Surat untuk Calon Imam

93
[Gustin]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kepada: Fr. Fransiskus Antasena Damai Kristus. Bagaimana kabarmu sekarang kawan? Lama aku tak bersua denganmu, lama juga aku tak mendengar kabar tentangmu. Maaf, jika aku baru kali ini mengirim surat padamu. Aku lupa kalau di tempatmu sekarang tidak boleh menggunakan gawai. Apalagi, aku sekarang sedang disibukkan tugas-tugas kuliah, maklum, mahasiswa baru yang sedang menyesuaikan dengan dinamika kehidupan yang baru.

Sedikit berbagi, untuk menulis surat ini saja aku membutuhkan waktu seminggu. Pertama-tama bukan karena aku malas, tetapi aku kesulitan membahasakannya. Kamu ingat tentang kebiasaan kita di Seminari Mertoyudan dulu, setiap hari harus menulis refleksi. Tak kusangka, kamu yang lebih malas membuat refleksi dari pada aku, justru sekarang menjadi frater. Keren. Justru sekarang aku yang jarang menulis refleksi, dan karena dalam surat ini aku berefleksi, aku mengalami keslitan karenanya.

Aku penasaran, bagaimana dinamika kehidupanmu di sana? Apakah sama seperti ketika kita berada Seminari Mertoyudan? Tiap pagi bangun pukul 05.00 untuk memulai Ekaristi dan doa pagi. Tiap sore sebelum belajar ada kegiatan rohani. Malam hari ditutup dengan doa bersama dan menulis refleksi. Tapi aku yakin, kamu di sana lebih banyak berdoa kan? Jangan sering bolos dan tidur saat berdoa. Mengenang masa di seminari, membuatku tertawa geli. Ketika saatnya berdoa, kita kadang-kadang membolos dan bermain remi di kamar, kamarmu yang paling sering digunakan.

Banyak hal-hal lucu dan mengesankan yang membuatku senang bernostalgia. Bahkan, kawan-kawan kita yang tidak menjadi frater, sering nongkrong di rumahnya Doni, mungkin, karena sering menjadi tempat nongkrong, Doni berencana membuka kafé di dekat rumahnya. Terkadang kami membicarakanmu – maaf ya- karena kamu yang paling usil di antara kami sekarang menjadi frater.

Masih segar dalam benakku, ekspresimu ketika aku mengutarakan rencana padamu. Aku dapat melihat keterkejutan itu, untuk sejenak engkau tidak dapat berkata-kata, hingga sebuah senyum hangat terukir di wajahmu, mengiringi kata-katamu; “Empat tahun kita bersama, dari pagi hingga pagi. Kamu bukanlah kawanku, kamu keluargaku. Aku sangat menghargai keputusanmu, jika itu membuatmu mencapai versi terbaik dari dirimu. Tetapi aku akan sangat kecewa, jika hal sebaliknya yang terjadi.” Terima kasih kawan, perkataanmu sangat meneguhkanku.

Di antara semua saudara di Seminari Mertoyudan, hanya engkau yang paling akrab dan dekat denganku. Di saat kita bertujuh bernasar demi masa depan kita, dengan berjalan dari seminari ke Gua Maria Sendangsono dan berjalan juga saat pulangnya pada hari yang sama, engkau yang berada di sampingku. Saat itu, kita semua sama-sama lelah dan mengantuk, belum beristirahat, bahkan ada yang tertidur saat berjalan. Terasa sangat segar dalam benakku, saat itu, saat ketika kita membisu, bukan karena ingin membisu, tetapi karena tidak punya tenaga untuk berkata-kata. Langkah-langkah yang tegap mantap menjadi gontai. Mata yang memandang lurus ke depan menjadi kuyu, memandang ke tanah. Pandangan yang jernih, menjadi berkunang-kunang. Kaki yang seolah melangkah dengan sendirinya. Tenaga, bukan tenaga yang menggerakkan kita, tetapi tekad. Bukan hanya tekad, tetapi rahmat. Sejak pukul 02.00 dini hari kita berjalan, baru sampai pukul 12.00. Selama itu engkau di sampingku. Tak ada momen yang paling mengharukan dibandingkan saat kita bertujuh berdoa di depan patung Santo Petrus Canisius yang menyambut kedatangan kita, untuk mengucap syukur.

