Bukan Jabatan Dunia

231
Ignatius Kardinal Suharyo bersama keluarga selepas pelantikan Kardinal di Vatikan. (ki-ka) Sr Christina Sri Murni FMM, R. Sri Martati Sudarto (ipar), Kardinal Suharyo, Sr Margaretha Maria Sri Marganingsih PMY.
[Dok.Ist]
Bukan Jabatan Dunia
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pengangkatan sebagai kardinal bukanlah sebuah promosi jabatan. Menjadi kardinal berarti mendapat tugas untuk melayani, mengikuti karya Roh Kudus.

Tak berapa lama setelah diumumkan pengangkatannya menjadi kardinal, Mgr Ignatius Suharyo mengirimkan sepucuk surat elektronik kepada redaksi Majalah HIDUP. Seperti biasa, tak banyak kata-kata yang ditulisnya dalam surat ini.

“Saya kirimkan terjemahan surat yang saya terima dari Paus Fransiskus berkaitan dengan pengangkatan saya sebagai kardinal. Kalau akan digunakan, silakan. Salam, terima kasih,” tulisnya.

Sama seperti surat-surat Mgr Suharyo yang lalu, redaksi selalu memperhatikan dengan seksama, apa saja yang ia sampaikan. Kami berusaha menafsirkan, ada apa di balik pesan-pesan ini.

Bukan Promosi
Di dalam surat elektronik itu, Mgr Suharyo melampirkan sepucuk surat dari Paus Fransiskus. Surat itu berisi pemberitahuan akan tugas baru untuknya, ia diangkat menjadi kardinal.

“Saya ingin menyapa Anda dan menegaskan kedekatan persaudaraan saya pada saat ini. Ketika Gereja meminta dari Anda bentuk pelayanan baru. Pelayanan yang tidak berkaitan dengan kehormatan duniawi, tetapi panggilan untuk memberikan diri secara lebih utuh dan kesaksian hidup yang konsisten.”

Di surat itu, Paus memberi catatan, bahwa dunia atau orang akan melihat pengangkatan ini sebagai sebuah promosi atau langkah baru dalam keanggotaan dalam lingkaran orang-orang terhormat. Namun, Paus mengingatkan, bahwa cara berpikir seperti ini gagal untuk memahami, bahwa hal itu justru mengaburkan makna “kekardinalan” yang sejati.

“Oleh sebab itu, saya mendorong Anda dengan semangat persaudaraan yang mendalam, untuk menghindarkan perayaan yang bercorak duniawi. … Pastikanlah, bahwa syukuran itu sederhana, ditandai dengan rasa perasaan gerejawi dan ugahari injili.”

Selaras dengan pesan Paus ini, Kardinal Suharyo adalah sosok yang sederhana. Kesederhanaan ini diakui juga oleh Uskup Agung Emeritus Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmadja SJ. Ia menunjukan, kesederhanaan ini tercermin di dalam moto tahbisannya sebagai Uskup Agung Semarang 22 Agustus 1997, “Serviens Domino Cum Omni Humilitate (Kis 20:19)” ‘Aku Melayani Tuhan dengan Segala Kerendahan Hati’.

“Yang bangga itu biasanya umat, saudara-saudaranya. Tetapi bagi orang yang bersangkutan, ini bukan suatu kebanggaan tapi adalah tugas pelayanan,” ujar Kardinal Darmaatmadja. Menjadi kardinal berarti memikul jabatan pelayanan.

Kardinal Darmaatmadja mengungkapkan, menjadi seorang kardinal maka yang dilihat bukan keagungan jabatan. Tetapi, seorang kardinal akan melihat apa yang dapat ia lakukan dalam pelayanan-pelayanan ini dengan “rendah hati”.

Roh Kudus berkarya dalam tokoh-tokoh Gereja Katolik, termasuk Kardinal Suharyo. Roh Kudus kan juga membimbing dia. Kardinal Darmaatmadja meyakini, pengangkatan Kardinal Suharyo ini seakan menunjukkan ada kedekatan, antara dia dan Kardinal Suharyo. “Jangan-jangan Roh Kudus membawa kesamaan sikap karena kesamaan tuntunan.”

