Berani Pergi ke Wilayah Pinggiran

30
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Gereja Keuskupan Agung Jakarta, bercita-cita menjadi komunitas kawanan kecil yang kreatif, menjadi persekutuan dan gerakan alternatif, memperjuangkan keadilan bagi saudara-saudari yang terpinggirkan.

Dalam Temu Pastoral para imam se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), akhir Juni dan awal Juli 2015 lalu, Kardinal Ignatius Suharyo menyampaikan butir-butir refleksi atas perumusan Arah Dasar (ArDas) KAJ 2016-2020. Terkait tahun keadilan, Kardinal Suharyo juga menyampaikan refleksinya dalam Surat Gembala Tahun Keadilan Sosial. Berikut ini beberapa butir refleksi Kardinal Suharyo:

Gereja KAJ sebagai persekutuan pelbagai persekutuan umat beriman, baik komunitas teritorial maupun kategorial. Maka, tata layanan pastoral yang hendak dikembangkan bersifat melibatkan dan memberdayakan. Dalam komunitas itu umat awam, para religius, dan klerus
saling mengakui dan menerima sebagai saudara-saudari. Namun, sesuai dengan kharisma dan panggilan masing-masing, umat beriman berpartisipasi dalam tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus secara khas.

Kaum awam dipanggil dan diutus secara khusus mewujudkan Kerajaan Allah melalui kehidupan dan tugas mereka di dunia. Para religius memberi kesaksian kasih Allah Tritunggal melalui hidup yang dibaktikan kepada-Nya. Adapun kaum klerus melaksanakan tugas dan wewenang sesuai dengan tahbisan yang diterima untuk melayani, agar semua yang termasuk umat Allah dengan bebas dan teratur bekerja sama dalam perjalanan menuju keselamatan.

Fantasi Pastoral
Sebagai persekutuan umat, Gereja KAJ tak boleh menjadi persekutuan statis dan tertutup. Ia harus menjadi gerakan yang hidup dan terbuka. Gagasan Gereja sebagai gerakan disimpulkan dari tahap kehidupan Yesus. Sesudah menjalani hidup yang
tersembunyi selama sekitar 28 tahun, Yesus memutuskan dibaptis (Mat 3:13-17). Ini adalah keputusan eksistensial Yesus yang pertama. Belajar dari ini, Gereja sebagai gerakan, hendaknya memberikan ruang yang luas bagi kreativitas pastoral atau yang disebut Paus Fransiskus sebagai fantasi pastoral.

Maka itu dalam perumusan ArDas muncul ungkapan “Gereja ke dalam, Gereja ke luar”. Ada catatan kritis tentang hal ini. Dalam dinamika beriman berkembang dinamika kontemplasi-aksi atau mistik-politik. Maksudnya, pengalaman akan
Allah mendorong kita terlibat dalam aksi, terlibat dalam kegembiraan dan harapan, keprihatinan dan kecemasan dunia. Yesus secara berkala pergi ke tempat sunyi untuk berdoa, lalu melanjutkan karya-Nya mewartakan Kerajaan Allah (bdk Mrk 1:35;
6:31). Hal ini ditemukan dalam Perayaan Ekaristi berakhir dengan seruan, “Marilah kita pergi, kita diutus.”

Bukan Proyek Karitatif
“Gereja ke luar” dengan aksi-aksi nyata menjadi semacam usaha untuk memperkenalkan Kerajaan Allah. Hanya selalu muncul kritik bahwa ArDas dilihat sebagai proyek karitatif belaka. Apakah
karya karitatif dapat “di-hanya-kan”? Apakah kita bisa begitu saja tanpa sikap kritis mengikuti jalan pikiran, “jangan beri ikan, berilah pancing?” Gereja yakin betul, tidak bisa demikian. Memberi perhatian kepada orang miskin adalah jati diri
Gereja. Bukankah Yesus memberikan roti kepada yang lapar? Kalau seandainya yang diberikan pancing, di mana orang dapat memancing kalau sungai tercemar dan tak ada ikan?

Tanpa menyangkal bahwa pemberdayaan amatlah penting, karya karitatif tak pernah boleh “di-hanyakan”. Seperti apapun kemajuan masyarakat, selalu akan ada yang miskin, yang tak bisa lain kecuali disasar dengan karya karitatif.

Penting dicatat bahwa karya karitatif jangan disebut “proyek”. Di balik kata “proyek” tersembunyi kurangnya penghargaan terhadap martabat manusia. Penegasan bersama akan membantu kita menentukan kapan mesti mengembangkan pelayanan karitatif dan kapan menawarkan pelayanan pemberdayaan.

