Rosario Kehidupan

85
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sebagaimana diketahui dalam untaian doa Rosario, ada empat peristiwa iman. Sedangkan dalam hidup banyak sekali peristiwa yang terjadi. Apakah bisa mendaraskan Rosario di luar empat peristiswa tersebut? Jika bisa bagaimana cara mendaraskannya dengan tepat?

Ekarini, Kudus, Jawa Tengah

Untuk menjawab pertanyaan ini, bisa di bedakan antara “berdoa Rosario” dan “berdoa dengan menggunakan Rosario”. Yang pertama menunjuk pada tradisi doa Katolik untuk menghormati Bunda Maria melalui pengulangan doa Salam Maria, didahului doa Bapa Kami, ditutup doa Kemuliaan, dan disertai dengan meditasi atas misteri-misteri hidup Kristus dan Maria.

Sejak abad pertengahan doa ini sudah dibuat sebagai pengganti popular untuk liturgi ibadat harian. Awalnya hanya terdapat tiga misteri, sehingga dalam lingkaran Rosario seluruhnya terdapat 150 Salam Maria, seperti jumlah Mazmur (bdk. KGK 2678, 2708 dan 1674). Paus Yohanes Paulus II dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae (RVM) 16 Oktober 2002, menambahkan satu misteri lagi, yaitu Misteri Terang untuk mengontemplasikan hidup Yesus dari peristiwa pembaptisan sampai Perjamuan Terakhir, saat didirikannya Ekaristi.

Jenis kedua menunjuk pada aneka cara doa Katolik lainnya dengan menggunakan untaian Rosario sebagai sarananya. Di sini Rosario bisa dibandingkan dengan “tasbih” dalam tradisi agama lain, di mana dalam berdoa jari bergerak di antara biji-biji sambil mendaraskan sebuah doa pendek. Khususnya dalam tradisi Gereja-gereja Timur dan Orthodox, gaya doa meditatif ini dikenal dengan nama “doa hati”, “doa batin” atau “doa Yesus”. Jumlah biji dalam untaian juga bervariasi; ada yang 33 (sesuai umur Yesus), 50 dst. Yang didaraskan berulang-ulang bukan doa Salam Maria, melainkan nama Yesus. Misalnya: “Tuhan Yesus kasihanilah kami, orang berdosa.” Biasanya peristiwa Yesus tidak direnungkan secara khusus, karena perhatian untuk Yesus sudah bersamaan pendarasan doa tersebut. Dewasa ini ada cukup banyak variasi doa Rosario semacam ini: misalnya Rosario Pembebasan atau Rosario Kerahiman Ilahi.

Bisakah merenungkan misteri hidup sendiri ketika berdoa Rosario selain keempat misteri di atas? Tentu saja tidak ada larangan. Rosario termasuk doa devosi yang berbeda dari doa liturgi dengan aturannya yang lebih baku. Dalam doa Rosario kita mempunyai kebebasan yang lebih, khususnya untuk menambahkan apa yang baik. Terutama untuk jenis yang kedua di atas, kita bisa berhenti pada biji Rosario yang besar untuk hening merenungkan hidup kita sendiri, sebelum kita lanjutkan lagi untuk mendaraskan nama Yesus.

Namun, pada Rosario jenis pertama, sebaiknya meditasi atas peristiwa keselamatan tidak dihilangkan begitu saja. Kalau mau kita bisa menggabungkannya, misalnya setelah menyebut misteri, sebelum doa Bapa Kami, kita bisa hening sejenak untuk merenungkan hidup kita. Bandingkan saat kita mengajukan ujud-ujud doa sesudah penyebutan misteri keselamatan. Malahan kita bisa menambahkan atau menggantikan ujud ini dengan peristiwa hidup, yang sudah kita persiapkan sebelumnya, sehingga hidup kita pun disatukan dengan peristiwa keselamatan Yesus itu.

Intinya mengambil peristiwa hidup sebagai renungan boleh-boleh saja, tetapi hendaknya tidak menjadikan kita hanya fokus pada diri kita sendiri. Dalam doa apapun, pusat doa bukanlah diri sendiri, melainkan Allah dan misteri Sabda Keselamatan-Nya. Itu sebabnya secara istimewa doa Rosario disebut Yohanes Paulus II sebagai “compendium Injil” (ringkasan Injil, lih. RVM 18). Dengan mendoakannya kita merenungkan hidup Yesus bersama Bunda-Nya. Usul saya, satukanlah peristiwa hidup Anda dengan peristiwa Yesus yang begitu indah ini.

Gregorius Hertanto MSC

HIDUP NO.41 2019, 13 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here