Hikmat-Mu Merajai Gereja

126
Penandatanganan Dokumen Abu Dhabi oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al- Tayyeb.
[Dok. Vatican News]
Hikmat-Mu Merajai Gereja
4 (80%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Hikmat Roh Kudus senantiasa mengarahkan Gereja pada kebenaran yang membawa damai bagi sesama.

Demokrasi Indonesia sebagai aset bangsa dan dunia mendapat tantangan ketika memasuki tahun 2019. Untuk pertama kalinya, pemilihan anggota legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) digelar serentak. Hari pemungutan suara itu pun ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) jatuh pada tanggal 17 April 2019.

Pesta demokrasi ini tak hanya membawa harapan besar, tetapi juga menyematkan kecemasan akibat munculnya tensi politik dari para elite politik yang sampai hingga akar rumput. Bagaimana tidak, suhu politik di Tanah Air meningkat berbarengan dengan penguatan politik identitas sejak enam bulan terakhir di tahun 2018. Kegaduhan politik ini pun mencuat hingga mengganggu sendi kesatuan bangsa dan stabilitas nasional. Puncaknya pasca pemilu, sebagian besar masyarakat yang tergabung dalam gerakan alumni 212 memberikan nada sumbang kepada pemerintah dengan menyatakan mosi tidak percaya kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) atas hasil akhir perhitungan suara pilpres di bulan Mei lalu.

Bak mercusuar bagi kapal yang sedang dalam perjalanan, Gereja Katolik Indonesia senantiasa hadir memberikan angin segar atas situasi pelik bangsa ini. Sebagai contoh dalam skala terkecil, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mencanangkan selama lima tahun penuh untuk mendalami dan membumikan nilai dari tiap sila Pancasila. Uniknya tepat saat perhelatan akbar pesta demokrasi, tahun 2019 ditetapkan sebagai Tahun Berhikmat yang berakar dari semangat sila keempat dengan tagline “Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat”. Tahun berhikmat ingin mengajak umat Katolik secara konkret untuk berani terlibat dalam menentukan pilihan, mempertimbangkan dan mengambil keputusan dalam hidup bermasyarakat sampai tercipta dialog. Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo pun menerjemahkannya sebagai kepemimpinan transfromatif yang dimulai dari perjumpaan pribadi dengan Allah dan dengan sendirinya akan mentransformasi Gereja dan negara.

Tidak hanya itu, dalam skala besar Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) turut aktif menyerukan kepada setiap umat Katolik untuk membantu kelancaran pemilu dengan rajin membangun hubungan dan dialog lintas agama serta menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab. Secara tidak langsung, Gereja ingin mengajak umat untuk bergerak bersama menghidupi semangat sinodal yang peduli terhadap Gereja dan bangsa. Hal ini seturut dengan semangat Pancasila sila keempat yang memanngil tiap pribadi untuk bermusyawarah dalam pengambilan keputusan bagi kepentingan banyak orang.

Sedangkan dalam konteks universal, hikmat itu secara konkret dapat dilihat melalui kepemimpinan Paus Fransiskus yang jelas memiliki gaya kepemimpinan transformatif. Konversi ini terlihat ketika Paus memilih tinggal di Domus Santa Marta bukan di Istana Kepausan. Dengan kata lain, Paus bertransformasi dari kepemimpinan monarkis menjadi kepemimpinan bercorak melayani. Artinya, Gereja menjadi rumah sakit lapangan tempat orang-orang yang terpinggirkan bernaung.

Hikmatnya semakin terlihat ketika Bapa Suci mengadakan kunjungan Apostolik ke Uni Emirat Arab. Dalam Konferensi Global pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi, Paus Fransiskus bersama dengan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb telah menandatangani Dokumen Tentang Persaudaraan Manusia untuk perdamaian dunia dan hidup bersama. Sekretariat Jenderal KWI menyebut Dokumen bersejarah ini sebagai peta perjalanan berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama di seluruh dunia. Sungguh hikmat Roh Kudus telah menaungi Gereja di sepanjang masa.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.52 2019, 29 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here