Beata Benedetta Bianchi Porro (1936 – 1964) : Saat Polio Menjadi Jalan Kekudusan

42
Beata Benedetta Bianchi Porro saat menjalani studi di Universitas Milan.
[forlitoday.it]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Digerogoti polio tak membuatnya menyerah. Ia berjuang untuk meraih cita-citanya menjadi dokter. Meski mimpi itu tak terwujud, ia tetap percaya dan terus bertekun dalam iman.

Guido Bianchi Porro dan Elsa Giammarchi berkerut kening. Pasangan suami istri asal Dovadola, Romagna, Provinsi Cesena, Italia ini tak menyangka, putri kesayangan mereka, Benedetta Bianchi Porro, didiagnosa menderita polio akut. Elsa, sang ibu, tak bisa berkata banyak. Ada satu harapan yaitu mukjizat dari Tuhan. Sementara Guido, telah kehilangan banyak biaya untuk perawatan buah hati.

Baru tiga bulan lahir, Benedetta tidak bisa menggerakkan kakinya. Dokter Vittorio Putti dari Bologna, dokter Ortopedi yang merawatnya mengatakan, seumur hidup Benedetta akan lumpuh. Vittorio juga menambahkan polio yang diderita Benedetta bisa menjadi penghalang tulang belakang mengalami deformasi.

Namun, Guido dan Elsa terus berjuang, agar putri mereka sembuh. Benedetta tumbuh tanpa kekurangan cinta. Lewat cinta dan perhatian dari keluarga, Benedetta tumbuh menjadi wanita yang sederhana, pintar, dan saleh. Ia dibeatifikasi Paus Fransiskus pada 14 September 2019 lalu.

Virus Keluarga
Sejak kecil, gadis kelahiran Dovadola, 8 Agustus 1936 ini tumbuh dalam keluarga kaya raya. Sejak menderita sakit, keluarga silih berganti merawatnya. Bagi mereka Benedetta adalah malaikat yang dikirim Tuhan menyempurnahkan keluarga ini. Semenjak Benedetta dilahirkan, Guido yang sering di luar kota dan tidak punya banyak waktu untuk keluarga akhirnya berubah. Ia sering di rumah dan memberi waktu lebih untuk Elsa dan anak-anaknya.

Pada Mei 1937, tubuh Benedetta mendadak demam tinggi. Tak berselang lama, penyakit bronkitis juga menyerang. Karena penyakit ini, ia terpaksa berdiam diri atas tempat tidur. Karena polio yang dideritanya, tulang kaki Benedetta bagian kiri tidak tumbuh normal.

Dalam suasana itu ia merasakan betapa besar cinta orang tua dan saudara-saudarinya Gabriel, Corrado, Carmen, dan Leonida. Dalam masa kesepian tanpa aktivitas, gadis mungil Benedetta belajar cara berdoa. Elsa, seorang wanita yang lembut, keibuan, dan saleh sangat yakin anaknya akan sembuh. Ia percaya air suci Lourdes yang dipakai membaptisnya akan mendatangkan mukjizat.

Tentu kehadiran anak cacat dalam keluarga Porro tidak mudah diterima. Sebagai orang kaya, Guido sering diejek dengan pernyataan, bahwa Benedetta adalah virus keluarga. Batin Guido tertekan, tetapi ia percaya, Benedetta adalah cara Tuhan menegurnya karena selama ini tidak ada waktu untuk keluarga.

Saat Benedetta berusia lima tahun, ia menyampaikan keinginan kepada orang tua untuk bersekolah. Ia lantas didaftarkan di sekolah Desenzano, milik para suster Ursulin. Setamat dari sekolah dasar, ia melanjutkan lagi di sekolah menengah Istituto Santa Maria degli Angeli.

Selama di sekolah, guru-gurunya melihat Benedetta sebagai pribadi yang cerdas, gigih, dan tak pernah putus asa. Ia sangat tertarik dengan pelajaran tata bahasa, agama, dan ilmu-ilmu keperawatan. Kecerdasannya ini juga membuat ia sangat disayangi oleh keluarga dan saudara-saudarinya.

Pernah ketika di sekolah, seorang lelaki dari kelas lain mengejeknya dan berkata, “Kamu cacat, tidak boleh bergaul dengan kami.” Kata-kata ini membuat Benedetta sakit hati. Mendengar ejekan ini, Gabriel, kakaknya, langsung bertemu orang itu dan memukulnya.

Benedetta mulai menunjukkan kesalehan hidupnya usai menerima Komuni Pertama di Gereja Kabar Sukacita, Romagna. Beberapa waktu kemudian, di gereja yang sama pula, ia menerima Sakramen Krisma dari Mgr Massimiliano Massimiliani (1931-1060), Uskup Modigliana. Sejak itu, Benedetta mulai tertarik membaca beberapa buku rohani untuk memperluas pengetahuan imannya. Sembari itu, ia juga gemar membaca buku-buku Leo Tolstoy, sastra-sastra Rusia, dan William Shakespeare.

