Temen Maen : Mengendalikan Dunia Bermain Anak

73
Temen Maen saat membantu pendampingan dalam kegiatan latihan dasar kepemimpinan di Sekolah Bhakti Baradatu Way Kanan, Lampung.
[Dok.Temen Maen]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Salah satu dari sekian banyak sebutan manusia adalah “homo ludens”, yaitu manusia yang bermain. Dengan bermain, manusia mengetahui siapa dirinya dan siapa temannya.

Dewasa ini, teknologi begitu mempengaruhi perkembangan diri anak dan remaja. Mereka tidak bisa lagi lepas dari teknologi itu. Buktinya, tidak sedikit anak di bawah umur yang sudah lihai mengoperasikan gadget.

Untuk itu, orangtua perlu bijaksana dalam mendampingi anak-anaknya. Dalam pendampingan itu juga, ada baiknya orangtua menanamkan makna dari setiap proses perkembangan sang buah hati.

Satu yang saat ini hilang dari dunia anak dan remaja, adalah dunia bermain mereka. Teknologi yang diwakili oleh alat telekomunikasi modern, menggantikan “dunia bermain” ini.

Temen Maen
Saat ini, sebagian kebutuhan anak dan remaja yang kurang tertangani. Namun, sebenarnya anak-anak tetap merindukan dapat bermain bersama. Hal ini diakui Thomas Sigit Irianto. Suatu kali, ia melihat antusiasme sekelompok anak saat mengikuti Ramadhan Camp. Anak-anak itu antusias, meski sebenarnya latar belakang agama mereka bukan Islam, namun Katolik. Ternyata, anak-anak ini ikut karena di lingkup agamanya sendiri tidak pernah atau jarang diadakan kegiatan semacam ini. “Waktu itu saya tanya ke mereka, kok mau ikut, mereka bilang asyik karena di sekolah atau di paroki tidak ada,” ujar Sigit.

Sigit dan istrinya, Gemma Galgani Nuniek Iswanti aktif membina anak dan remaja sejak 1996. Selama ini, keduanya mengembangkan pembinaan ini di ruang lingkungan Gereja. Pada satu titik, mereka tergerak membuat wadah untuk memfasilitasi kebutuhan anak dan remaja. Akhirnya, mereka pun membentuk satu wadah yang mereka namai Temen Maen pada tahun 2003.

Temen Maen menawarkan pendampingan dengan metode outbound. Secara tegas, Sigit mengatakan, ia bersama timnya di Temen Maen bukanlah event organizer. Ia menganggap tim ini sebagai teman bermain yang berusaha mendampingi anak-anak yang datang. “Sesuai dengan namanya, kami adalah teman yang mendampingi mereka,” tutut Sigit,

Ketika bermain, menurut Sigit, tingkah laku seseorang akan sama dengan tingkah lakunya di kehidupan sehari-hari. Dalam setiap permainan, ada bermacam tindakan. Seperti pengambilan keputusan, memecahkan masalah, merencanakan sesuatu, dan komunikasi. Tindakan-tindakan inilah yang dikembangkan dalam Temen Maen, agar terarah pada sesuatu yang positif.

Sementara itu, Nuniek melihat, bahwa setiap permainan perlu direfleksikan. Tanpa direfleksikan, maka permainan hanya akan menjadi sia-sia belaka.

Melatih Rasa
Dalam setiap pelatihan atau permainan, Temen Maen selalu menerapkan nilai-nilai rekreasional. Melalui hal ini, mereka ingin melatih setiap “rasa” dalam diri anak. Nuniek mencontohkan, dalam diri peserta didik ada beragam rasa, misalnya senang, sukacita, dan lain sebagainya. Selain itu, Temen Maen juga ingin menyentuh nilai “edukasional”. Diharapkan, dengan setiap aktivitas Temen Maen, ada perubahan dalam diri peserta didik dalam hal pola pikir. Anak akan belajar untuk mengerti, cerdas, serta berwawasan luas.

Nilai lainnya adalah “developmental”, yakni perlunya perubahan dalam diri peserta didik terkait dengan sikap, karakter, dan perbuatan. Misalnya, Nuniek mencontohan, anak-anak mampu mengembangkan perbuatan yang benar, baik, dan bijaksana. Terakhir, Temen Maen berusaha mengembangkan nilai “develop iman”. Nilai ini hendaknya diubah dalam diri peserta didik menyangkut hidup rohani yang baik, misalnya iman, pengharapan, dan kasih.

