalin melalui grup WhatsApp, dengan bertemu dapat mempererat dan memperkuat persaudaraan kami,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu, 18/9.

Dengan berkumpul bersama saudara seiman, Henu mengaku, ia dan rekan-rekannya menjadi sadar, bahwa kawanan ini cukup banyak dan cukup kuat tersebar di seluruh Indonesia. “Kami jadi bisa mengetahui kondisi kehidupan kerohanian Katolik yang di Papua, Kalimantan, Sulawesi. Ini membuat kami merasa lebih dekat,” ungkapnya. Dengan bersatu dengan teman-teman Katoliknya, ia mengatakan, mereka bisa mengenal para senior yang ternyata seiman dengan mereka. “Ternyata banyak tokoh-tokoh kita yang ‘di atas’.”

Perayaan Natal dan Paskah juga menjadi perayaan istimewa bersama. Tak hanya itu, beberapa momen lain seperti Misa pelantikan, pernikahan, adalah saat di mana Henu dan umat OCI dapat bertemu sapa dan menerima layanan pastoral. Adanya imam yang khusus ditugaskan dalam lingkungan TNI/Polri ia rasa amat membantu mana kala ada musibah menimpa seperti tentara yang meninggal.

Henu mengisahkan, belum lama ada salah satu rekannya yang meninggal di Jakarta dan sebelum diberangkatkan ke daerah asalnya, ia dan teman-temannya bermaksud mengadakan Misa arwah. “Saya tidak tahu bagaimana harus mempersiapkannya karena ini mendadak. Teman-teman Katolik di Kemhan langsung bergerak, dan Romo Letkol Yos Bintoro dari Angkatan Udara pun langsung bisa hadir,” kisahnya.

Pelayanan pastoral tidak hanya Henu dapatkan saat berada di Jakarta. Ia mengisahkan, saat bertugas ke daerah seperti Papua dan Pontianak, kegiatan-kegiatan kerohanian juga dilakukan. “Ketika berada di Papua, ada kunjungan kepada umat di wilayah Komando Daerah Militer Angkatan Darat dan Angkatan Laut berkumpul dan berkegiatan bersama yang saling mempererat. Pada kesempatan itu juga ada pembagian Rosario merah putih,” tuturnya.

Saat bertugas di daerah, OCI telah menghubungkan mereka dengan pastor di keuskupan setempat. “Jumlah imam tidak menjadi masalah karena kami dihubungkan dengan pastor setempat. Domba-domba ini tersebar dari Sabang sampai Merauke, maka yang penting komunikasi yang lancar dengan pastor,” katanya.

Henu berharap OCI semakin terus membangun ikatan yang kuat di antara umatnya untuk saling meneguhkan, sehingga bisa memotivasi para anggota terutama yang berada di titik-titik perbatasan. Ia ingin agar para rekan tentaranya di pojok-pojok wilayah bisa mendengar dan mengalami kehadiran Tuhan melalui layanan pastoral OCI. Ia juga berharap aktif sehingga makin bisa bergandengan.

Tak Dikenal namun Terasa
Berbeda dengan Henu, Komandan Lantamal X Kolonel Laut (P) Antonius Yunianto Giarsiwi belum begitu familiar dengan OCI. Meski demikian ia mengatakan telah beberapa kali mengikuti retret bersama Angkatan Laut (AL) Katolik. Selain itu, di dalam kompleks perumahan AL di Jakarta, terdapat sebuah gereja Katolik.

Umat Katolik di lingkungan TNI AL juga kerap melakukan kegiatan bersama. “Setiap Jumat ketika para tentara yang beragama Islam menunaikan salat Jumat, kami yang minoritas berkumpul untuk melakukan kilas balik tentang keimanan dengan didampingi oleh perwira rohani atau paro,” tutur Antoni.

