Pastoral Kehadiran di Melawi

30
Pertemuan bersama umat dan orang muda di Paroki St. Louisa, Manukung, Kalimantan Barat.
[NN/Dok.Pribadi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pastoral kehadiran para misionaris adalah metode ampuh menyelamatkan umat. Gereja perlu terus hadir menyapa mereka yang masih berjuang.

“Pastor tengkalang,” julukan ini diberikan umat Katolik pedalaman di wilayah Melawi, Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar) kepada Pastor Jacques Bernard Gros, CM. Kebiasaannya membawa tengkalang (keranjang orang Dayak) setiap kali tourney membuat Pastor Gros tak asing bagi umat Katolik Melawi.

Kenangan indah akan kemurahan hati imam kelahiran Prancis 1967 ini selalu melekat di hati umat Paroki St. Maria Melawi, Paroki St. Maria Tak Bernoda Belimbing, Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Nanga Pinoh, Paroki Keluarga Kudus Kota Baru serta Paroki St. Louisa Manukung. Ia dikenal sebagai sosok yang mau menderita dan terlibat dalam kehidupan umatnya. Kehadirannya telah menyelamatkan ribuan anak pedalaman Kalbar.

Di Belimbing misalnya, suatu ketika Pastor Gros berjumpa dengan seorang anak laki-laki yatim piatu. Anak itu dididiknya dengan penuh cinta, bahkan disekolahkan di seminari. Meski tidak menjadi imam, anak yatim piatu itu, Panji, kini menjadi Bupati Melawi. “Pastor Gros adalah seorang yang hidup penuh cinta. Tidak ada pemikiran negatif kepada siapa pun. Semua orang dikenalnya sebagai pribadi yang dicintai Allah,” ujar Panji.

Wilayah Menantang
Bermisi di Kabupaten Melawi bukan perkara mudah. Dalam sebuah laporan misi saat wilayah ini masih berstatus Katolik Vikariat Hindia Borneo menyebutkan, wilayah Melawi khususnya daerah pegunungan adalah tempat menantang. Dalam buku Jejak Emas Romo Tengkalang disebutkan, bahwa sebagian wilayah ini sulit dijangkau. Saat kedatangan misionaris Ordo Kapusin (Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum/OFMCap) di Kalbar tahun 1905, masyarakat lokal belum terbuka menerima kehadiran Gereja. Gereja baru mulai mengakar sejak tahun 1961 dengan berdirinya hierarki Gereja Katolik di Indonesia. Di Kalbar, peristiwa ini ditandai dengan berdirinya Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sintang, dan Keuskupan Ketapang.

Wilayah ini sangat luas dengan populasi umat sangat banyak, tetapi terpisah di banyak wilayah di Kalbar. Kendala ini membuat para misionaris kesulitan. Satu-satunya strategi misi yang dilakukan adalah mengembangkan iman lewat tourney. Pastor Gros dan para misionaris baik Serikat Yesus (Societas Iesu/SJ), Ordo Kapusin, Kongregasi Lazarian
(Congregatio Missionis/CM), Oblat Maria (Oblate Maria Immaculata/OMI), maupun misionaris dari kongreasi suster atau tarekat lainnya, selalu tourney dengan berjalan kaki.

Saat merayakan pesta emas imamatnya, 23 Maret 2017 lalu, Pastor Gros menyebutkan perjalanan tourney selalu didampingi para katekis. Mereka menyusuri hutan belantara, mengajarkan iman kepada umat melalui liturgi dan pengajaran, mengobati banyak orang sakit, bermain dan belajar dengan anak-anak. “Setiap kali tourney, saya mengisi tengkalang dengan buku liturgi, perlengkapan Misa, dua helai pakaian, satu kelambu, obat-obatan P3K, sedikit bekal makanan di jalanan, dan buku-buku liturgi lainnya untuk mengajar anak-anak,” ungkapnya.

Pengalaman ini pernah juga disampaikan seorang misionaris Kapusin yang pernah melayani di Kalbar dan kini menikmati masa purnabakti di Tilburg, Belanda yaitu Pastor Willy Wagemaker, OFMCap. Ia mengatakan, situasi umat yang dilayani di era tahun 1980-an masih sangat kurang mendapatkan pengetahuan formal. Mereka hidup sangat sederhana, jauh dari pergaulan perkotaan, masih kental budaya, dan akses pun sulit. Dalam situasi ini, pelayanan paling utama adalah tourney dan mengalami hidup bersama umat.

