Menyembah Berhala

268
Menyembah Berhala
3 (60%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – DALAM Kel 20: 4-5 tertulis, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu …” Padahal di dalam Gereja Katolik banyak patung-patung, apakah penggunaan tidak bertentangan dengan Kel 20: 4-5?

Richard A, Mataram

PENGGUNAAN patung di Gereja Katolik membuat seorang yang tidak mengerti iman Katolik akan
berpikiran bahwa orang Katolik itu menyembah patung. Apalagi, jika seseorang masuk ke dalam Gereja, pasti ia akan menemukan patung Yesus, Bunda Maria, dan patung-patung orang kudus lain. Gereja seolah-olah tempat banyak patung.

Namun, pemahaman bahwa orang Katolik menyembah patung adalah keliru. Karena dari iman yang Gereja percaya “Menyembah Allah berarti dengan penuh hormat dan ketaklukkan absolut mengakui ‘keadaan makhluk yang tidak
bernilai’, yang memperoleh seluruh keberadaannya dari Allah” (KGK 2097). Maka, Gereja pun melarang umat beriman untuk menyembah patung.

Dasar keyakinan bahwa hanya Allah yang disembah dan bukan patung, bagi Gereja ini didasarkan oleh perintah Allah sendiri dalam Perjanjian Lama, yang disampaikan dalam Kitab Keluaran (yang disebut dalam pertanyaan) maupun Kitab Imamat (Bdk. Im 19:4). Ini menunjukkan, bahwa orang Katolik dapat dipastikan bukan penyembah berhala. Orang Katolik memegang keyakinan, bahwa hanya ada satu Allah, sebagaimana yang dikatakan Kristus
sendiri: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti“ (Luk 4:8).

Lalu, “Mengapa di gereja-gereja banyak patung?” Untuk memahami ini, pertama perlu memahami dahulu tentang larangan Allah kepada bangsa Israel dalam kitab-kitab itu. Larangan Allah dalam Kitab Keluaran dan Imamat bukan berkaitan dengan pembuatan patung, tetapi berkaitan dengan penyembahan terhadap patung, sehingga yang dilarang adalah “keberadaan allah lain dihadapan Allah” (bdk. Kel 20:3) sebagai satu-satunya Allah. Oleh sebab itu, hal yang dilarang oleh Allah bukan pembuatan patung karena Allah sendirilah yang juga meminta bangsa itu membuat patung, yaitu patung dua kerub dari emas maupun dari kayu (Bdk. Kel 25:1,18-20; 1 Taw 28:18-19);
dan patung ular tedung (Bdk. Bil 21:8).

Alasan lain mengapa Gereja menggunakan patung atau lukisan sebab keduanya menjadi sarana yang dapat membantu orang beriman, membayangkan kehadiran Tuhan Yesus, Bunda Maria atau para
kudus lain di dekatnya. Hal ini dapat dipahami seperti seorang anak yang kehilangan ibu pada masa kecilnya, sehingga dia memandang foto ibunya agar membawa kepadanya kenangan akan sang ibu itu. Anak ini akan merasakan, bahwa ibunya hadir di dekatnya, karena ibu ini adalah
sosok yang penting dan istimewa dalam dirinya. Demikian pula, sosok Tuhan Yesus dalam patung
atau gambar, memberikan kepada orang yang berdoa menyerap Dia dalam ingatannya.

Bapa Gereja juga telah menjelaskan dengan baik bahwa Gereja bisa menggunakan patung atau gambar karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli
di baliknya” (Basilius, Spir. 18,45). Sedangkan Santo Thomas Aquinas memberikan penjelasan yang tegas, bahwa Gereja tidak pernah menyembah patung, tetapi itu sebagai sarana semata untuk membawa kepada Allah: “Penghormatan kepada Allah tidak diberikan kepada gambar sebagai benda, tetapi hanya sejauh mereka itu gambar-gambar, yang mengantar kepada Allah yang menjadi manusia. Gerakan yang mengarahkan ke gambar sebagai
gambar, tidak tinggal di dalam ini, tetapi mengarah kepada Dia, yang dilukiskan di dalam gambar itu” (ST II-II, q. 81,3, ad. 3).

Hal lain yang sering dilupakan dalam Gereja, bahwa penggunaan patung atau gambar merupakan sarana berkatekese (pengajaran). Gereja tidak pernah menggunakan patung untuk
sekadar hiasan atau untuk penyembahan. Gereja selalu membuat sesuatu itu memiliki makna dan tidak pernah bertentangan dengan imannya. Inilah sebabnya di banyak gereja di Eropa ditemukan banyak gambar atau patung yang bercerita, yang
membantu umat mengenal imannya, karena pada masa lampau banyak umat itu buta huruf. Gereja selalu mengupayakan agar iman dimengerti, bukan iman yang diamini saja.

Pastor Yohanes Benny Suwito

HIDUP NO.48 2019, 1 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here