Mathilda Wowor : Memantulkan Kasih dan Damai

100
Mathilda Wowor.
[HIDUP/Hermina Wulohering]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dalam karya dan pelayanan, perempuan Katolik harus memantulkan kasih dan mau bekerjasama dengan siapapun.

Keberagaman suku dan agama adalah unsur penting bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Bisa menjadi pesona, keunikan dan aset, bisa pula menjadi bumerang bila tidak disikapi secara positif. Demikian diungkapkan Mathilda Agnes Maria Wowor. Dalam situasi keberagaman ini, kepemimpinan perempuan memainkan peran penting. “Perempuan dituntut dalam kepemimpinan guna mempertimbangkan posisi mereka, semakin memahami bagaimana dan mengapa mereka berada di posisi itu, serta bagaimana dapat menggunakan posisi itu untuk mengubah kepemimpinan eksklusif menjadi inklusif,” kata perempuan yang akrab disapa Hilda ini.

Menurutnya, tanpa berada di pucuk suatu lembaga pun, perempuan sudah menjadi pemimpin. Hilda berujar, dalam banyak hal yang dilakukan perempuan adalah tanpa melalui proses belajar, melahirkan, merawat anak sampai bisa berjalan, ngobrol, dan seterusnya, tidak ada try out. “Kalau tidak mempunyai nilai-nilai kepemimpinan, bagaimana bisa mengurus anak, rumah tangga?” ujarnya.

Ibu tiga putra ini memiliki perhatian yang besar terhadap isu perempuan, terutama peran perempuan dalam keberagaman. Kepemimpinan perempuan dalam kaitannya dengan peran melawan intoleransi dan radikalisme, ia tuliskan dalam buku terbarunya berjudul Melati di Taman Keberagamaan. Buku ini ia tulis berdasarkan materi dan pengalaman yang ia dapatkan ketika mengikuti sebuah kursus kepemimpinan perempuan lintas agama di Melbourne, Australia. Buku tersebut ia maksudkan untuk peningkaan kapasitas kepemimpinan perempuan Indonesia melalui keterampilan berkomunikasi dan pendekatan inklusif.

Tahun 2018, berkat perhatiannya terhadap peran perempuan dalam merawat kebhinekaan membawanya ke Negeri Kanguru mengikuti Leadership Course for Multi-Faith Women Leaders from Indonesia di Deakin University. Bersama 26 pemimpin organisasi dan perguruan tinggi berbasis agama lainnya, Hilda terpilih melalui seleksi Australia Awards Indonesia.

Awal Kiprah
Perempuan berdarah Manado ini mengawali kiprahnya sejak bergabung dengan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Dari situlah, ia mengalami perjumpaan demi perjumpaan, diskusi, dan berjejaring dengan organisasi-organisasi perempuan lain. Dari situ, ia menjadi semakin banyak mempelajari persolan kaumnya. “Interaksi dan keterlibatan yang dalam ini membuat saya merasa mempunyai tanggung jawab sosial untuk mengangkat martabat perempuan dan menekan diskriminasi terhadap perempuan,” ungkapnya saat dijumpai di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Melalui organisasi yang telah berdiri sejak 95 tahun silam ini, Hilda bertekad untuk ikut menyulam persatuan. Bertahun-tahun lalu, saat masih menjadi ketua cabang WKRI di parokinya, Kristus Raja Pejompongan, ia mulai mengupayakan kerja sama dengan RT/RW, kelurahan, juga polsek, melakukan beragam aksi sosial. Dalam aksi yang merangkul kelompok di luar Gereja itu, Hilda selalu memprioritaskan untuk anak-anak dan perempuan, misalnya terkait gizi balita, sunatan massal, dan pelatihan kepribadian bagi para asisten rumah tangga.

Meski inisiatifnya pernah mengalami penolakan, Hilda tak patah arang. Ia begitu menekankan pentingnya kerja sama terutama dengan mereka dari kelompok yang berbeda, untuk merajut Bhinneka Tunggal Ika. Ia tak menampik, bahwa masih ada rekannya yang belum menjalankan tanggung jawab kepemimpinan inklusif. “Masih banyak pemimpin perempuan yang masih eksklusif, kurang membuka diri, karena nyaman di lingkungan sendiri. Padahal, arah dasar pastoral Gereja kita meminta kita untuk tidak eksklusif, tidak hanya melayani golongan kita, tetapi melayani secara terbuka, lintas agama dan golongan,” kata mantan None Jakarta Barat 1985 ini.

