Letkol CAJ (Purn.) Ludgerus Joko Purwadi : Menyatukan Kata dengan Perbuatan

24
Ludgerus Joko Purwadi (tengah) mengawasi cara kerja karyawan YPCM Yogyakarta.
[HIDUP/H. Bambang S.]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Meski telah mengakhiri masa tugasnya sebagai tentara, ia terus berkarya. Kini, ia mengabdikan diri bagi para penyandang disabilitas.

Hampir tiap hari, pensiunan perwira menengah TNI AD ini selalu ngantor di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri (YPCM), Yogyakarta. Ia mendampingi para penyandang disabilitas mengayam kursi. Tempat duduk itu terbuat dari rotan plastik. Ada 21 penyandang disabilitas binaan YPCM.

Mereka berasal dari Bantul, Sleman, dan Gunung Kidul. Sebagian besar para pekerja adalah disabilitas fisik akibat gempa Bantul pada 2006 lalu. Ada juga yang mengalami disabilitas sejak lahir, sisanya karena kecelakaan. “Di sini hanya saya saja yang normal, tidak cacat fisik,” papar Ketua YPCM Yogyakarta, Ludgerus Joko Purwadi, saat ditemui di tempat kerjanya itu, di Jalan Parangtriti Km 7,5 Bantul, DI Yogyakarta, Senin, 25/11.

Kualitas Ekspor
YPCM berdiri pada 3 September 2007. Bermula pada pascagempa, para penyandang disabilitas fisik yang tergabung dalam Kelompok Bersama Penyandang Disabilitas ini membentuk kelompok kerja. “Waktu gempa Bantul pada 2006 tempat kerja mereka ‘kan rusak diguncang gempa, sehingga tidak memungkinkan lagi untuk bekerja,” tutur Joko, sapaan Ludgerus Joko Purwadi.

Keinginan para penyandang disabilitas untuk memiliki tempat kerja bersama, kala itu, ditanggapi oleh beberapa lembaga donor internasional. Mereka tergerak untuk membantu kelompok itu. Namun, bantuan tak bisa diberikan kalau tidak berbadan hukum, misal yayasan.

Selanjutnya, tiga orang yang peduli dengan penyandang diisabilitas ini mendirikan YPCM. Ketiganya adalah pengusaha Suryo Prabowo dan Frananto Hidayat, serta seorang dokter militer Andu Sufyan.

Begitu terbentuk yayasan, lembaga donor Palang Merah Jepang memberikan bangunan dan peralatan kerja untuk para penyandang disabilitas ini. Bangunan YPCM berdiri di atas tanah aset Desa Panggungharjo, Bantul, atas bantuan Palang Merah Malaysia. “Kami menyewa tanah milik Kelurahan Panggungharjo selama 20 tahun hingga 2027 nanti,” tutur Joko yang menangani pengoperasian YPCM.

Berdirinya YPCM dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas di bidang keterampilan, fisik, sosial dan ekonomi. Selain itu, untuk mendorong mereka dalam berkarya dan menciptakan lapangan kerja baru. “Yang penting para penyandang disabiltas punya keseriusan untuk bekerja. Karena ‘kan tidak banyak yang peduli pada penderita cacat,” sebut Joko.

Semula, para penyandang disabilitas di yayasan ini bergerak di bidang usaha pembuatan mainan edukasi bagi anak usia dini, taman kanak-kanak, serta anak berkebutuhan khusus. Ada bermacam alat permainan untuk mengembangkan aspek kognitif dan afektif serta motorik anak. Sarana tersebut berbahan kayu. Namun, alat-alat permainan seperti itu dalam perkembangannya tergilas dengan kehadiran sarana permainan modern. “Kami pengurus yayasan realistis, maka kemudian menerima pekerjaan lain. Apapun pesanan, asal dari bahan baku kayu, seperti lemari, jika bisa kami kerjakan, kita terima,” kata Joko.

Dalam dua tahun terakhir ini, YPCM berkerja sama dengan salah satu pabrik rotan di Cirebon, menghasilkan kursi anyaman dari bahan rotan plastik. “Kursi malas” untuk bersantai ini merupakan pesanan dari luar negeri. Sehingga begitu selesai dianyam di YPCM, oleh mitra pabrik di Cerebon, selanjutnya dikirim ke negara pemesan, seperti Amerika, Eropa, dan Australia. “Ini bahan baku semua ekspor, tapi dikerjakan secara manual,”aku Joko.

Tempat Belajar
YPCM juga bekerja sama dengan Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Prof Dr Soeharso Surakarta. YPCM menjadi tempat praktik belajar kerja untuk para penyandang disabilitas binaan lembaga tersebut. “Jadwalnya berlangsung dua kali dalam setahun, yakni pada awal Maret dan akhir Oktober,” jelas prodiakon Paroki St Mikael Pangkalan Adisutjipto Yogyakarta ini.

