Pengabdi Lingkungan Hidup

66
Mgr Samuel Oton Sidin menerima Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
[NN/Dok.HIDUP]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Mereka menjadi pengabdi lingkungan hidup bukan semata-mata untuk meraih penghargaan.

Krisis bumi, kerusakan rumah kita bersama, baru ditanggapi serius oleh sebagian kecil orang. Ada keengganan untuk mengakui krisis itu. Kendati begitu, masih banyak orang yang terus berjuang melestarikan lingkungan hidup.

Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap
Menghijaukan yang Gundul

Sebelum menjadi Uskup Sintang, Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap pernah melayani di tempat dengan bentangan hutan tropis. Di mana-mana lingkungan menjadi rusak karena penebangan hutan secara liar.

Tahun 2002, Mgr Samuel, memulai proyek konservasi wilayah hutan seluas 90 hektar di Gunung Benuah, Kecamatan Sei Ambawang, Kalimantan Barat. Kini daerah ini menjadi satu-satunya hutan yang pohon-pohonnya masih kokoh berdiri di antara ratusan hektar hutan di sekitarnya yang sudah gundul. Atas pengabdiannya ini, Mgr Samuel pernah dianugerahi Kalpataru oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan itu diserahkan pada Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni 2012.

Pastor Yohanes Kristo Tara OFM
Kalpataru Lingkungan Hidup

Pada November 2019 lalu, Pastor Kristo menerima Kalpataru sebagai pengabdi lingkungan hidup dari Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penghargaan ini diberikan oleh Wakil Bupati Belu JT Ose Luan karena Pastor Kristo berhasil menghijaukan bukit Laktutus dengan beragam pepohonan baik untuk bahan bangunan maupun pohon buah-buahan.

Selain penghijauan bukit, Kepala Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus, Atambua, NTT ini berhasil mengajak masyarakat untuk mengelola kebun yang selama ini dibiarkan begitu saja untuk menanam sayur-sayuran, buah-buahan, dan palawija secara organik untuk kebutuhan rumah tangga dan juga untuk dipasarkan.

Romo Vincentius Kirjito
Manfaatkan Air Hujan

Sejak 2012, ketika melayani di Paroki Roh Kudus Kebonarum Klaten, Keuskupan Agung Semarang (KAS), Romo Kirjito, mulai memfokuskan perhatian pada pemanfaatan budaya air hujan di Lereng Merapi Timur. Ia meyakini, sejelek jeleknya atau sekotor-kotornya air hujan yang ditampung di tandon air, kualitasnya masih lebih baik dibanding air tanah dan sungai.

Imam Projo KAS ini mulai tertarik meneliti air hujan, setelah genap setahun bertugas di parokinya. Awalnya, ia melihat perubahanpola hidup masyarakat di Lereng Merapi. Baginya dahulu kala nenek moyang itu mengonsumsi air hujan, sekarang banyak orang di Lereng Merapi beli galon air yang belum tentu bersih.

RB Sutarno
Menyulap Kampung Jadi Hijau

Rumah Sutarno hanya dua kilometer dari Danau Sunter, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Wilayah ini termasuk padat penduduk. Sekitar 13.267 warga tinggal di kampung ini dengan 2.531 kepala keluarga. Tentu ada banyak gang sempit. Ribuan rumah berdempetan dan kebanyakan hanya dibatasi tembok. Kampung ini sempat memiliki reputasi jelek, karena sulit membuang sampah.

Sejak 2009, Sutarno, umat Paroki St Yohanes Don Bosco Sunter, Jakarta Utara ini prihatin dengan kondisi ini. Bermitra dengan sebuah komunitas dari Sunter Indah, Sutarno lalu melatih warga mengelola sampah rumah tangga. Sampah organik dipisahkan dan dijadikan kompos, sementara sampah anorganik di daur ulang dan masuk bank sampah.

Proses ini dimulai dengan gerakan kampung hijau. Setiap RT membentuk tim hijau untuk lingkungan sekitar. Perlahan kampungnya berubah wajah. Setiap gang bernuansa hijau. Kini rumah Sutarno menjadi tempat pembelajaran pengelolaan sampah baik organik maupun anorganik. Meski di gang sempit, belasan orang setiap hari berdatangan belajar cara pengelolaan sampah.

Aleta Baun
Dari NTT untuk Dunia

Tak pernah membayangkan perjuangannya dalam menyelamatkan hutan di Kawasan Gunung Mutis di Pulau Timur membawanya mendapatkan penghargaan Goldenman Environmental Prize 2013 di California, Amerika Serikat dan Yap Thiam Hien Award 2016 di Jakarta. Dua penghargaan bergengsi ini didapatkan “Mama Aleta”, karena perjuangannya merawat hutan di kawasan Gunung Mutis.

Tetapi tahun 1995, dua perusahaan marmer memasuki kawasan ini. Akibatnya aktivitas warga berladang dan melepas ternak dilarang. Perjuangan panjang ini dimulai sejak 1995-2012. Dengan mengorganisasi ratusan warga desa setempat untuk secara damai menduduki tempat penambangan marmer dalam suatu proses sambil menenun. Tujuannya untuk menghentikan perusakan tanah dan hutan di Mollo. Setelah 17 tahun, masayarakat mendapat kembali hak-hak adat mereka terhadap hutan seluas 12 ribu hektar.

Yosepha Alomang
Melawan Penguasa

Wanita dari suku Amungme, Timika, Papua ini pernah mendapatkan penghargaan Yap Thiam Hien dan Goldman Environmental Prize pada tahun 2001. Umat Katolik Kristus Raja Timika ini pernah memimpin unjuk rasa di bandara Timika selama tiga hari untuk menolak PT Freeport yang telah melakukan perusakan lingkungan.

Sejak berdirinya perusahaan Freeport tahun 1967, telah menghancurkan hutan dan sungai menjadi tercemar. Freeport membuang sedikinya 200 ribu ton limbah ke sungai-sungai setiap hari. Hal ini menyebarkan polutan di wilayah tempat tinggalnya.

Berkat bantuan Keuskupan Timika, Yosepha mengorganisir Koperasi Kulakok dan perempuan adat lainnya dengan cara menjual buah-buahan dan sayuran yang mereka tanam dan menghancurkan sayuran dan buah-buahan yang dibeli Freeport dari luar Papua. Hal ini sebagai bentuk kekecewaan terhadap Freeport. Atas perjuangannya ini, perusahaan Amerika ini memberi ganti rugi kepada masyarakat sekitar.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.41 2019, 13 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here