Gereja Perjuangan
Kini, perjuangan Gereja Melawi masih tetap sama. Beberapa waktu lalu, sejumlah mahasiswa Katolik yang berasal dari beberapa universitas dan sekolah tinggi di Kalbar mengikuti kegiatan “Misi Mahasiswa di Melawi”. Kegiatan Sabtu-Minggu, 2-3/11 lalu adalah sebagai wujud kecintaan mahasiswa, agar mengetahui lebih lengkap tentang sejarah Gereja di Kalbar.

Berbekal perlengkapan seadanya, 20 mahasiswa ini memulai perjalanan dari Kota Sintang menuju wilayah Melawi. Setelah itu melakukan perjalanan ke stasi-stasi terluar sekitar empat jam. Di sana mereka bertemu dan mengalami langsung kehidupan umat Katolik.

Ester Sidot, seorang mahasiswi mengungkapkan, meski Kabar Sukacita telah merambat masuk ke pedalaman Kalbar, tetapi masih menyisahkan ragam persoalan. “Bila tidak keliru masyarakat Dayak digambarkan sebagai ‘wild men from Borneo’. Sebutan ini menggambarkan bagaimana iklim dan pola interaksi masyarakat Dayak saat kehadiran misionaris. Sebutan ini hingga saat ini masih dialami oleh sebagian wilayah di Kalbar,” ujarnya.

Djemadi Sukandar umat Paroki St Maria Melawi saat ditemui mahasiswa mengatakan, di Melawi kebanyakan umat bekerja di sektor pertanian. Karet adalah sumber penghidupan utama mereka selain ladang padi. Seiring masuknya perusahaan sawit, sebagian mereka juga memiliki pekerjaan tambahan sebagai pekerja perkebunan. “Kendati begitu, nilai-nilai misionaris yang masih ditanamkan adalah gotong-royong dan menghargai sesama,” ujarnya.

Djemadi menambahkan, Gereja perlu terlibat dalam perjuangan umat Katolik di Melawi khususnya dalam mengembalikan jati diri umat. Perjuangan utama adalah menghadapi egosentris para pengusaha pembalakan hutan secara liar, yang kini hanya menyisakan endapan lumpur tebal bagi masyarakat.

Beberapa wilayah, seperti di Kecamatan Paling Hulu Ambalau, Melawi, khususnya Desa Nanga Kesangei, yang tersisa di sana adalah kecemasan di hati umat. Kearifan lokal menjadi hilang karena ribuan kubik kayu produksi Hak Penguasaan Lahan. Selaku pemerhati lingkungan di Kalbar, Djemadi menambahkan, “Kekuasaan bukan menjadi milik mereka, sebab nyatanya, mereka tetap menjadi masyarakat yang dimarginalkan.”

Pastoral Kehadiran
Pengalaman kehadiran juga diceritakan oleh seorang mahasiswi, Agnes Ariya. Umat yang tersebar di stasi atau kampung-kampung pedalaman menjadi kendala para pelayan pastoral. Terkadang untuk mencapai sebuah kampung butuh perjalanan kaki berkilometer. Sebagian memang sudah bisa dengan kendaraan bermotor, tetapi masih banyak risiko di jalanan.

Bertani, beternak, dan berladang adalah pekerjaan yang harus dihadapi para pelayan pastoral untuk bisa mengalami hidup bersama umat. Tentu tradisi dan adat istiadat yang masih melekat di hati umat menjadi tantangan para pelayan pastoral. “Meski kami sudah beragama Katolik, kami masih percaya adat,” kata Agnes.

Inilah kenapa Uskup Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap dalam pesan Tahbisan Episkopalnya, Maret 2017 lalu mengatakan, kehadiran Gereja Katolik tidak serta merta menghapus seni, budaya, tradisi, adat, dan kearifan lokal. Umat sudah berdampingan dengan kearifan-kearifan lokalnya secara turun temurun, sehingga Gereja sedapat mungkin berusaha untuk menyesuaikan diri. “Pelayanan kebutuhan rohani dan pembinaan umat berjalan seiring dengan hukum adat,” pesan sang uskup.

Mgr. Samuel dengan lantang menyuarakan, perlunya pastoral kehadiran. Para misionaris bisa menoreh iman di pedalaman karena kehadiran mereka. “Misionaris zaman ini, tidak bisa sekadar duduk di belakang meja bermain komputer dan internet di HP lalu umat selamat. Kita perlu turun, duduk, makan, bercerita, dan menyapa hidup mereka. Dengan begitu mereka mengalami hadirnya Juru Selamat,” ungkap Mgr Samuel.

Frater Vascalis Risci Ariyan/Yusti H. Wuarmanuk (Melawi, Kalbar)

HIDUP NO.46 2019, 17 November 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here