Kelahiran Yogyakarta, 26 Maret 1955 ini sebelumnya mengaku enggan ketika ditawari oleh salah satu pendiri YPCM, dr Andu Sufyan, untuk menangani yayasan tersebut “Awalnya saya tidak mau, tapi ketika diajak melihat kesibukan para penyandang disabilitas di yayasan itu, saya jadi berpikir: orang berkebutuhan khusus saja mau bekerja, koq saya yang waras-wiris enak-enak di rumah menikmati pensiun,” batin Joko tergerak hatinya.

Joko purnakarya dari TNI AD pada 2013, dengan pangkat terakhir Letkol. Sempat setengah tahun menikmati “kebebasan” dengan hanya tinggal di rumah, tapi lama kelamaan merasakan jenuh karena tidak ada kegiatan berarti. “Saya pada dasarnya suka berorganisasi. Saat saya mengikuti pertemuan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat, di situ saya ketemu dr Andu Sufyan. Saya disuruh melihat aktivitas YPCM,” kenangnya kala itu.

Ia mengaku tak pernah terlintas di benaknya akan menjadi tentara. Saat itu tahun l985, dirinya baru saja menyelesaikan sarjana muda di Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik (SFTKat) Pradnyawidya (sekarang Jurusan Ilmu Pendidikan Kekhususan Agama Katolik) di Jalan Ahmad Jazuli 2 Kotabaru Yogyakarta.

Setelah meraih gelar Sarjana Muda, Joko kontrak kerja dengan Majelis Waligereja Indonesia (MAWI) atau sekarang KWI. “Saya baru tiga bulan menjalani kontrak kerja dengan MAWI, untuk menggodok buku palajaran agama Katolik untuk Sekolah Dasar. Tapi mendapat panggilan untuk mengikuti wajib militer,” katanya.

Joko mengaku, sebetulnya ingin melanjutkan studi di SFTKat untuk mengambil sarjana penuh. Namun, bersama 14 mahasiswa angkatan 1981 SFTKat lain, Joko dikirim untuk menjalani seleksi awal wajib militer di Panitia Daerah Ajudan Jenderal di Semarang. Dari seleksi administrasi dan pemeriksaan kesehatan, hasilnya hanya dua nama yang dinyatakan lolos, salah satu adalah dirinya.

Joko dan seorang kawan berangkat ke Bandung untuk seleksi akhir. Ternyata, begitu hasil wawancara selesai, tinggal dirinya dari SFTKat yang dinyatakan lolos seleksi, untuk kemudian mengikuti pendidikan Sekolah Militer Wajib selama enam bulan.

Selesai pendidikan, ia berhak menyandang pangkat Letda dan ditugaskan sebagai perwira urusan agama Katolik di Korem 091/Samarinda. “Saya jalani profesi saya. Karena tuntutanmu pangkat dan perkembangan jabatan, saya tidak hanya bagian urusan agama Katolik. Tapi juga harus bisa di bidang lain,” tutur Joko.

Sebagai perwira rohani, dirinya pernah disertakan bersama Batalyon Raider melaksanakan tugas operasi di Irian, yang kini telah berubah nama menjadi Papua. Sebagai Satgas Pembinaan Mental, ia juga pernah diikutkan dalam operasi, saat jajak pendapat Timor-Timur.

Tugas sebagai perwira rohani adalah pendampingan, terutama reksa (perawatan) rohani untuk anggota yang beragama Katolik. Bagaimana mendalami iman Katolik sebagai anggota TNI. “Untuk anggota TNI yang non Katolik, saya lakukan pembinaan mental . Bisa lewat ceramah atau diskusi sebulan sekali. Melalui materi tradisi dan kejuangan, kami kenalkan para pejuang besar yang memberi nilai-nilai bagi bangsa dan negara. Supaya diteladani mereka, dan sebagai anggota TNI tetap menjaga disiplin sesuai Sapta Marga dan Sumpah Prajurit,” ujarnya.

Menjadi Teladan
Khusus kepada anggota TNI beragama Katolik, Joko selalu mengingatkan, walaupun personel Katolik kecil, tapi harus bisa mewarnai, menunjukkan kepada anggota beragama lain bahwa yang sedikit itu bisa menjadi contoh dan teladan bagi yang lain. “Kita masuk menjadi anggota TNI ibarat kertas putih, pensiun juga harus tetap putih. Tidak melakukan indisipliner. Dari sisi pengabdian harus dua kali lebih baik,” tutur Joko.

Kini, setelah pensiun dari perwira menengah TNI AD, bapak tiga anak beristrikan Rossa Ariwati ini, di yayasan tempat kerjanya selalu mencoba mencontohkan kepada para penyandang disabiltas binaannya, agar mereka bisa menyatukan kata dan perbuatan. “Apa yang saya katakan, ya harus sesuai dengan apa yang saya ucapkan. Iman tanpa perbuatan itu mati. Ini tidak hanya kita lakukan di lingkungan Katolik, tapi di mana kita berada,” pungkasnya.

H. Bambang S.

HIDUP NO.49 2019, 8 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here