Meski ikut melayani sebagai prodiakon, Hilda mengatakan, pelayanan umat Katolik harus turun dari altar. “Pelayanan di altar itu memang penting, karena kita berasal dari situ. Tetapi kita juga harus melihat bahwa spirit Kristiani itu mengasihi siapapun dengan latar belakang apapun,” tuturnya.

Hilda ingin, perempuan-perempuan Katolik saling mengisi dan bekerjasama, baik di dalam maupun di luar komunitas Gereja. Ia mengakui, kerja sama itu tak selalu mudah termasuk dalam konteks pelayanan atau kerja pro bono. Sering orang merasa lebih banyak berbuat dibandingkan yang lain. “Tapi perempuan Katolik pertama sekali harus bekerja dengan asah, asih, asuh, subsidiaritas dan solidaritas. Nilai-nilai ini yang akan membuat kita menjadi pembawa terang dan damai di manapun kita berada,” katanya.

Kerja Sama
Dengan bekerja berdasarkan kasih, kerja sama dalam pelayanan akan terasa menggembirakan, komunikasi dalam organisasi pun tak akan kusut. Menyoal komunikasi, memang bagian Hilda. Sejak meninggalkan perguruan tinggi, ia memasuki dunia kerja yang sesuai passion dan latar belakang pendidikannya.

Bekerja di mana pun dan terlibat dalam organisasi apapun, Hilda merasakan kompetensinya dalam bidang komunikasi selalu terpakai. Lebih dari 25 tahun, ia menggeluti bidang public relations di kelompok perusahaan media, multinasional dan perbankan. Kini, ia fokus dalam memberikan konsultasi dan edukasi terkait pengembangan pribadi, komunikasi perusahaan, dan kepemimpinan.

Pengalamannya di bidang komunikasi dan kepemimpinan terus dibagikan kepada kaum muda, khususnya perempuan dalam bentuk tulisan-tulisan di media cetak dan buku-buku. Ia juga diperbantukan selama tiga tahun sebagai konsultan komunikasi di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Untuk terus memperkaya wawasannya, Hilda tak pernah meninggalkan organisasi profesinya. Keaktifannya di berbagai organisasi profesi dan perempuan melengkapi kiprahnya di bidang pendidikan saat ini. Tahun 2014, ia diganjar penghargaan Indonesia Wonder Women dari Universitas Indonesia. Ini ia terima atas kontribusinya mengembangkan program tanggung jawab sosial perusahaan. Ia mengoordinasi pembangunan Lab Minibanking dan Lab Boursegame di dua fakultas berbeda.

Hilda sempat masuk dalam top 27 seleksi Komisi Penyiaran Indonesia tahun 2016-2019. Ia juga masuk top 15 seleksi Komisioner Komnas Perempuan 2020-2024. Meski dalam dua lembaga ini ia gagal di ujung seleksi, ia mengatakan, itu adalah rencana Tuhan. Saat ini, ia menjadi dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Multimedia Nusantara dan Universitas Indonesia. Selain itu, ia juga menjadi fasilitator untuk pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Latihan Kominfo, Gramedia, dan kursus Membangun Rumah Tangga Keuskupan Agung Jakarta.

Mathilda Agnes Maria Wowor

Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 22 Januari 1962
Suami : Johannes Birowo
Anak-anak :
– Fransiscus Wahyu Baskoro,
– Gregorius Andhika Bawono,
– Robertus Indrastata Baruno

Pendidikan :
– Public Relations dan Periklanan, Universitas Indonesia, lulus 1988
– Sastra Belanda, Universitas Indonesia, lulus 1985
– Magister Marketing Public Relations, London School of Public Relations, lulus 2007

Buku :
– Serambi Hati, 2012
– Bercermin Lewat Tulisan (Tentang Teknik Menulis Praktis), 2012
– Jiwa Nusantara dalam Tulisan, 2013
– 1001 Virus Cinta Keluarga (Komunikasi Keluarga & Literasi Media), 2013
– Brand Yourself, 2014
– Mengembangkan KOMPETENSI ETIS di Lingkungan Kita, 2016
– Melati di Taman Keberagaman – Praktik Kepemimpinan Inklusif di Indonesia dan Australia, 2019

Organisasi :
– Perhimpunan Bank Nasional
– Perhimpunan Humas Nasional
– Forum Komunikasi Humas Perbankan
– Ketua Bidang Pendidikan DPP WKRI, 2013-2018
– Komisi Kerasulan Keluarga KAJ
– Dewan Paroki Harian, Paroki Kristus Raja 2018-2021

Hermina Wulohering

HIDUP NO.52 2019, 29 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here