Calon Dokter
Tamat dari sekolah menengah, Benedetta menyampaikan keinginannya untuk menjadi biarawati Ursulin. Tetapi Guido melarang keinginan itu karena pertimbangan penyakitnya. Guido lalu mengusulkan agar Benedetta bisa mengambil kuliah di Universitas Milan di bidang Fisika. Maksud Guido agar bisa membantu usaha keluarga.

Benedetta lalu masuk Universitas Milan. Tetapi ketika mendaftar, ia tidak memilih Fisika, ia memilih bidang kedokteran. Salah satu motivasinya adalah ingin menyembuhkan diri sendiri. Ia ingin menjadi dokter bagi diri sendiri sekaligus membantu kaum cacat lainnya.

Sayangnya pada 26 April 1955, ketika masuk kuliah pertama banyak dosen menolak kehadirannya. Mereka mengatakan, apa yang kampus harapkan dengan orang cacat seperti ini? Agar meyakinkan mereka, pihak kampus memintanya melakukan pemeriksaan lengkap biokimia dan mikrobiologi. Syukur dari hasil pemeriksaan itu, Benedetta diizinkan mengenyam pendidikan di situ.

Tetapi pada 26 Oktober tahun yang sama, sebuah petaka menghampirinya. Tetiba saja kakinya menjadi perih, dan matanya tidak bisa melihat cahaya. Ia lalu menjalani patologi klinis. Selama menjalani perawatan itu, ia diizinkan mengikuti ujian di rumah sakit.

Benedetta kembali ke kampus saat kesehatannya membaik. Berbarengan dengan itu, semua dokter di rumah sakit dan beberapa peneliti medik, mencoba mencari tahu apa sebutan untuk penyakityang dideritanya. Karena komplikasi berat polio dalam tubuh Bernadetta, beberapa penyakit turunan lain pun ikut menyerang. Tetapi, dengan rasa ingin tahu dan kecerdasannya, Benedetta menyimpulkan istilah baru bagi jenis penyakitnya yaitu “Recklinghausen, neurofibromatosi diffusa”.

Istilah medis ini digunakan untuk menjelaskan sel-sel mati dalam tubuh yang tidak berfungsi dengan baik. Istilah ini juga menjelaskan kelainan genetik yang dialami Benedetta sejak kecil, yang berpengaruh pada sel-sel yang terhubung dengan seluruh panca indra. Hal ini yang mengakibatkan pendengaran Benedetta terganggu. Ia juga menderita rabun dan brokitis. Konon, istilah ini lalu diperkenalkan untuk digunakan di Fakultas Kedokteran Universitas Milan.

Benedetta tetap berjuang agar bisa menjadi dokter. Alhasil, ia terus menunjukkan perkembangan. Sayang cita-cita ini harus kandas pada Agustus 1959. Ia menjadi lumpu total dan tidak bisa berjalan. Ia hanya duduk di kursi roda. Kelumpuhan ini juga berakibat pada stroke ringan di bagian kiri wajanya. Ia sempat dioperasi dan menjalani perawatan tetapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Apalagi, kemudian ia juga kehilangan penglihatan untuk selamanya.

Pemberi Mukjizat
Pada Mei 1962, Benedetta sempat mengadakan ziarah ke Lourdes, Prancis. Di depan Bunda Maria, ia memohon agar diizinkan mendapatkan kesembuhan. Tetapi harapannya tak kunjung dikabulkan. Justru setelah kembali dari Prancis, lengan kanannya tak bisa digerakkan. Keluarga dan saudara-saudari yang menemaninya terus merasa sedih akan kondisi Benedetta.

Sambil menikmati rasa sakitnya, Benedetta terus menyempurnahkan imannya dalam doa dan Ekaristi. Setiap hari ia mengikuti Misa harian. Setiap malam, ia mendaraskan Rosario sebagai tanda kecintaannya kepada Bunda Maria. Dalam derita itu, Benedetta memasrahkan diri kepada kehendak Bapa. Sehari menjelang kematiannya, ia bermimpi bertemu Tuhan. Mimpi ini disampaikan kepada seorang temannya. “Sekarang aku tenang. Besok aku akan mati.”

Benedetta meninggal dalam balutan puja-puji para malaikat surgawi di Sirmione, Brescia, 23 Januari 1964. Corak hidup dan teladan kesuciannya membuat Keuskupan Modigliana memulai proses beatifikasinya. Ia digelari Hamba Allah pada 12 Juli 1975. Pada 23 Desember 1993, Paus Yohanes Paulus II menyatakannya sebagai Venerabilis.

Paus Fransiskus menandatangani berkas beatifikasinya pada 7 November 2018. Proses beatifikasi ini dapat berjalan berkat mukjizat kesembuhan yang dialami Stefano, seorang pemuda dari Genoa, Italia yang sembuh dari koma akibat kecelakaan mobil. Berkat novena sembilan hari kepada Tuhan lewat Benedetta, Stefano menjadi sembuh. Benedetta dibeatifikasi oleh Prefek Kongregasi Pergelaran Kudus Vatikan Kardinal Giovanni Angelo Becciau di Katedral San Fransisco Forli, Italia, 14 September 2019.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.39 2019, 29 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here