Kardinal Darmaatmadja mengingatkan. Dalam setiap keberhasilan, orang selalu mengingat siapa tokoh di balik keberhasilan itu. Namun, yang harus dilihat bukanlah itu. setiap keberhasilan yang dicapai seseorang adalah akibat, bahwa ia dipakai oleh Allah sebagai sarana mengungkapkan karyanya. “Yang punya karya penebusan adalah Yesus dan Roh-Nya. Kita adalah pelayan-pelayan yang harus mendengarkan secara jernih ke mana arah Roh Kudus berkarya. Dan arah Roh Kudus berkarya sangat jelas terlihat dalam sejarah dan peristiwa.”

Hanya Membatin
Terpilihnya Mgr Suharyo sebagai kardinal oleh Paus Fransiskus di mata keluarga amat berbeda dari pandangan orang kebanyakan. Sr Christina Sri Murni FMM menyatakan berbahagia atas kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada saudara laki-lakinya itu, namun tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya juga semakin besar. “Orang melihat keterpilihan ini sebagai sukacita, kebahagiaan. Tapi kami melihat itu tugas yang tidak mudah. Apa yang harus dipikirkan, direnungkan, dan apa yang harus dilakukan sebagai kardinal,” tuturnya.

Meskipun Kardinal Suharyo kerap menyimpan segala sesuatunya di dalam hati, Sr Christina mampu menangkap isi hatinya. Maka, ketika ucapan selamat beriringan datang dari para handai taulan, rekan se-komunitas dan umat ia tidak langsung ikut mengucapkan selamat kepada sang kakak karena mengerti kegelisahannya untuk menanggung tanggung jawab berat yang akan ia emban. Belum lagi mengingat umur sang kakak yang tidak lagi muda, 69 tahun dengan kepercayaan tugas yang begitu melimpah dari Gereja Katolik Indonesia ditambah dengan perannya menjadi corong Paus membuat suster yang pernah dipercayakan sebagai Provinsial FMM ini semakin bersimpati. Esok hari setelah pengumuman itu, Sr Christina baru mengirimkan pesan singkat kepada kakaknya teriring dukungan dan ucapan doa. Namun beberapa hari kemudian, ucapan itu baru di balas. Tertulis dalam pesan singkat itu, “Aku malah bingung dan mumet.” Mendapat pesan itu, Sr Christina membalas, “Paham banget. Ya sudah mengalir saja, biarkan Tuhan yang berkarya. Semoga bingung dan pusingnya cepet ilang. Didukung dengan doa dari keluarga”. Hanya bentuk dukungan itulah yang bisa ia berikan kepada sang kakak.

Selang beberapa hari kemudian, suster energik ini sontak teringat akan salah satu tulisan dalam jurnal hariannya. Pada jurnal tertanggal 13 Juni 2005 tertulis, dalam mimpinya ia memperkenalkan Mas Har (sapaan hangat Sr Christina kepada Kardinal Suharyo) sebagai kardinal kepada Sr Helena. Kenangan akan mimpi itu ia simpan dan renungkan dalam hati dengan penuh keheranan akan rencana Tuhan yang tidak bisa diselami alam pikir manusia.

Saat menghadiri acara pelantikan Kardinal Suharyo di Vatikan, Sr Christina hanya bisa membatin dalam hati betapa tenang raut wajah sang kakak saat dipilih untuk mengemban tugas baru yang berat itu. Ketenangan Kardinal Suharyo memikul salib inilah yang justru kian mengolah rasa haru di dalam sanubari hingga membuat Sr Christina mencucurkan air mata ketika di wawancarai HIDUP di Susteran FMM Bogor, pada Rabu, 9/10. “Saya baru bisa nangis sekarang karena di Vatikan kemarin terlalu ramai,” akunya. Sambil terisak ia melanjutkan, “Saya sendiri yakin kalau itu tugas dari Tuhan, pasti akan diberi rahmat. Semoga beliau bisa berkerjasama dengan rahmat Tuhan. Artinya bisa menjaga makanan, istirahat sedapat mungkin. Sehingga tetap dianugerahi kesehatan yang cukup untuk melaksanakan tugasnya. Kami sekeluarga selalu mendukung.”

Felicia Permata Hanggu/Antonius E. Sugiyanto

HIDUP NO.42 2019, 20 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here