Saat itu aku menyadari, bahwa Tuhan sudah menjawab doaku. Paling tidak, doa agar kita semua dapat sampai dengan selamat. Dan sejak saat itu aku yakin untuk memilih jalan yang lain dari mu. Kuharap engkau mengingatnya, jalan memutar yang pernah kuceritakan padamu. Karena kini kawan, banyak hal yang tidak aku duga terjadi padaku. Banyak hal yang tidak dapat aku kembangkan, kini berkembang pesat. Entahlah kawan, mungkin Tuhan masih memberkatiku meski aku bukan seorang calon imam lagi.

Kuharap dirimu tidak melupakan itu semua. Jadilah imam yang tidak hanya pintar dan rajin berdoa, tetapi juga sederhana dan rendah hati, seperti yang engkau impikan dahulu. Untuk itu, aku ingin berbagi sedikit kisah denganmu. Sebenarnya, kisah ini membuatku sangat malu kepada diriku. Silahkan nanti kamu refleksikan sendiri, aku yakin kamu lebih jago berefleksi dari pada aku.

“Saat itu aku sedang berziarah bersama dengan teman-teman OMK dalam rangka bulan Maria. Kami bersama-sama berangkat dari paroki ke Gua Maria Jatiningsih. Tentulah, kami di sana berdoa dan seperti yang engkau tahu, aku selalu berdoa ketika yang lainnya sudah selesai berdoa. Aku sangat terkejut ketika hendak berdoa. Kulihat seorang nenek yang tampak seperti peziarah lain, duduk sejenak di sampingku, mungkin berdoa. Tak lama setelahnya, ia mengeluarkan sebuah kantong sampah kecil. Hal yang ia lakukan, di saat para peziarah lain berdoa dengan khusuk dan bersungguh- sungguh ialah membersihkan tempat lilin yang kotor karena lilin-lilin yang meleleh. Ia membersihkannya, mengeruknya dengan pisau dan dimasukkan ke dalam kantong sampah yang keduanya ia bawa sendiri. Ia melakukannya dengan hati-hati, meskipun ada beberapa peziarah yang kulihat melirik ke arahnya.

Karena heran, kupandangi nenek itu. Ia tidak tampak seperti penjaga kebersihan di tempat itu. Jika penjaga kebersihan, tentulah ia tidak akan melakukannya di saat orang lain sedang berdoa. Ia tetap diam, selama melakukan hal itu. Entahlah, saat itu aku merasa malu. Malu karena nenek itu menunjukkan padaku cara dan tujuan sejati dari berziarah. Ia mengingatkanku pada peristiwa ketika kita bersama-sama berjalan dari Sendangsono ke Seminari Mertoyudan. Bukan permohonan yang ia bawa, tetapi penyerahan diri. Ia membuatku sadar, bahwa bentuk usaha pengabdianku selama ini, ternyata tidak lebih tulus dan indah dari pada yang dilakukan nenek itu. Sederhana. Nyata. Tulus. Ingatlah kawan, persembahan janda miskin yang hanya 2 dinar itu, namun karena seluruh hasil jerih payahnya, jauh lebih besar dari pada persembahan si orang kaya. Tapi jangan tanya ayatnya, aku lupa.

Sekian dulu kawan, suratku ini. Kami semua, angkatanmu di Seminari Mertoyudan, mendoakan yang terbaik untukmu. Kami tunggu kehadiranmu di Jogja, untuk menyucikan kami yang berdosa ini. Tuhan memberkati.

Yogyakarta, 19 Juli 2019
Kawan dan umatmu

Gerson

Yohanes Babtista Lemuel Christandi

HIDUP NO.40 2019, 6 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here