Antoni menambahkan, paro biasanya datang dari kalangan tentara, ada juga yang diambil dari rohaniwan, seperti Romo Albertus Hendaryono yang sekaligus berkarya di Paroki St Yakobus Kelapa Gading, dalam kompleks TNI-AL Kodamar Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. “Kehadiran pastor ini sangat sangat membantu bagi kami. Misalnya Beliau membimbing untuk pernikahan, yang rumah tangganya bermasalaah Beliau panggil dan arahkan sehingga rapat kembali,” katanya.

Kehadiran imam di tengah TNI AL, bagi Antoni sangat penting. Ia mengatakan pelayanan pastoral dapat membantu menjaga keimanan dan ketulusannya melayani Tuhan di tengah banyak tantangan dan gangguan. “Sebagai contoh terkadang kalau iman kita tidak kuat, ketika melihat uang yang begitu banyak, bisa saja tergoyahkan. Sharing dengan paro dan sesama tentara Katolik sangat-sangat membantu kualitas keimanan kami untuk menjaga kesimbangan rohani dan jasmani.”

Antoni juga menyebut paro memainkan peran sebagai nara hubung yang menjembatani Gereja dengan AL dalam hal pelaksanaaan kegiatan perayaan tertentu, seperti Natal, Paskah, dan lainnya.

Menjawab Kerinduan
Setelah kepergian Romo C. Winarno Hardosuyatno MSF dari Mabes POLRI di tahun 2016, umat Katolik Mabes POLRI merasakan adanya kekosongan batin. Biasanya mereka memiliki tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah seputar menjalankan tugas menjaga keamanan negara, maupun menjadi anggota keluarga di rumah.

Sosok Romo Win sangat membekas di hati tiap anggota Katolik POLRI. Di bawah bimbingannya, banyak kegiatan rohani yang bisa membantu memberi penyegaran rohani kepada anggota kesatuan yang penat dan berbeban berat. AKBP Mariana Maria Lelyemin contohnya, masih mengingat jelas bagaimana umat Katolik Mabes POLRI memiliki grup kor aktif yang sering melayani di berbagai kegiatan kerohanian POLRI.

Kerinduan umat Katolik Mabes POLRI akan mata air rohani ini pun terjawab dengan hadirnya OCI. Sapaan hangat dari Pasbanmilpol OCI, Romo Rofinus Neto Wuli telah memberikan titik terang bagi umat Katolik POLRI. Mariana menuturkan sekitar tiga tahun lalu Mabes POLRI aktif bergabung dengan OCI. Berbagai kegiatan kerohaniaan yang diselenggarakan OCI hampir selalu diikuti POLRI.

Begitu juga yang dirasakan, Komisaris Polisi (Kompol) Elisabeth Eulis Mulyati atau yang akrab disapa Lies turut bersukacita atas kehadiran OCI di lingkungan POLRI. Baik Mariana dan Lies sepakat bahwa kehadiran OCI tidak hanya menuntaskan dahaga iman, tetapi juga menjadi tali penghubung antara TNI dan POLRI. “Kontak TNI dan POLRI tidak sering terjadi, tetapi OCI memberikan wadah itu dan itu sungguh baik,” ungkap Lies.

Keduanya berharap dengan aktif bergabung dengan OCI, aspirasi umat Katolik POLRI dapat di dengar yakni memiliki pastor bagi POLRI. Walaupun Mabes POLRI hanya memiliki sekitar 90 umat Katolik, tetapi kehadiran imam sangat diperlukan sebab persoalan hidup semakin kompleks. “POLRI membutuhkan romo yang dapat selalu bersama-sama dengan kami agar kawanan kecil ini dapat selalu setia mengikuti Kristus sampai mati,” ungkap Mariana.

Lies pun memiliki harapan yang sama dan mengiyakan bahwa godaan dunia semakin hari semakin berat sebab jika tidak mendapat pendampingan yang tepat, dikhawatirkan garam dan terang yang ada di POLRI hilang di gerus keinginan tak teratur dunia. “Walaupun banyak tantangan menjadi pengikut Kristus, tetapi jangan sekali-kali menjual Kristus demi apapun,” ungkap Mariana.

Hermina Wulohering/Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.39 2019, 29 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here