Memperjuangkan Martabat Lawan

58
Paus Fransiskus (kiri depan) secara resmi menerima para imam pendamping militer Katolik di Vatikan.
[Vatican Media]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tugas militer saat ini bukan hanya berperang, tetapi menjaga perdamaian. Gereja senantiasa berpihak pada martabat manusia.

Aliran dingin perlahan menjalar menusuk tulang warga Vatikan. Suhu udara mengigit itu menandakan musim dingin akan segara tiba. Ditantang oleh suasana demikian tidak menyurutkan semangat lebih dari 100 orang peserta Kursus Internasional bagi Formasi Pendamping Rohani Militer Katolik untuk Hukum Humaniter Internasional, di Balai Sidang Institut Patristik Agustinianum, Vatikan, 29-31/11.

Konferensi ini diperuntukkan bagi imam sekaligus perwira rohani militer bersama uskup militer di tiap negara yang memiliki Keuskupan Militer (Ordinariatus Castrensis) yang ada di seluruh dunia. Wakil Uskup TNI/POLRI, Romo Yos Bintoro menjadi delegasi Indonesia dalam pertemuan ini. Ia juga sekaligus menjadi wakil resmi Pemerintah Republik Indonesia atas nama Panglima TNI. Menariknya, ini kali pertama Indonesia hadir sebagai peserta pertemuan sehingga mendapat perhatian dari peserta lainnya.

Kegiatan yang sudah diadakan untuk kelima kalinya sejak tahun 2003 ini secara istimewa di tahun 2019 diadakan sebagai peringatan 70 tahun Konvensi Jenewa. Konvensi Jenewa adalah serangkaian pertemuan diplomatik internasional yang menghasilkan sejumlah perjanjian, khususnya Hukum Humaniter Konflik Bersenjata yang akhirnya membentuk hukum internasional bagi perlakuan manusiawi terhadap personel militer dan non militer yang terluka atau ditangkap. Perjanjian tersebut berasal pada tahun 1864 dan secara signifikan diperbarui pada tahun 1949 setelah Perang Dunia II. Diketahui saat itu Gereja Katolik hadir dan terlibat di dalamnya.

Rumah Sakit Lapangan
Gema pesan Paus Fransiskus dalam audiensi umum Perayaan Pentakosta pada hari Minggu, 9/6, turut menjadi salah satu sumber inspirasi dalam pertemuan ini. Ketika itu Paus Fransiskus menyatakan bahwa Gereja adalah rumah sakit lapangan yang menampung dan memberi dukungan kepada orang-orang yang paling lemah, serta menghidupkan pengharapan akan kasih ilahi.

Bapa Suci amat menaruh perhatian besar dan menganggap penting selain isu kerusakan lingkungan juga pengungsi dan mereka yang ada di penjara.Ia kembali menegaskan pelayanan kepada mereka ini adalah panggilan rasuli yang mengarahkan murid Kristus kepada mereka yang menderita sakit dan lemah agar mampu menghadirkan kasih Kristus. Untuk itu dalam menghidupi pelayanan ini, ketaatan pada Tuhan adalah kekuatan utama dan bukan mengandalkan kekuatan manusia.

Pertemuan Perwira Rohani Katolik beserta para uskup militer ini berfokus pada pelaksanaan implementatif Hukum Humaniter yang lahir dari Konvensi Jenewa 1949 bersama tiap utusan negara yang tergabung dalam Keuskupan Militer sedunia yang kini telah beranggotakan 41 negara.

Pertemuan ini sekaligus menegaskan kehadiran pelayan Kristus dalam dunia militer adalah sebuah panggilan sekaligus perutusan penting untuk memberikan pelayanan terdepan di tengah kompleksitas pelayanan rohani personel militer dan setiap orang yang berhubungan dengan mereka untuk berjuang memastikan diterapkannya prinsip-prinsip penegakan HAM.

Pelayanan ini sungguh memberi makna dalam bagi pemuliaan manusia di mana para pelayan Kristus berada dekat dengan personel militer yang berada di garis depan (menghadapi kemungkinan) terjadinya konflik, atau mempersiapkan kaum bersenjata bersama keluarganya agar memiliki keteguhan menghadapi penugasan dengan tetap mengedepankan kesadaran pada cinta kasih universal yang mendekatkan sesama manusia, tanpa memandang ras, suku, kebangsaan, budaya dan juga agama. Pesan ini pula yang secara tegas disampaikan Bapa Suci saat beraudiensi di hadapan seluruh peserta kursus Hukum Kemanusiaan International kepada Para Perwira Rohani sedunia.

Ancaman Keamanan
Paradigma keamanan manusia berkembang seiring waktu untuk memahami ancaman global. Pandangan ini menawarkan bahwa acuan keamanan sejatinya berpusat pada individu itu sendiri bukan negara. Sedari dulu Gereja Katolik juga menunjukkan coraknya yang senantiasa berpihak kepada martabat manusia. Gereja menolak manusia dijadikan objek kekerasan sebab tidak menghadirkan kasih Kristus.

