Stasi St. Antonius Panggalli, Paroki Sitti Maryam Saluampak, Keuskupan Agung Makassar : Berjuang di Tengah kekurangan

71
Stasi St. Antonius Panggalli, Paroki Sitti Maryam Saluampak, Keuskupan Agung Makassar.
[John Siagian]
Stasi St. Antonius Panggalli, Paroki Sitti Maryam Saluampak, Keuskupan Agung Makassar : Berjuang di Tengah kekurangan
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Sumur iman, harapan, dan kasih umat tidak pernah berhenti untuk keadaan stasi yang lebih baik.

Sekelompok orang tak dikenal melemparkan batu, balok kayu, hingga material berbahan padat ke rumah warga di daerah Dusun Pangalli Desa Dandang, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada suatu hari di tahun 1994 silam. Saat peristiwa itu, terlihat juga beberapa orang memegang senjata tajam. Suasana pun semakin mencekam.

Banyak warga lari menyelamatkan diri atau mendekam di dalam rumah dengan wajah pucat pasi sampai amukan mereda. Walaupun demikian, Gereja Katolik Stasi St. Antonius Panggalli, Paroki Sitti Maryam Saluampak, Keuskupan Agung Makassar tidak menjadi sasaran kemarahan, tetapi banyak umat masih ketakutan untuk menjalankan doa dan ibadat.

Belum pulih dari trauma, kejadian naas itu terulang kembali pada penghujung tahun 1998 hingga awal tahun 1999. Kali ini kerusuhan merebak lebih luas. Banyak rumah penduduk dibakar termasuk rumah umat Stasi Pangalli. Dalam kerusuhan ini, sekali lagi gedung gereja selamat dari amukan masa. Kerusuhan ini disinyalir sebagai dampak krisis ekonomi tahun 1998 yang makin menampilkan kesenjangan sosial antara penduduk asli dan transmigran. Dampak dari kerusuhan ini membuat banyak umat meninggalkan tempat tinggalnya. Mereka menuju desa tetangga atau daerah lain yang dinilai lebih aman.

Melihat keadaan demikian, pemerintah setempat dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) giat memberikan dukungan dan semangat kepada Pengurus Dewan Pastoral Stasi dan umat serta Dewan Pastoral Paroki Saluampak. Dukungan itu disambut hangat oleh Gereja. Pengurus Dewan Pastoral Stasi sigap menjalin keakraban dan toleransi di antara kerukunan umat beragama agar terjalin hubungan yang harmonis, damai, dan tenteram dalam menjalani kehidupan dan indahnya hidup berdampingan bersama umat beragama lain.

Setelah peristiwa pahit itu, pada tahun 2003 dimulai pembangunan Gereja Stasi Panggalli. Pembangunan ini dikerjakan sesuai dengan kemampuan dana dari swadaya umat. Dengan berbekal dana umat yang kebanyakan hanya bekerja di sektor pertanian, pedagang, dan pegawai, menjadikan laju pembangunan tidak segesit gereja perkotaan. Gereja yang baru ini dibuat lebih besar dari sebelumnya dengan ukuran 8 x 14 m dengan jumlah umat 33 KK (149 jiwa).

Sebelumnya, atas dasar kesepakatan bersama, umat dengan dukungan dari para imam Kongregasi Hati Suci St Perawan Maria (Congregatio Immaculata Cordis Mariae/CICM), umat membeli sebidang tanah dari Dina Tonapa pada tanggal 23 Juni 1973. Pada tahun 1976, di atas tanah itu umat baru mendirikan bangunan gereja berukuran 4 x 6 m yang terbuat dari kayu dan beratap daun rumbia dengan lantai tanah.

Pada tahun 2019 ini, situasi dan kondisi terakhir pengurus hanya mengantongi sertifikat tanah gereja dari Kementerian Agraria-BPN Kabupaten Luwu Utara setelah tiga tahun diurus. Surat ini terbit pada tanggal 19 Juli 2018. Kini posisi gereja berada ditengah ibu kota Kecamatan Sabbang Selatan dan sementara sedang mengurus izin mendirikan bangunan (IMB). Penyelesaian beberapa bagian gereja seperti panti imam, pembuatan lantai keramik bagian dalam dan luar serta pengadaan kursi umat masih belum rampung.

Joni Siagian

HIDUP NO.49 2019, 8 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here