Makna Kasula Paus Fransiskus Saat Misa di Thailand

288
Seorang suster dari Kongregasi Suster-Suster Hati Kudus Bangkok bersama salah satu relawan penjahit memperlihatkan kasula yang akan dikenakan oleh Paus Fransiskus, para uskup dan imam saat Misa di Thailand. (HIDUP)
Makna Kasula Paus Fransiskus Saat Misa di Thailand
4.3 (86.67%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – PAUS Fransiskus akan melakukan kunjungan apostolik ke Thailand selama empat hari, mulai Rabu hingga Sabtu, Rabu-Sabtu, 20-23 November 2019. Pada kesempatan itu, pemimpin umat Katolik sedunia ini akan memimpin dua kali Perayaan Ekaristi. Misa pertama akan berlangsung di Stadion Nasional Suphachalasai, Bangkok, 21 November 2019. Sehari kemudian, 22 November 2019, Paus akan merayakan Misa khusus bersama orang muda di Gereja Katedral St Perawan Maria Diangkat ke Surga, Bangkok.

Dalam dua kali Perayaan Ekaristi itu, Paus akan mengenakan dua jenis kasula berbeda. Di Stadion Suphachalasai, Paus akan mengenakan kasula berkelir emas solid dan putih. Sementara, ketika di katedral, Paus memakai kasula berwarna merah tua berpadu dengan merah muda. Pemilihan warna kasula berdasarkan kalender liturgi pada hari itu.

Kasula Paus Fransiskus, para uskup dan imam pada Perayaan Ekaristi di Thailand (HIDUP)

“Warna emas dan putih melambangkan kemurnian dan kegembiraan. Warna-warna tersebut dipilih karena pada hari itu (Misa di Stadion), bertepatan dengan Peringatan Wajib St Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah,” ungkap Pastor Peter Chetha Chaiyadej, Koordinator Bidang Liturgi selama kunjungan apostolik Paus Fransiskus di Thailand.

Sementara warna merah melambangkan pengorbanan Kristus dan para martir-Nya. Pada hari itu (22 November), Gereja memperingati Santa Sesilia, perawan dan martir. “(Kasula) warna merah mengingatkan kita akan kemartiran dan cinta St Sesilia, yang telah menumpahkan darahnya karena cinta kepada Tuhan,” lanjut Pastor Peter.

Kendati berbeda dalam warna, kedua kasula ini memiliki persamaan, yaitu memiliki pola bordiran seni tradisional masyarakat Thailand berupa burung, yang disebut kanok, serta semarak sulur. Hal ini, tambah Pastor Peter, hendak merepresentasikan kebersatuan Gereja Katolik: merangkul kebudayaan setempat (Thai) namun tetap menjaga identitas kekatolikan.

Yanuari Marwanto (Bangkok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here