Pada saat ini, konflik dan kekerasan bersenjata di beberapa negara masih terus berlangsung. Bahkan konflik itu terus dipelihara untuk menjaga kepentingan beberapa kelompok. Dalam pertemuan ini direfleksikan bahwa ancaman saat ini mengalami perubahan bentuk dari ancaman fisik menjadi virtual. Kini, bentuk ancaman terhadap kemanusiaan bersumber dari kejahatan siber melalui penyebaran kebencian dan berita palsu (hoax).

Kemajuan ilmu pengetahuan pun turut memberikan dampak. Penemuan baru dalam bidang kimia dan fisika telah menghasilkan senjata kimia, nuklir, bahkan senjata yang bersifat non-fisik yang mungkin tidak dicantumkan dalam piagam PBB dan Konvensi Jenewa 70 tahun lalu.

Diskusi pertemuan ini semakin merujuk pada pentingnya peran perwira rohani militer yang menaruh perhatian baik kepada personel militer dan penduduk yang tak berdaya, yang tertangkap dan menjadi tawanan, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Selain peran tersebut, peran yang dianjurkan adalah menegakkan perdamaian, kemanusiaan, kenabian, solidaritas dan mendorong dialog antarumat beragama.

Terkait dengan penekanan pada pentingnya memberikan perhatian kepada para tawanan dan tahanan, pertemuan ini juga mengingatkan kembali pentingnya merangkul para teroris yang dipenjara karena kepercayaan mereka yang radikal pada ideologi tertentu. Pertemuan ini mengingatkan kembali cara pandang Katolik kepada mereka bukan sebagai musuh, tetapi sebagai sesama manusia yang berharga di mata Tuhan. Pertemuan ini ingin mengajak para perwira rohani untuk menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih justru kepada orang-orang yang dianggap sebagai musuh ini.

Sumbangsih Indonesia
Dalam sesi diskusi pelayanan rohani berkaitan dengan implementasi Hukum Humaniter bagi masyarakat sipil yang perlu dilindungi dari target kekerasan, Romo Yos menyampaikan dua hal. Pertama, mengenai penanganan aksi kekerasan oleh kelompok kriminal bersenjata dilaksanakan militer Indonesia dengan taat asas berdasarkan prinsip-prinsip pelibatan kepolisian RI dan bantuan militer (TNI). Hal ini sudah diatur ketat dalam Undang-Undang Negara (UU RI No 2 tentang Kepolisian Negara, UU RI No 3 tentang Pertahanan Negara dan UU RI No 34 tentang TNI). Legalitas peraturan yang telah disahkan DPR ini lebih banyak mengusung tugas TNI pada ranah operasi militer selain perang memantapkan pelaksanaan perintah sesuai prosedur, sehingga tidak ada keragu-raguan dalam penerapan prinsip-prinsip Hukum Humaniter dalam menegakkan wibawa pemerintah yang berdasarkan sumber hukum negara yakni lima prinsip moral utama bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Ideologi Pancasila. Seluruh jajaran perwira TNI juga telah mendapatkan pendidikan dan pembinaan secara bertahap, berjenjang dan berlanjut mengenai sosialisasi dan loka karya Statuta Roma (17 Juli 1998) mengenai Mekanisme Penegakan Hukum HAM dan Hukum Humaniter.

Kedua, mengenai proses pelayanan dan pendampingan hidup rohani umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri dalam bentuk pelayanan penerimaan berkat sakramental. Pelayanan ini guna memberi bentuk pada jiwa-rohaniah, kepribadian, karakter, dan kebangsaan Indonesia yang religius, nasionalis serta militan dengan melasanakan pelayanan yang bersifat partisipatoris dan dialogis, baik bagi komunitas-komunitas Kristiani (Katolik maupun Protestan) maupun mengembangkan kebersamaan hidup yang inklusif dengan umat Muslim sebagai kelompok masyarakat beriman yang terbesar di Indonesia (dan di negara berpenduduk Muslim dunia), termasuk dengan kelompok umat Hindu, Buddha dan Konghucu yang diakui keberadaannya oleh pemerintahan Republik Indonesia. Secara khusus umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri diajarkan katekese berupa sejarah Kekatolikan yang diwariskan pendahulu beriman kepada generasi beriman Katolik selanjutnya yaitu warisan cinta akan tanah air.

Pada akhirnya, pertemuan ini mengajak perwira rohani untuk terus menerus mengedepankan dialog kemanusiaan dan menegakkan perdamaian dan solidaritas. Bagi Romo Yos, sebagai imam yang juga memiliki kedudukan sebagai perwira rohani di lembaga militer, pertemuan ini kembali menegaskan peran kenabian dan imamat yang diemban oleh para imam perwira rohani, agar lebih menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih di tengah tantangan dan bahkan ancaman terhadap kemanusiaan dalam kondisi konflik bersenjata. “Inilah peran istimewa para imam perwira rohani yang membedakannya dengan pekerja sosial biasa yang bekerja di tengah para korban pertikaian tersebut,” pungkasnya.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.47 2019, 24 November 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here