Galau Setelah Diputus Pacar

46
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh yang baik. Putri saya yang kini berusia 20 tahun, hanya mengurung diri di kamar, karena diputus pacarnya. Cowoknya itu kawan sekelasnya waktu SMA, dan mereka berpacaran sejak dua tahun lalu. Putri saya terpukul, pikiran dan emosinya jadi kacau. Sejak peristiwa itu dia sering bolos kuliah. Sebagai orangtua saya prihatin. Lalu, apa yang harus saya lakukan? Terima kasih.

Deshi Susanti, Jakarta

Ibu yang baik. Saya memahami kekhawatiran Ibu terhadap putri Ibu sepenuhnya. Hal ini sangatlah wajar bagi orang tua yang sangat peduli dengan perkembangan psikologis anak. Harus kita pahami, bahwa masa remaja merupakan masa di mana pembentukan karakter manusia sedang terjadi. Dalam masa ini, manusia akan mengalami masa perkembangan kematangan emosional dan kepribadian. Artinya, pada masa ini sebuah pengalaman akan dimaknai secara penuh dengan fungsi emosi dan kepribadian sang anak, sehingga menghasilkan pemaknaan yang subjektif.

Dengan kata lain, memang sangat sulit untuk memahami karakter remaja dan bagaimana mereka merespons momen dan pengalaman yang ada di hidup mereka. Terkadang persepsi terhadap pengalaman terjadi secara positif, namun tidak sedikit juga pemaknaan negatif yang mungkin terjadi.

Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh kita sebagai orang tua? Observasi dan menjalin komunikasi yang suportif akan membentuk jembatan komunikasi sosial antara anak dan orang tua. Ketika jembatan komunikasi ini dapat terbangun, maka attachment yang positif antara anak dan orang tua pun dapat terbangun. Sehingga dengan ini, anak tidak malu dan segan untuk menceritakan pengalaman hidupnya, yang membutuhkan solusi dari orang tua di masa remaja.

Terkait dengan kasus yang Ibu alami, memang bagi sebagian orang, pengalaman romantis bukanlah menjadi pengalaman yang bisa diceritakan secara terbuka. Mungkin hal inilah yang dialami oleh putri Ibu. Bagi sebagian remaja, pengalaman romantis mungkin bermakna positif, namun tidak bagi sebagian yang lain. Namun, justru inilah yang harus diperhatikan oleh orang tua.

Pengalaman yang negatif yang dibiarkan tanpa ada alternatif solusi psikologis yang jelas tentu akan berimbas pada kondisi psikologis remaja. Jika dilihat dari kasus yang Ibu ceritakan, ada beberapa alternatif solusi yang dapat dilakukan.

Perilaku mengurung diri merupakan luaran dari dinamika emosi negatif yang terjadi pada putri Ibu. Komunikasi suportif yang membangun dan tidak memberikan judgment negatif menjadi sangat penting. Dalam hal ini, Ibu harus mampu menjadi teman atau partner yang memberikan support kepadanya. Dengan begitu, putri Ibu pasti akan merasa, bahwa ia tidak sendirian, karena perang orang tua sungguh nyata terlihat. Meskipun terkadang putri Ibu tidak mau menceritakan secara langsung, namun pendekatan harus dilakukan hingga menumbuhkan kepercayaan dari anak kepada orangtua, bahwa orangtua mereka bisa menjadi partner cerita (teman curhat).

Jika Ibu merasa sulit untuk berkomunikasi dengan putri Ibu, maka menghubungi teman-temannya juga merupakan opsi yang bisa ditempuh. Mintalah bantuan mereka untuk menjadi “peer support” bagi putri Ibu. Ajaklah mereka ke rumah, ketuk pintu kamar dan katakan, bahwa ada teman-teman kamu yang ingin berjumpa.

Kesimpulannya, janganlah menunda untuk menjalin komunikasi dan berpikir bahwa masalahnya akan selesai dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sebaliknya, menjalin komunikasi menjadi alternatif solusi untuk mereduksi dampak psikologis negatif yang mungkin muncul dari hubungannya dengan mantan pacarnya, Tuhan memberkati.

Indro Adinugroho

HIDUP NO.40 2019, 6 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here