Dalam berbagai dinamika permainan ini, Temen Maen melakukan berbagai metode. “Biasanya kami menggunakan metode dinamika kelompok, proses initiative problem solving, proses pengembaraan di alam bebas, dengan membangun suasana yang mengutamakan kedisiplinan, keterbukaan, kerjasama, kejujuran, dan kegembiraan,” ungkap Sigit.

Di dalam Temen Men, anak-anak yang datang diajak untuk selalu bahagia. Sigit menjelaskan, Temen Maen menginginkan agar anak-anak yang didampingi tidak merasa takut untuk belajar dan bertindak. Dengan demikian, mereka akan menemukan makna dalam setiap permainan. Salah satu cara untuk mencapai hal ini, mereka membangun kedekatan dengan anak-anak. Saat berdinamika dengan peserta, Sigit dan Nuniek bahkan disapa “papi-mami”. “Sapaan ini mengandung makna kedekatan relasi yaitu relasi orangtua dan anak-anaknya,” ungkap Nuniek.

Membangun Manusia
Selain kegiatan dalam wujud permainan, Temen Maen juga turut andil dalam memberdayakan potensi peserta didik SMP-SMA dalam masyarakat. Misalnya, nilai yang ingin dicapai agar siswa belajar hidup di tengah masyarakat. Mereka juga diajak untuk peduli pada orang kecil.

Penanaman nilai lainnya juga menyangkut pembinaan lintas budaya, agama, sosial ekonomi, studi wisata rohani, wisata sejarah, berbagi dengan membangun koperasi, perpustakaan, pariwisata, penghijauan, bakti sosial, pelestarian budaya lokal. Peserta diajak belajar untuk bersyukur, peduli, dan semangat berbagi.

Misi khusus juga diterapkan di Temen Maen dalam membina hidup rohani lewat retret, misalnya motivasi dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir dan seleksi masuk perguruan tinggi, atau menghadapi ujian akhir.

Sigit memiliki semboyan yang terus menyemangati karya pelayanan Temen Maen. Mereka mempunyai dua moto, yaitu “Bermain tidak main-main hasilnya bukan main” dengan “Belajar itu keren”. Sigit menambahkan, dalam setiap permainan yang sungguh dipersiapkan untuk anak-anak, akan mendapatkan hasil yang tidak sederhana. Temen Maen senantiasa mengajak peserta mencintai proses belajar.

Enam belas tahun, Temen Maen berusaha hadir dan “membidani” pertama ke sekolah kemudian merambat ke paroki, seminari, dan susteran. Semakin lama, pendampingan Temen Maen tidak hanya di sekitar Pulau Jawa saja, tetapi sampai ke luar kota, beberapa di antaranya, Kalimantan dan Sumatera. Hingga saat ini, Temen Maen telah mendampingi 423 kelompok yang didampingi berjumlah 47.365 orang.

Sigit dan Nuniek sendiri berasal dari Bekasi, Jawa Barat. Menurut Sigit, seiring perjalanan, ia bekerjasama dengan beberapa orang untuk membentuk sebuah tim. “Rata-rata mereka berprofesi sebagai guru dan dari komunitas pecinta alam,” tuturnya.

Sepengalaman Sigit, beberapa orang memang tertarik turut bergabung tetapi ketika tahu non profit, mereka mengundurkan diri. “Jumlah orang disesuaikan dengan kebutuhan tetapi kebanyakan justru yang non Katolik. Sekolah-sekolah yang kami sasar juga tidak melulu dari yayasan Katolik,” ujar Sigit.

Walaupun SDM sebagai tantangan yang harus dihadapi Temen Maen, Sigit tidak putus harapan pada kariernya yang paling menyenangkan ini. Sigit yang sebelumnya arsitek, mempunyai misi tersendiri dengan adanya Temen Maen, yakni membangun manusia. Sigit dan Nuniek pun sepakat untuk menjadi “teman” anak-anak dan remaja dalam membangun cita-cita mereka.

Frater Nicolaus Heru Andrianto/Karina Chrisyantia

HIDUP NO.45 2019, 10 November 2019

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here