Wajah Para Majus
ArDas telah memasuki tahun kelima. Ada satu pertanyaan imperatif terkait tahun keadilan yaitu, apa yang harus kita lakukan terwujudnya Kerajaan Allah di tengah masyarakat kita? Di tahun keadilan
ini, Gereja KAJ ingin menggerakkan seluruh umat di KAJ untuk membuka dan membangun ruang hidup bersama yang adil bagi semua orang. Tema ini memberi kesempatan kepada umat Katolik KAJ untuk menjadi sahabat Allah secara kongkret; menyebarkan kemurahan kasih Allah, dan berbela rasa kepada mereka yang rentan, terkucil, terbuang, dan martabatnya direndahkan.

Tahun Keadilan Sosial ini kita mulai pada Hari Raya Penampakan Tuhan. Harapannya, ketika kita menjadi pribadi-pribadi yang semakin adil dan ketika bangsa kita semakin sejahtera, wajah Tuhan Sang Kasih akan semakin nyata. Untuk menggali
makna Hari Raya Penampakan Tuhan ini, kita diajak merenungkan kisah orang majus dari Timur (Mat 2:1-12). Kisah ini berakhir dengan kata-kata ini, “… mereka pun pulang ke negerinya lewat jalan lain”. Menurut kisah, mereka pulang lewat jalan lain untuk menghindarkan diri dari Herodes. Tetapi secara simbolis, kata-kata itu dapat diartikan secara lain: siapa pun yang benar-benar mengalami penampakan Tuhan, artinyamengalami kasih dan kerahiman-Nya, dia tidak akan lagi hanya
menapaki jalan hidup yang sama.

Pertobatan Diri
Gereja meyakini bahwa pengalaman perjumpaan dengan Tuhan selalu mengubah dan membarui serta membuahkan sukacita (Mat 2:10). Ini berlaku baik untuk kita masing-masing sebagai pribadi,
keluarga, paroki maupun keuskupan, bahkan Gereja semesta. Itulah sebabnya Gereja semesta, dan tentu saja KAJ, berusaha untuk terus-menerus membarui diri.

Tidak keliru juga bila dikatakan tahun keadilan ini mengajak setiap umat di KAJ untuk mengalami pertobatan diri. Di KAJ, dinamika pertobatan dan pembaruan yang diharapkan terus-menerus berjalan, sejak beberapa tahun lalu kita rumuskan dalam rangkaian tiga kata ini: “Semakin beriman,
semakin bersaudara, semakin berbela rasa”. Kita ingin bertumbuh menjadi pribadi yang semakin beriman. Tanda bahwa seseorang beriman secara benar, bukan sekedar beragama – ialah kalau iman itu berbuah persaudaraan. Kalau seseorang mengaku dirinya beriman tetapi hidupnya tidak berbuah persaudaraan yang sejati, imannya bisa diberi tanda tanya besar. Selanjutnya kalau seseorang mengaku dirinya berjiwa persaudaraan,
tetapi hidupnya tidak berbuah semangat bela rasa, mutu persaudaraannya juga bisa diberi tanda tanya yang besar.

Dinamika seperti itu akan membawa kita kepada keyakinan, bahwa sebagai umat Tuhan kita semua diutus untuk melibatkan diri dalam setiap usaha untuk mewujudkan kebaikan bersama, dengan
memberi perhatian lebih kepada saudara-saudari kita yang kurang beruntung. Usaha ini mesti kita tempatkan juga dalam usaha kita untuk membarui diri dalam dinamika “Semakin Beriman, Semakin Bersaudara, Semakin Berbela Rasa.”

Mereka, Saudara Kita
Dalam rangka bertumbuh dalam semangat belarasa itu, Paus Fransiskus mendorong kita untuk berani pergi ke wilayah-wilayah pinggiran kepada saudari-saudara kita yang terpinggirkan
pada zaman kita sekarang ini. Mereka itu misalnya adalah saudari-saudara kita yang tidak mempunyai Akte Kelahiran atau Kartu Tanda Penduduk, sehingga tidak bisa memperoleh hak-hak mereka sebagai warga negara; atau yang lebih kasat mata,
saudari-saudara kita, anak-anak kita yang tinggal di jalanan, di bawah jembatan layang atau di gerobak-gerobak sampah. Mereka adalah saudari-saudara kita yang menjadi korban perdagangan manusia, dan mereka yang secara umum bisa disebut kecil, lemah, miskin dan tersingkir; mereka adalah saudari dan saudara kita, anak- anak kita yang belum menikmati keadilan sosial.

Kepada saudari-saudara kita itu, Paus Fransiskus mendorong kita untuk “bergerak keluar …mengambil langkah pertama dan terlibat … siap menemani …. dengan kesabaran dan daya tahan
kerasulan” (Sukacita Injil no 24).

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.01 2020, 5 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here